
Reiga pulang ke rumah, bermaksud untuk mengambil barang barangnya, ia harus tau diri sebelum Aldrich mengusirnya lagi.
"jangan lupakan mama" ucap Melody datang menghampirinya. Ia sudah membawa sebuah koper besar.
"maaf Ma, karna diriku Mama harus mengalami ini" Ia benar benar tak tega. Ingin meninggalkannya di sini, tapi ia sudah verjanji untuk tetap bersamanya.
"apapun itu, asal Mama bisa bersamamu" senyumnya.
Mereka berdua menyeret koper seperti orang terusir, Bahkan Alice yang melihat itu terdiam tak bicara apapun.
Sampai Melody datang menghampirinya dan meraih tubuh Alice ke dalam pelukannya, ia sudah banyak menangis, dan Melody tahu, kehilangan orang yang paling di cintai itu sangat menyakitkan.
"aku tau, kehadiranku sangat mengganggumu, harusnya aku ada untukmu dalam kondisi ini, tapi, aku minta maaf" ucapnya dari hati yang paling dalam.
hingga Melody melepas pelukannya, Alice masih diam dengan tatapan kosong.
"ibu.." panggil Reiga bermaksud untuk meraih dua tangannya. Namun Alice segera mundur beberapa langkah.
"jangan sentuh aku dengan tangan kotormu itu"
Oke, Reiga mengurungkan niatnya,menarik tangannya kembaki dan siap di ceramahi.
"maafkan aku" ucapnya pelan.
"aku akan memaafkanmu kalau kau bisa mengembalikan Icha" begitu sengkat, jelas, dan mustahil.
"kembalikan dia padaku, apa kau bisa?" tanya suara yang terdengar menuntut itu.
"tapi itu Mustahil"
"bukannya kelahiranmu juga mustahil?"
__ADS_1
Hening!
Tak bisa menjawab.
"kalau tidak bisa mengembalikannya, tolong pergi dari sini" usirnya.
Alice memang menginginkan ini sejak lama, tapi bukan kematian Felisya yang menjadi alasan untuk mereka pergi. Dia sama sekali tak menginginkan ini.
Dengan berat hati Reiga kembali melangkahkan kakinya, namun di depan pintu, sudah ada Aldrich yang diam mematung menatap keduanya.
"hanya dia yang harus pergi, kenapa kau mengemas barangmu juga?" tanya Aldrich pada Melody, ia berjalan menghampiri mereka dan melepas genggaman tangan mereka.
"tapi dia putraku"
"dia putramu, bukan putraku!"
Memang, memang kenyataannya begitu, dia tidak salah kok.
Aldrich menatapnya semakin tajam, hampir membuat nyali Melody menciut, tapi hati seorang ibu membuat keberaniannya tumbuh kembali.
"jangan membantahku Melody, kau tidak ingat janji yang pernah kita ucapjan malam itu, apapun yang terjadi kita akan selalu bersama, kau tidak akan meninggalkanku karna kau tahu kalau aku tidak bisa tanpamu, apa kau ingat?"
Ah benar, janji, kebodohan dalam hidupnya terjadi lagi karna pria itu. kelemahannya adalah janji, tapi dengan mudahnya ia berucap janji.
"maaf Aldrich, mungkin untuk sementara, aku akan mengingkari janjiku, sampai kau menerima kembali Reiga sebagai putramu"
"tidak akan pernah!" ia memalingkan wajahnya angkuh.
Reiga muak mendengarnya, dia pergi sebelum ucapan pria itu semakin dalam.
"kalau begitu, aku akan mengingkari janjiku untuk selamanya, maaf sudah di kelabui wanita jahat sepertiku" usai menyelesaikan kalimatnya Melody pergi menyusul Reiga.
__ADS_1
Semua terlanjur kacau, tak ada rencana untuk menuliskan takdir baru, biarkan saja kertas itu kosong tak berisi apapun, biar tuhan yang mengisinya langsung.
...****************...
Sebenarnya, jarak dari rumah mereka ke rumah Alisya itu tidak terlalu jauh, tidak sampai memakan waktu berhari hari ataupun berminggu minggu, kurang lebih hanya 30 menit saja. Tapi kenapa Aldrich selalu saja berlebihan, seolah Melody akan pergi keluar negri, keluarnya lagi.
mereka berpisah sementara hanya untuk menenangkan fikiran masing masing, bukan berpisah untuk memutuskan hubungan.
Tiba di kediaman Alisya, di sana ada seorang kakek yang sedang menyapu halaman luas di depan rumah itu.
Dengan ragu, Melody menghampiri si kakek dan menyapanya. "halo kek, saya Melody, sa-"
Belum sempat Melody menyelesaikan kalimatnya, kakek langsung memotong.
"oh nyonya Melody, silahkan masuk!, tadi Nyonya Alisya menelpon saya dan mengabari kalau Nyonya akan tinggal disini, mari saya bawakan" ucapnya bermaksud membawa koper Melody masuk.
"ah tidak tidak kek, ini berat, biar saya saja" tolak Melody merasa tak tega melihat usianya yang sudah rentan bisa membawa koper seberat ini.
"tapi, kakek ini siapa?" Tanya Melody lagi.
kakek menjelaskan, kalau dia tinggal di rumah iini sejak kepergian Alisya, kakek itu tidak memiliki rumah, sehingga dia diperbolehkan tinggal di sini untuk menjaga rumah dan mengurus kebun kecil dibelakang rumahnya. Dan untuk kelangsungan hidupnya, Kakek bisa mengelola kebun sayur dan buah seperti yang pernah Melody lakukan dulu saat bersamanya.
"Mulai sekarang kita akan tinggal bersama, kakek tidak akan sendirian lagi, kami akan membantu kakek" senyum Melody membuat kakek tersenyum senang, memamerkan giginya yang tinggal beberapa.
Semoga, keluarga baru akan tercipta lagi diantara merrka...
......................
...****************...
...----------------...
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...