
tak berlama lama, usai mendaftarkan Felisya dan mempersiapkan segala sesuatunya, dia sudah siap meninggalkan rumah dan hidup di lingkungan baru.
Hari ini, teman teman dan keluarganya mengantar Felisya ke sekolah Asramanya. Sedari tadi dia hanya menangis dan merengek, Apalagi saat sudah bertemu sang kepala sekolah, ia enggan berpisah.
"Ibu tega..." ucapnya lirih.
Alice tersenyum, ia menarik Felisya kedalam pelukannya. "ibu hanya ingin yang terbaik untukmu Icha"
"aku benci ibu!" ucapnya sambil melepas pelukan Alice dengan kasar.
"Icha, kami akan sering mengunjungimu ke sini" sahut Shayla.
"kalian bohong! kalian hanya akan melupakanku"
melihatnya terus begitu, Reiga langsung menjentik dahinya sampai dahi Feliaya memerah.
"aww, kenapa kakak menjetikku?" ringisnya sambil mengelus dahi yang dijentik Reiga.
"kau mau menikah denganku kan?" tanyanya tiba tiba membuat mereka terkejut.
gadis itu memgangguk seperti anak kecil.
"kalau kau bertahan disini sampai lulus, kita menikah" ucap Reiga tak tanggung tanggung.
"sungguh?"
__ADS_1
"hem!"
BRUK!
dia langsung berhambur memeluknya.
"kalau begitu aku akan bertahan disini sampai lulus!" senyumnya penuh keyakinan.
setelah perpisahan itu, mereka kembali pulang, meninggalkan Felisya dengan sebuah harapan. Harapan palsu yang tentunya tidak akan Reiga tepati. Lagipula dia tidak berjanji, dan merasa yakin, kalau setelah lulus sekolah nanti, adiknya akan mengubah fikiran sempitnya dan sikap manja juga kekanak kanakannya itu.
jika tuhan tak memggagalkan rencananya, semua pasti akan berjalan baik sesuai harapan, tapi jika tuhan punya rencana laim,.Reiga tidak akan menolak rencana tuhan.
"kau tidak baik memberikan Icha harapan seperri itu!" tutur Melody saat mereka diperjalanan pulang.
"benar, dia itu adikmu kan? bagaimana kalian bisa menikah?" tanya Daren yang baru membuka suara setelah tadi berdiam diri.
"aku juga baru tau kalau Icha menyukaimu, pantas saja dia begitu sensitif" sambung Shayla.
Reiga masih tak merespon, apapun yang mereka katakan terserah saja. Ia sudah terlanjur mengambil keputusan ini.
"ngomong ngomong, kalian pacaran ya?" tanya Melody sambil melirik ke belakang, melihat mereka yang terlihat begitu serasi.
"iya, baru beberapa pekan sih!" jawab Daren terang terangan, membuat wajah Shayla merona karna malu.
Melody tersenyum, melihat mereka jadi mengingatkan kisahnya dulu. Tentang Aril, pria yang terlalu baik dan sabar, dan Alga yang dingin nan manja juga posesif, entah bagaimana keadaan Aril sekarang, mungkinkah dia sudah menikah dengan Angelica dan punya anak juga? sayang sekali, mereka hilang kontak semenjak pria itu pindah ke luar negri.
__ADS_1
"Shayla kan namamu?" tanya Melody lagi.
"i iya" jawabnya gugup.
"apa kau tidak merasa kalau kita mirip?"
Shayla mengerutkan dahinya tidak mengerti.
"ah, kurasa begitu" jawabnya mencoba mengikuti alur pembicaraan Melody.
"iya tentu saja, dulu waktu sekolah, aku juga pernah terjerat cinta segitiga, dan itu hal yang rumit kan?, aku harus memilih salah satu, tapi ujung ujungnya keduanya harus lepas dari genggamanku" jelas Melody menatap penuh kenangan.
Sementara Shayla memikirkan itu dengan serius.
"kenapa?"
"aku tidak tahu, aku tidak pernah berusaha ataupun berjuang untuk cintaku, jadi sebelum kau mengalami hal yang sama, pikirkanlah dulu"
lagi lagi Shayla berfikir serius, sesekali ia melirik ke arah Daren yang sepertinya mengerti arti tatapan itu.
"kau benar, aku akan memikirkannya lagi" ucap Shayla akhirnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1