
Reiga tahu jika sekolahan akan sangat sepi kalau dia berangkat sekolah sepagi ini. Karna itu rumah Daren menjadi tujuan utamanya.
anak dan ayah yang selalu giat, mereka terlihat sangat akur dan begitu dekat. Apalagi momen yang di lihat Reiga saat ini membuat dia tersenyum haru.
Bagaimana keduanya tengah memakai sepatu bersama dan bermain teka teki, entah apa yang Gray katakan, dia membuat Daren tertawa hanya karna dia menggoyang goyangkan ibu jari kakinya di balik kaus kaki yang bolong.
Begitu selesai memakai sepatu mereka saling berangkulan, Gray pergi setelah berpamitan pada anak tirinya itu.
Melihat Gray sudah pergi, Reiga langsung saja berjalan menghampiri Daren yang secepat kilat air mukanya berubah jadi keruh.
"kenapa?" tanyanya merasa heran karna beberapa detik yang lalu wajah itu sangatlah ceria.
Tanpa bicara, Daren mengeluarkan selembar kertas dan di berikan pada Reiga agar dibacanya.
Surat itu berisi satu kalimat pendek.
...Terima kasih sudah menjaga putraku, jika kau ingin menikah lagi, maka menikahlah, aku tidak keberatan, karna aku tidak akan pernah kembali, jadi jangan menungguku pulang, titip salam untuk Daren, katakan aku menyayanginya....
"keterlaluan!" satu kata yang keluar dari mulut Reiga membuat Daren hanya mendengus.
"bisa tukar ibumu dengan ibuku saja?"
__ADS_1
Jelas Reiga menolak, Melody hanya satu dan itu untuknya.
"kau sangat beruntung punya dua ibu, jaga mereka dengan baik" Daren menepuk nepuk pundak Reiga dengan senyum kecut.
"ya" jawabnya singkat, raut wajahnya itu seolah tidak peduli dengan kesedihan Daren. Tapi percayalah, dalam hatinya ia bisa merasakan hal yang sama.
...-----------SKIP------------...
Hari ini tak ada yang menarik di sekolah, semua terasa membosankan, dan gerah hati karna harus melihat sepasang kekasih yang sedang di mabuk cinta ini.
Mungkin jika Felisya ada, Reiga lebih baik main petak umpet saja dengannya dan mendengarkan ocehan gadis itu. daripada harus menyaksikan dua orang saling suap suapan di depannya saat ini.
Karna kesal diapun menunda sendok dan garpu dengan kasar, jam istirahat kali ini membuatnya jadi tidak lapar.
Reiga mendelik tajam, "bukan urusanmu"
"aku rasa kau memang suka padanya, padahal dia belum sebulan jauh darimu, tapi kau sudah tidak ada semangat untuk hidup" Daren semakin menggodanya.
"emm, dari gelagatnya sih begitu, Kau tidak bisa jauh dari adikmu" Shayla ikut berkomentar.
apa iya?
__ADS_1
Reiga bertanya dalam hatinya, apa benar dia mulai mencintai Felisya? Apa itu mungkin?
"aku tidak mungkin suka padanya" elaknya sambil menatap Shayla tajam, tak suka jika gadis yang di sukainya mendukung dia untuk menyukai gadis lain meskipun itu adik tirinya.
"kenapa kau harus marah?" tanya Shayla tidak mengerti.
Reiga hanya diam dengan alis yang bertaut tajam, menandakan kalau dia masih menahan amarahnya.
"aku mencoba untuk tidak goyah karna dirimu" ucap Shayla begitu pelan, sangat pelan, bahkan tak bisa di dengar oleh keduanya karna keadaan kantin begitu riuh.
Tanpa sepatah kata pun, Reiga memutuskan untuk pergi.
"mau kemana?" teriak Daren.
"menjaga perasaanku!" Sahut Reiga balas berteriak.
Mereka berdua termenung cukup lama, namun setelahnya dapat mengerti, kalau Reiga sedang cemburu, dan cemburu itu rasanya agak menyakitkan, karna itu dia pergi sebelum hatinya mulai terbakar.
......................
...****************...
__ADS_1
...----------------...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...