
"iya nak? kau perlu sesuatu?"tanya Melody langsung menghampiri Reiga, menggandeng tangannya dan berlalu begitu saja tanpa mempedulikan Aldrich.
"begitulah kau meninggalkanku jika Glan kembali kedalam pelukanmu beberapa tahun silam" Aldrich berucap menahan emosinya, sesaat dia membenci Reiga. Karna semenjak kelahirannya, cintanya terbagi dalam sekejap, ah tidak, mungkin seluruhnya.
Mengapa tuhan harus menuliskan takdirnya seperti itu? seharusnya sesuatu yang mustahil tidak mungkin terjadi, dia sudah lelah berjuang untuk mendapatkan hati Melody. Namun sampai saat ini, yang dia dapatkan hanyalah sebuah pelampiasan. Jangankan untuk memiliki anak hasil benihnya, bercinta saja masih menggunakan pengaman.
"Sayang, apa kau baik baik saja?" tanya Alice baru saja datang bekerja, dia menyimpan tasnya dan melepas sepatu, lalu menghampiri Aldrich yang masih diam mematung.
Aldric melirik, menatap Alice dengan tajam,, seperti hendak memakannya.
"a apa ada masalah?" tanyanya gugup dan mulai ketakutan, dia tidak pernah melihat Aldrich dengan wajah mengerikan ini.
Tap!
Aldrich mulai mendekat, mengulurkan tangannya membelai lembut rambut panjang Alice, membuat wanita itu menatapnya dengan tanda tanya besar, namun dia dapat mengerti kalau Aldrich menginginkan sesuatu darinya.
pria itu menarik nafasnya dalam, memajukan wajahnya dan Hap...
Aldrich mulai Menciumnya dengan brutal, melampiaskan hasratnya pada Alice. nafsu birahi, kekecewaan, rasa benci dan pelampiasan menyatu dalam dirinya, dia melakukannya dengan kasar, bahkan tak mendengarkan jeritan Alice yang justru merasa kesakitan.
...****************...
__ADS_1
Sementara itu, dikamar Reiga, mereka telah menikmati momen hangat antara ibu dan anak. Reiga berbaring dipaha Melody, sedangkan Melody mengelus ngelus rambutnya penuh sayang.
"kenapa kau ingin tidur di pangkuan mama?" tanya Melody tak menghentikan aksinya.
"rasanya sudah lama tidak merasakan sentuhanmu, aku merindukannya" jawab Reiga membuat Melody tertegun. Ini benar Alga adanya, Melody tidak perlu lagi merindukan Glan, melihat Reiga saja itu sudah menjadi kebahagiaan terbesar baginya.
"ma, boleh aku bertanya?"
"tentang apa?"
"apa mama mengenal ayah tirinya Daren?" Glan memulai keingintahuannya.
"tadi itu aneh, aku pergi ke rumah Daren untuk kerja kelompok, ayahnya datang, tiba tiba memeluku dengan erat dan bertanya bagaimana aku bisa terlahir kembali dengam karakter yang sama, aku tidak mengerti maksudnya" jelas Reiga.
Mungkin Reiga dingin dan pendiam, tapi semua itu tidak berlaku dihadapan Melody, dia akan manja, cerewet, dan terus bertanya.
"mama ko diam?" tanya Reiga setelah beberapa saat karna Melody tak kunjung menjawab, bahkan dia menghentikan elusan rambutnya.
Clak!
Tiba tiba saja setetes air mata jatuh mengenai dahi Reiga, dia langsung mendongak, dan melihat Melody yang sudah berlinang air mata.
__ADS_1
"mama baik baik saja? kenapa mama menangis?" tanyanya sambil menghapus air mata Melody dengan lembut.
"apa ayahnya Daren bernama Gray?"
Reiga menggelang. "aku tidak tahu, tapi aku menyuruhnya datang ke sini kalau ingin menanyakan sesuatu, aku sudah memberinya alamat rumah ini"
"ada baiknya jika dia datang, karna kau akan segera tahu siapa itu ayahmu!"
Reiga mengerutkan alisnya, baginya ini rumit, sama sekali tidak memgerti apapun, namun dia memutuskan untuk diam dan memeluk Melody untuk menenangkannya.
"maaf kalau aku membuatmu menangis Ma, bukan begini maksudku" ucapnya merasa bersalah.
"tidak nak, ini bukan salahmu!"senyumnya lalu membalas pelukan Reiga, pelukan hangat Alga yang sekarang bisa ia dapatkan kapanpun.
...----------------...
......................
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1