
Saat ini, Gray mengintrogasi Reiga tentang siapa dirinya, darimana dia berasal, dan mengenai banyak hal lainnya. Bahkan sampai lupa kalau mereka tengah mengerjakan tugas.
DRRT! DRRT!
ponsel Reiga terus bergetar, ia pun merogoh saku celananya dan langsung mengangkat telpon dari Melody.
"Rei, kalian kemana dulu? kenapa tidak bilang pada Mama kalau mau pulang sore?" tanyanya khawatir
"aku sedang kerja kelompok Ma, aku akan pulang sekarang"
"kau bersama Icha kan?"
Degh!
Dia melupakan adiknya!
"iya ma, kami akan segera pulang!"
Tut!
Reiga menutup sambungan telponnya dan pamit pergi.
"Om boleh datang kerumahku jika ingin menanyakan sesuatu, sekarang aku harus menjemput adiku, terimakasih!" pamitnya langsung saja beranjak.
Felisya mengirimkan alamatnya sejak satu jam yang lalu, setelah itu dia tidak menghubunginya lagi. tumben sekali
Akhirnya setelah lama mencari, ia menemukan alamatnya dan berhenti di sebuah Apartemen yang mewah.
Diapun mengambil ponselnya dan menghubungi Felisya.
"Dimana Fel?" tanya Reiga begitu Felisya mengangkat sambungan telponnya.
"aku Shayla, Icha tertidur di sini, sepertinya dia kebosanan karna terlalu lama menunggumu!" sahut suara lembut itu membuat Reiga menghening sejenak.
"Hallo? kau mendengarku?" Tegur suara itu cukup membuatnya terkejut.
"hem, aku sudah sampai!"ucapnya sebiasa mungkin. Sejenak, dia menatap Apartemen itu lalu masuk.
Bukan cuman mewah, ternyata apartemennya sangat Rapi dan bersih, Udaranya cukup lembap, nyaman sekali untuk sekedar menenangkan diri dikamar yang saat ini Reiga tempati. Dia sedang menunggu Felisya terbangun.
"kenapa tidak dibangunkan saja?" tanya Shayla memecah keheningan.
Pria itu terdiam dan hanya mengelus rambut Felisya yang tertidur pulas. "biarkan saja"
Hening!
__ADS_1
Shayla jadi bingung, harus berbicara apa pada pria dingin ini.
"Aku akan ambilkan air"
"tidak perlu, terimakasih"
Ah!
Diam lagi!
ini sangat membosankan.
"ngomong ngomong, adikmu ini jahil ya" cengirnya menatap ke arah Felisya yang masih tertidur.
Reiga melirik, meminta penjelasan.
"tadi disekolah, dia menjahili guru, menyimpan seember air diantara pintu, begitu pa guru masuk. Syuuurrr....ember itu menimpa kepalanya dan pakaiannya basah kuyup" jelasnya begitu riang diiringi dengan tawanya yang menggemaskan.
"lalu apa yang terjadi?" Nampaknya Reiga mulai terbawa suasana.
"tentu saja pak guru menghukum kami semua memotong rumput di belakang sekolah, dan melewati pelajaran Matematika yang paling kami tidak sukai"
"kenapa semua?"
"karna kami mendukungnya untuk melakukan kejahilan tersebut!"
"emmh kakak!" lenguhnya.
Felisya duduk dan mengucek matanya, melirik kearah jam dinding yang sudah menunjukan pulkul enam sore.
"sudah sore ya, sebaiknya kita pulang"
Reiga mengangguk. "terimakasih!" ucapnya mematap kearah Shayla penuh arti.
Gadis itu tersenyum. "bukan masalah, aku senang kalian disini, terlalu membosankan untukku tinggal disini sendirian, sering serimglah mampir"
mereka mengangguk dan segera pamit pergi.
...****************...
Malam ini, Suasana rumah tampak tenang, semua sibuk dikamarnya masing masing. Entah sedang apa.
CEKREK!
Baru saja Aldrich keluar dari kamar mandi hanya berbalut handuk putih, meski usianya sudah 41 tahun, tapi dia masih terlihat kekar dan awet muda.
__ADS_1
"hey istriku!" sahutnya pada Melody yang tengah menyisir rambutnya.
"ya suamiku?" Melody berbalik dan tersenyum.
Dengan seringai mesumnya Aldrich berjalan menghampiri Melody, memeluknya erat dan berbisik.
"hangatkan aku"
Blush!
Wajah Melody langsung memerah, dia mendorong Aldrich sampai mundur beberapa langkah.
"kau ini tidak ada puas puasnya, kita kan baru saja melakukannya kemarin malam, kenapa tidak lakukan pada Alice saja?"
"ayolah istriku" Aldrich terus saja mepet mepet seperti anak kucing. Dia sudah menciumi wajah Melody, membuat wanita itu merasa risih.
"tidak ma-"
Berakhir sudah, tidak ada yang bisa Melody lakukan saat Aldrich sudah menciumnya seganas ini. Dia mengangkat tubuh Melody dan mendudukannya diatas ranjang. tangannya mulai merayap meremas sesuatu yang kenyal disana.
"emh..Aldrich!" Melody melepaskan pagutannya dan beralih memeluk Aldrich dengan erat.
"peluk saja!" ucapnya begitu memelas.
Aldrich terdiam, dia merasa kecewa karna Melody menolaknya.
"pernikahan kita sudah 17 tahun, kenapa kau masih belum mencintaiku Melody?"
Melody tak menjawab dan terus memeluk Aldrich lebih erat lagi.
"apa yang kau katakan itu tidak benar"
"itu benar, kau tidak pernah mengatakan kalau kau mencintaiku..kenapa begitu? tolong katakan sekali saja sebelum aku pergi dari dunia ini untuk selamanya" Aldrich melepas pelukannya dan membalikan badan, tak mau melihat Melody.
BRUK!
Melody yang merasa bersalah kembali memeluknya.
"jangan katakan itu, ku mohon!" serunya mulai terisak. "aku sudah berusaha melakukannya, tapi tidak bisa..."
Hening!
Mereka membeku dalam posisi seperti itu,sampai akhirnya Reiga datang dan mematung didepan pintu kamar yang memang sedang terbuka.
__ADS_1
"apa aku mengganggu?" tanyanya seolah tak melihat apa yang mereka lakukan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...