
Aku jatuh cinta kak, kakak cinta pertamaku!
ucapan itu terus saja berputar di otaknya, tak bisa lupa sama sekali. Seperti candu dengan suaranya yang terdengar manja dan menggemaskan.
Namun Reiga dapat mengerti, kalau dia tidak akan pernah bisa menganggap Felisya serius. meski usianya akan menginjak tujuh belas tahun, ia tetap menganggapnya seperti bocah lulusan TK.
dia juga tidak bisa membenarkan pemikirannya tadi, untuk tidak menyalahkan cinta karna kedatangannya tidak tepat.
Ini benar benar harus diperbaiki. tidak boleh seperti ini...
Drrt!
Drrt!
Reiga mengeluarkan benda pipih itu dari saku celananya. dan mengangkat telpon dari Aldrich.
"apa Melody bersamamu?" tanyanya dari sebrang telpon.
"iya, kenapa?"
"hanya memastikan, jangan pulang terlalu malam, kita akan makan malam bersama diluar malam ini" ucapnya.
"hem!"
Reiga menutup sambungan telponnya, lalu pergi setelah mengambil setangkai bunga tulip kuning yang menarik perhatiannya.
"mama suka ini?" Reiga menyodorkan setangkai tulip itu pada Melody yang sibuk menulis surat undangan.
tidak romantis, tapi Melody suka ini, dengan senyum bahagia dia menerima pemberian Reiga .
"manis sekali Rei!" senyumnya.
"apa setiap wanita suka diberi bunga?"
Melody mengelus rambut halusnya penuh sayang. "tentu saja, jadi anak mama ini akan memberi bunga pada siapa?" goda Melody.
Reiga tersenyum tipis. "tapi dia milik orang lain"
__ADS_1
"kau hanya perlu menunggu" ucap Melody.
"menunggu?" alisnya bertaut, ingin mendengar penjelasan lebih.
"menunggu dia membalas perasaanmu!"
dia mengangguk, dan punya harapan untuk itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Seperti yang dijanjikan, malam ini mereka sudah bersiap siap untuk makan bersama di luar, Reiga yang sebenarnya malas itu sekarang sudah bersiap karna ini acara keluarga.
"kakak!" Felisya datang ke kamarnya, langsung menghambur ke dalam pelukan Reiga dan mengendus dengan manja.
"apa?" tanyanya tak menolak ataupun membalas.
"kita pacaran kan?"
"hem!" Reiga mengangguk, terserahlah, lagipula ini tidak akan berlangsung lama.
huh!
pria itu langsung meniup wajahnya sampai dia berkedip beberapa kali.
"kakak!" rengeknya mulai cemberut.
Reiga menggenggam tangannya bermaksud membawanya turun, namun dia malah terduduk di lantai sambil menghentakan kakinya dan merengek.
"aku tidak mau pergi kalau kakak tidak menciumku dulu!" ancamnya.
maunya apa sih?
Reiga mendengus, namun tetap menghampiri bocah itu dan menarik tangannya agar dia berdiri. Melingkarkan tangan dipinggang ramping felisya dan...
Cup!
Cup!
__ADS_1
Cup!
tiga ciuman mendarat dibibirnya dengan cepat.
"kau puas?" tanyanya tertekan.
Felisya tersenyum dan menggelang, kali ini gilirannya. Sampai pipi dan bibir Reiga basah karna serangannya yang bertubi tubi.
Gila memang!
tapi itu suatu kebutuhan, ah tidak, mungkin sebuah pelampiasan.
"Kalian?" seseorang memergoki mereka sehabis saling mencium itu.
"ibu?!" pupil mata Reiga membesar, ya, iya sangat terkejut dan jadi gelagapan.
"apa kalian melakukan itu setiap hari?" Alice berjalan mendekat, wajahnya merah padam. ia pasti sangat marah melihat kelakuan mereka.
"tidak setiap hari bu, kalau aku yang menginginkannya saja!" jawab Felisya polos. "memangnya kenapa? aku menyayangi kakak dan kakak menyayangiku, kita lebih dari sekedar saudara, kita sepasang kekasih bu"
agak geli, Reiga sempet merinding mendengarnya .
"apa?!" tanya Alice tak kalah geli.
kenapa putrinya bisa seperti itu? dia sepertinya terkena racun tampan seorang Reiga. jujur saja, kalau mengikuti hawa nafsu, Alice juga pasti akan tergoda.
eh?!
lupakan saja, ini sedang dalam keadaan serius.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...----------------...
...****************...
......................
__ADS_1