
sebentar lagi senja akan menghilang, namun Reiga dan Nagisa masih belum pulang, membuat Melody dan kakek jadi khawatir.
"kakek mau kemana?" tanya Melody saat melihat kakek hendak pergi.
"mencari Nagisa Nyonya, tidak biasanya ia pulang selarut ini"
"ah biar saya saja kek, pasti Nagisa bersama Reiga, saya akan menelponnya dulu"
Melody masuk ke kamarnya untuk mengambil ponsel, sambil menuruni anak tangga, matanya fokus mencari nama kontak Reiga, dan tentu saja kakinya tergelincir dan Melody jatuh menimpa beberapa tangga yang belum dilaluinya.
Bruk!
"aww!"
"Melody!" tiba tiba seseorang berteriak dan langsung berlari menghampirinya.
Aldrich!
Pria itu baru saja masuk dan menerobos rumah ini.
dia segera menggendong Melody dan kembali membawanya ke kamar, lalu membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
"kau baik baik saja? Dimana yang sakit? Katakan padaku!" Aldrich memeriksa bagian tubuh Melody, mulai dari mata, hidung, bibir, sampai bagian bawah tubuhnya yang tak penting ia geledah. dasar mesum!
Tok!
Melody menggetok kepalanya sedikit keras.
"Aldrich jangan berlebihan! Aku tidak apa apa"
"tidak apa apa bagaimana? Kau jatuh dari tangga Melody" serunya masih khawatir. tangannya masih menyingkap nyingkap pakaian Melody untuk memastikan jika tak ada luka di sana. Merayap ke atas dada Melody dan berhenti di bibirnya, hingga tatapan mereka bertemu.
Saling tatap penuh makna, mata Aldrich berkaca kaca saat melihat matanya yang masih secerah langit, dan akhirnya wajah tampan itu jatuh terbenam dalam tengkuk Melody, di raihnya pinggang sang istri dan memeluknya erat.
"Melody, aku merindukanmu, Ayo pulang bersamaku!" rengeknya sambil menggesek gesekan wajahnya di tengkuk Melody.
"aku akan pulang, kalau kau bisa menerima kehadiran kami lagi di rumahmu"
Pelukan itu semakin erat, bagai lem super yang merekat kuat. "tidak bisa, aku tidak ingin dia, aku tidak mau dia mengambilmu lagi dariku, kau sudah menjadi milikku, hanya milikku"
"maka jawabanku tidak akan berubah"
__ADS_1
...--------SKIP--------...
Reiga yang baru saja pulang di sambut lega oleh sang kakek, karna cucunya ada dalam gendongannya.
"Kakeek!" ucapnya langsung turun dari gendongan Reiga dan berlari memeluk kakeknya itu.
"kakek jangan marah, aku pulang malam karna Dia! Jadi marahi saja dia"
Kakek menggeleng gelengkan kepalanya, faham betul dengan karakter cucunya yang senang sekali beralibi. "pergi dan mandi!" tegasnya.
Dengan perasaan takut, Nagisa langsung pergi untuk mandi, sementara Reiga sudah membungkuk meminta maaf.
"maaf, aku membawanya pergi tanpa izin kakek"
"tidak apa apa, kakek senang melihatnya, kalau ajal sudah menjemput kakek nanti, tolong jaga Nagisa dengan baik nak, kakek yakin kamu bisa menjaganya" amanat kakek begitu berharap.
Reiga mengernyit, apa wajahnya itu memang cocok sekali untuk di titipkan nyawa seseorang, Ayolah, Reiga bukan malaikat, tapi kenapa setiap orang begitu percaya padanya?
"aku akan berusaha!" ucapnya langsung saja pergi, berniat untuk mandi juga.
Tapi niatnya terhenti saat melihat Nagisa yang sudah menyampaikan handuk di pundaknya itu sedang mengintip di celah pintu kamar Melody yang sedikit terbuka.
Mulut kecilnya terbuka lebar, matanya melotot, entah apa yang dilihatnya. membuat Reiga penasaran dan ikut mengintip.
astaga!
Cepat cepat Reiga memangku tubuh Nagisa dan membawanya jauh dari kamar Melody.
"kenapa kakak membawaku kemari? Aku belum selesai melihat ibu pergi berciuman" ucapnya polos.
Reiga menatapnya tak percaya, apa katanya tadi? Berciuman? Anak sekecil itu tau berciuman? Anak itu benar benar...
"itu tidak baik untukmu"
"aku sering melihatnya kok"
"dimana?"
"di jalan, di tv, orang orang bebas berciuman, dimana saja"
Peletak!
__ADS_1
Reiga menyentil bibirnya refleks, entah kenapa, ini benar benar kebiasaannya.
"Huwaa...!" teriak Nagisa langsung saja menangis, bibirnya berkedut, terasa ada semut yang merayap rayap di bibirnya.
Dan ya, tentu Reiga panik, ia terlalu keras menjentik bibir kecil yang tipis itu, kembali di gendongnya tubuh Nagisa. Mendudukannya dipangkuan Reiga dan mengelus ngelus bibirnya.
"berhenti menangis!"
"huwaa!" tangisnya makin kuat.
"berhenti, kalau tidak aku akan menjentikmu lebih keras!"
Senyap!
Nagisa menutup rapat bibirnya, berusaha keras untuk tidak menangis, ekspresi wajah yang lucu, malah membuat Reiga tertawa, tertawa lepas, tertawa yang baru dilakukannya selama seumur hidup.
"maaf ya!" mood nya membaik, ia jadi lebih lembut, sebagai gantinya Reiga kecup bibir kecil itu dengan gemas.
lagi lagi gadis itu berbuat lucu, ia menutup bibirnya dengan kedua tangannya.
"apa yang kakak lakukan? Kita baru saja berciuman!" mata boneka itu melotot.
"bukan ciuman, tapi kecupan!"
"apa bedanya?"
"kalau kecupan itu seperti ini!"
Cup!
Secepat kilat Reiga kembali mengecup bibirnya.
"kalau ciuman?"
"seperti yang ibu peri lakukan tadi, tapi kau jangan menirunya, kau bisa lakukan itu setelah menikah nanti, mengerti?"
Nagisa hanya mengangguk pelan walau tidak mengerti seluruhnya.
......................
...****************...
__ADS_1
...----------------...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...