
Kini saatnya pulang, mereka berpamitan pada Shayla dan neneknya.
"sampai jumpa besok!" Daren melambaikan tangan dan masuk ke mobil Reiga, ya, dia selalu ingin tumpangan gratis, bawa mobil sendiri katanya jenuh dan tidak ada teman mengobrol.
Setelah mengantarkan Daren sampai ke depan rumahnya, mereka berdua tak lagi bicara. Reiga fokus menyetir dan Felisya hanya diam dengan fikirannya.
yah, tentang kejadian pagi itu, mereka masih belum akur, hanya terlihat akrab di depan teman temannya saja.
"ekhm!" Reiga mendehem pelan mencairkan suasana.
"sudah tidak diragukan lagi, kakak tidak akan berusaha untuk membujukku, itu yang aku benci darimu, kakak harus tahu, kesalahan apapun yang kakak lakukan, kalau kakak berusaha untuk mendapatkan maaf dari orang lain, khususnya dariku. tentu itu akan dimaafkan.." jelas Felisya terlihat serius.
"bukankah sudah ku lakukan?" tanya Reiga mengingat kalau dia sudah minta maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.
Dia saja yang tidak mau mendengarkan, wanita memang aneh!
"wanita selalu ingin diperlakukan lembut oleh pria!" nada suaranya mulai naik
"aku melakukannya!" Ucapnya masih terlihat datar.
"apa?"
"aku memelukmu, menciumu, membelai rambutmu saat kau tidur, dan selalu menuruti semua yang kau mau!"
Seketika Gadis itu tak bisa menjawab, namun setelah beberapa saat dia beralibi.
"itukan aku yang memintanya, kakak tidak akan melakukan itu kalau aku tidak memintanya!"
__ADS_1
kali ini Reiga yang diam, dia tahu dua aturan wanita, yang pertama, wanita tidak pernah salah, yang kedua, jika wanita salah maka kembali ke aturan pertama.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
sesampainya di rumah, Felisya masuk duluan dan buru buru masuk kamarnya.
"Rei, kau sudah pulang? kemari! temani ibu!" sahut Alice yang duduk santai di sofa, ia menepuk sofa sebelahnya agar Reiga duduk disebelahnya.
Reiga menghampirinya dan duduk disamping Alice. "ibu tidak bekerja?"
"sudah selesai, hari ini pekerjaannya tidak banyak!"
Reiga mengangguk, menunggu apa yang akan dikatakan Alice selanjutnya.
"apa hubungan Melody dan Aldrich sudah membaik?"
Alice tersenyum lalu menepuk pundak Reiga, menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"bagus kalau begitu, aku senang mendengarnya" senyumnya semakin lebar, entah ada apa dengannya, ini pertama kali mereka berbicara seperti itu.
"ibu menangis?" Reiga menyadari sesuatu, dia baru menyadari kalau mata dan hidungnya memerah.
"tidak, tadi ibu habis masak dan memotong bawang" bohongnya.
"tidak ada salahnya jika ibu bercerita padaku!" Reiga menghapus sisa air mata disudut matanya. Berharap ibu tirinya mau terbuka padanya
mendapat perlakuan lembutnya semakin membuat Alice terisak, tak bisa menyembunyikan perasaannya.
__ADS_1
"aku hanya ingin dicintai..." ucapnya lirih.
"itu sudah terjadi!"
Alice menggelang pelan. "tidak, Suamiku baik padaku hanya karna aku bisa menerima keberadaan Melody, dia tidak pernah mencintaiku...dia mengatakan cinta palsunya padaku dan hanya mencintai Melody.."
Apakah cinta dalam keluarga ini masih berlaku? Reiga tidak mengerti bagaimana mulanya mereka bisa menikah, sedangkan dikeluarga ini semuanya bersikap egois. Lalu, tidak ada masalah apapun selama beberapa tahun ini, mungkin karna Reiga belum dewasa waktu itu dan tak memahaminya.
"aku akan bicara pada ayah!" Reiga beranjak, namun tangannya langsung diraih Alice.
"tidak ada gunanya, Aldrich keras kepala dan selalu berbuat sesukanya!" cegahnya
ya, persisi seperti anak kandungnya!
"aku tetap akan mencobanya!" ucapnya bersikeras.
"mereka sedang tidak ada dirumah, sedang berkunjung ke rumah Alisya!"
"aku akan kesana!" Reiga pergi tanpa mempedulikan Alice yang mencegahnya agar dia menunggu saja kepulangan mereka.
Namun sebelum pergi, ia ke kamar Felisya untuk menemuinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...****************...
...----------------...
__ADS_1