Don'T Forget Me 2

Don'T Forget Me 2
34. Mempercayai hal mustahil


__ADS_3

ini terlalu pagi untuk bertamu ke rumah siapapun, tapi tidak bagi orang yang sungguh sangat berkepentingan.


Seperti Angelica dan Resya, yang pagi ini sudah berdiri di depan rumah Gray. Bahkan Matahari pun belum menampakan wujudnya di permukaan.


"ketuk saja!" titah Angelica geram karna sudah hampir setengah jam Resya ragu ragu untuk mengetuk pintu ataupun memencet bel rumah.


"aku benar benar takut"


"kalau begitu kita pulang saja, percuma kalau kedatanganmu ke sini hanya untuk berdiri di depan pintu"


Resya mendengus. "hish, bukannya berusaha menenangkanku malah membuatku tambah gelisah"


Cekrek!


Perdebatan terhenti saat pintu tiba tiba terbuka, menampakan Gray dengan celana pendek dan kaus polosnya, serta membawa barbel kecil, sepertinya dia berniat untuk olahraga pagi ini.


"Resya?" tanyanya langsung mengenali wajah cantik itu.


"kakak!"


Suara itu, tidak pernah berubah. Gray tersenyum dan langsung menyambutnya dengan sebuah pelukan.


"kenapa kau masih terlihat seperti gadis SMA?" guraunya karna tak sedikitpun melihat perubahannya secara fisik, masih Resya dengan rambut lurus sebahu, bulu mata lentik, wajah cantik natural, mungkin sekarang hanya tingginya yang bertambah dan ada kerutan di sudut matanya kala ia tersenyum. Ah setidaknya dia tahu, kalau Resya sangat sering tersenyum selama ia tidak melihatnya.


"apa kau baik baik saja? Maaf aku tidak begitu peduli padamu selama ini" ucap Gray menyadari sesuatu.


Resya melepas pelukannya dan menggelang. "lupakan saja, itu cinta di masa lalu, sekarang aku sudah berkeluarga"


Gray tersenyum kembali, senang mendengarnya.


"ekhm, permisi, aku orang penting di disini, ingin menyampaikan sesuatu" dehem Angelica merasa tak diakui keberadaannya.


"oh begitu, maaf aku tidak tahu!" cengirnya baru menyadari keberadaan Angelica.

__ADS_1


"dasar aneh, aku hanya ingin menyampaikan pesan dari Amira"


Mendengar namanya, Gray langsung menatap serius.


"kau siapa?"


"aku temannya Amira, dia sekarang bekerja di luar negri, dan seminggu sebelum kepergiannya dia menitipkan ini padaku!" Angelica membuka tasnya san mengeluarkan sepucuk surat, lalu di berikan pada Gray.


"dan yah, dia juga bilang kalau kalian jangan pernah menunggunya kembali, itu saja!" lanjutnya.


Gray menerima surat itu dengan tatapan kosongnya, wajahnya berubah datar. Tapi secepat kilat ia menyembunyikan kesedihan itu dengan senyuman terbaiknya.


"terima kasih!"


"aku sudah selesai, aku pergi duluan" pamitnya pergi begitu saja.


"kau tidak mau menemui Melody?" tanya Resya.


Angelica menghentikan langkahnya dan memasang wajah angkuh. "tidak penting, pekerjaanku lebig berguna di banding ja lang itu!"


"ya ya, terserah saja!" teriaknya kini sudah melangkah jauh.


"siapa gadis berwajah psikopat itu?" tanya Gray merasa aneh melihat tingkahnya


"dia temanku, oh ya, apa kau bisa menemaniku untuk menemui Melody?"


Baru Saja Gray akan menyetujuinya, namun ia menahan kalimatnya saat seseorang memanggilnya di belakang.


"ayah, kami sudah siap" sahut Daren sudah memakai kaos olahraganya, di ikuti oleh Reiga yang juga siap, namun wajahnya terlihat masih sangat mengantuk.


"oh ada tamu ya, kenapa ayah tidak mengajaknya masuk?" tanya Daren begitu menyadari kalau ada seorang wanita yang tengah mengobrol dengan ayahnya.


"Ayah lupa" cengirnya seperti orang bodoh.

__ADS_1


"ayah ini bagaimana sih" denguanya pelan


"silahkan masuk tante!" senyum Daren ramah.


Namun Resya keburu terpaku saat melihat Reiga, dia seperti melihat Glan di masa lalu, matanya tak mau berkedip sekalipun. Dan tanpa sadar ia berjalan ke arahnya dan tiba dihadapan Reiga hampir tanpa jarak.


Reiga yang masih mengantuk dan tidak mengerti apa apa itu balas menatap Resya dengan tatapan datar. Bahkan dia hanya diam saat wanita itu menyentuh pipinya.


"Glan!" kata itu sukses keluar dari mulut Resya.


"bukan!" elak Reiga merasa tak nyaman kalau lagi lagi ada orang yang menyebutkan nama ayahnya, kalau memang wajah mereka mirip kenapa? Lagipula Reiga tidak mengenal seperti apa sosok ayahnya itu, meskipun dia tahu kalau sosok ayahnya ada pada dirinya.


Resya tersenyum dengan air mata terbendung, dia menempelkan telinganya di dada Reiga hanya sekedar untuk mendengar detak jantungnya.


"irama jantung yang sama, apa ini benar benar kau?" tanyanya tidak percaya.


Reiga terdiam, dia merasa aneh karna selalu dipertemukan dengan masa lalu Melody, apa sekarang dia benar benar harus mengetahui semuanya?


"dia bukan Glan, dia Reiga, anak dari Melody dan Glan" jelas Gray.


Sontak, Resya mundur beberapa langkah karna terkejut.


"kapan?"


"lima tahun saat dia menjajikan untuk pulang dari Amerika"


"Apa?" Resya kembali di buat bingung. "tapi bukankah 5 tahun itu Glan sudah meninggal?, maksudnya bagaimana kak? Dia datang sebagai hantu?"


Gray menggelang pelan. "entahlah, tidak ada yang mengerti kisah cinta mereka, peecaya atau tidak kau harus menerima kenyataan ini"


...-----------SKIP------------...


...-------------------...

__ADS_1


...------------...


__ADS_2