
Satu minggu kemudian...
waktu tidak pernah berhenti berjalan, lama lama memudarkan luka di hati, meski butuh waktu lama, Reiga berusaha untuk tetap tegar.
walau pagi ini dia bangun agak kesiangan, ia tetap bersikap tenang, ia menyampaikan handuk di pundak, dan masuk ke kamar mandi dengan santai.
"Aaaaaaa!" jerit Nagisa begitu pintu kamar mandi terbuka, memperlihatkan gadis kecil yang sedang menggosok tubuhnya dengan sabun.
"Pergi pergi pergi, kenapa kakak masuk begitu saja,?" teriaknya sambil menangis karna malu.
Reiga mengernyit, itu salahnya, kenapa tidak mengunci pintu?
"jangan berteriak, nanti pita suaramu putus" ucap Reiga sambil menutup telinga, ia tidak bereaksi berlebihan, lagipula Nagisa hanya bocah kecil, sepertinya baru berusia sekitar 5 tahun.
"kenapa kakak masih berdiri di situ? Cepat keluar!" usirnya dengan suara yang begitu melengking.
Reiga tak menggubris, justru dia melepas pakaiannya dan melanjutkan mandi. Tak peduli dengan Nagisa yang kerjaannya terus nyerocos seperti burung beo. sampai akhirnya gadis kecil itu berdiri di pojokan sambil menutup mata.
Bertindak seolah dia gadis yang sudah dewasa, padahal Reiga tidak melepas pakaian dalamnya.
"hey lihat!" panggil Reiga entah kenapa ingin bermain main, padahal ia sudah telat.
Reiga membuat balon dari busa sabun yang dipakainya, Jelas itu membuat Nagisa tertarik, dia jadi lupa kalau dirinya sedang marah. Mereka pun bermain sabun dan air cukup lama di kamar mandi.
Setelah berlama lama, mereka keluar dari kamar mandi, bersiap bersama sama, Reiga sudah seperti duda beranak satu, ia membantu Nagisa merapikan seragamnya, dan mengikat rambutnya.
"aku cantik kan?" tanyanya penuh percaya diri saat Reiga memberinya bedak tabur pada wajah manis itu.
__ADS_1
"jelek!" ledek Reiga datar tanpa ekspresi.
Puk!
Nagisa langsung menangkup pipi Reiga dengan kedua tangan kecilnya, menangkup kuat, sampai bibir Reiga mengerucut dan tertekan.
"aku cantik, aku anak paling cantik di seluruh dunia, titik!" ucapnya menegaskan.
"mmm" sahutnya malas.
Mungkin hari ini, dan seterusnya mereka akan dekat, semua di percepat oleh waktu
...--------SKIP--------...
Nagisa baru kelas 1 SD, sejak kehadiran mereka di rumah ini, Reiga jadi pergi mengantarnya ke sekolah tiap hari, dan akan di jemput Melody siang nanti. Yah, setidaknya itu meringankan sedikit beban kakek.
"kenapa kau berbeda dari ibumu?" tanya Nagisa saat mereka dalam perjalanan menuju sekolah.
"oh, ayah kakak juga tampan seperti kakak ya?"
Reiga terkekeh, bocah sepertinya sudah tahu definisi tampan.
"kakak gendong aku!" pintanya mulai merengek.
"aku bukan kakakmu!" Reiga menolak pahit.
Nagisa cemberut, ia langsung terduduk di jalanan dan melipat tangannya di dada. "aku tidak mau sekolah!"
__ADS_1
Reiga mengacak rambutnya frustasi, kenapa perempuan senang sekali di manja? Apa karna dia memberinya perhatian lebih sehingga membuat mereka terlalu nyaman dan mulai menguji kesabarannya?
"Isa...sekolah sudah dekat" ucapnya lembut, Nagisa anak kecil, Dia tidak boleh memarahinya atau menjutekinya, bisa bisa mentalnya berubah nanti.
"karna itu gendong aku!"
astaga!
Tanpa bicara lagi, Reiga langsung berjongkok dihadapannya, memberikan punggungnya untuk Nagisa yang langsung di dekap gadis itu.
Sesampainya di gerbang sekolah, Reiga menurunkan Nagisa dan mengucapkan salam perpisahan.
"kakak!" panggilnya saat Reiga sudah melangkah agak jauh.
Langkah itupun terpaksa berhenti dan menoleh, melihat Nagisa yang melambaikan tangan kecilnya sambil tersenyum lebar.
"aku sayang padamu!" teriaknya.
Reiga terpaku di tempatnya, senyum itu, sikap itu, dan kata itu, nada suaranya, kenapa harus terlihat seperti Felisya?
Mengingat pelukan yang sempat tertunda itu, kali ini Reiga berlari untuk memeluk Nagisa duluan, tubuh mungil yang ia dekap begitu erat. Penuh rasa takut kehilangan.
"jaga dirimu!"
......................
...****************...
__ADS_1
...----------------...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...