
Inilah saat yang ditunggu tunggu, seorang Kurator datang bersama guru seni budaya dan beberapa anggota lainnya untuk menilai dan mengkritik karya seninya.
"waw, aku tidak bisa berkata kata saat melihat lukisanmu! Berapa lama kau bisa membuat karya seindah ini?" tanya Pak Jimy, guru seni budaya.
"sebulan penuh!" jawabnya.
Merekapun memuji dan sedikit mengkritik kekurangan dari lukisannya, setelah itu mereka pergi untuk menilai karya yang lain.
Reiga tidak yakin jika lukisannya akan menjadi paling unggul. Dia lihat karya seni lain yang luar biasa bagusnya.
Setelah penilaian ia tidak menunggu hasilnya, dan memilih pergi mencari tempat sepi, yah, berada dalam kerumunan membuat energinya cukup terkuras.
namun, saat ia melewati ruang UKS, ia mendengar seseorang meringis kesakitan.
Karna penasaran, ia pun membelokan kakinya untuk melihat ke dalam. Terlihat Daren yang memegang dadanya dengan wajah pucat serta darah yang mengalir dihidungnya.
"kau kenapa?" tanya Reiga langsung saja mengambil kotak P3k dan langsung menyumbat hidung Daren agar pendarahannya berhenti.
"nafasku sesak, tolong antarkan aku pulang..!" ucapnya lirih.
Dengan sigap Reiga memapahnya sampai ke parkiran, tanpa mempedulikan apapun dia langsung melajukan mobilnya.
"bagaimana kalau kita kerumah sakit?" tanya Reiga mulai khawatir.
Daren menggelang, "pulang saja!"
Diapun membawa Daren pulang ke rumahnya, kembali memapahnya dan membaringkannya diranjang.
__ADS_1
"terimakasih Rei, maaf merepotkanmu!"
"tidak masalah, istirahatlah, katakan jika kau perlu sesuatu, aku akan disini sampai ayahmu pulang!"
Daren tersenyum tipis meski keadaannya lemah, ia sungguh senang memiliki teman sepertinya.
Setelah beberapa saat, Daren mulai terlelap.
Keadaan sunyi ini begitu lenggang, Reiga memindai ruangan besar ini, dan tiba tiba saja pandangannya tertuju pada meja belajar Daren. iapun berjalan ke arahnya dan mendapati sekotak obat penuh.
"banyak sekali!" ia mngobrak abrik beberapa kapsul obat dengan jenis yang berbeda. Berfikir kalau Daren akan sakit apa dengan obat yang banyak ini? Dia terlihat baik baik saja setiap harinya.
CEKREK!
tiba tiba pintu terbuka dan masuklah Gray.
"kalian sudah pulang? apa yang terjadi?" tanyanya.
Gray melihat ke arah Daren yang masih terlelap lalu dia duduk di bibir kasur sambil menatap wajah damainya saat tidur.
"apa dia kelelahan?"
"sekolah kami sedang mengadakan pameran, jadi Daren ikut membantu persiapannya!"
"apa aku bisa menitipkan dia padamu?" tanyanya penuh harap.
Reiga hanya diam, tidak mengerti kenapa pamannya mengatakan itu. Gray yang mengerti kebingungan Reiga pun menjelaskan.
__ADS_1
"saat itu, aku bertemu Daren saat usianya sekitar 5 tahun, dia sering main ke rumahku dan mengisi rumah ini dengan tawanya, dia anak yang ceria dan riang, dan tidak pernah menangis selama aku mengenalnya. Hari hari terus berjalan, Daren memperkenalkanku pada ibunya, seorang wanita cantik masih berusia 18 tahun yang bercerita kalau Daren adalah anak tidak sah hasil dari hubungan gelap dengan kekasihnya dulu" Gray berhenti sejenak, mengenang moment bersama mereka dulu.
"akhirnya, kami saling jatuh cinta dan menikah, menjadi keluarga bahagia seperti yang kuinginkan, Dan kebiasaan kami sehari hari kalau ada dirumah, tidak lain adalah memasak. Ibunya mengajarkan banyak resep pada Daren. Dan dia belajar dengan cepat. tapi tidak selamanya kebahagiaan berpihak pada keluarga kami...entah apa yang terjadi, dipagi hari yang cerah itu, ibunya pergi dengan meninggalkan surat yang berisi permintaan maaf kalau dia tidak bisa tinggal bersama kami lagi..."jelasnya
Reiga turut prihatin, bahkan wajah ceria Daren tidak memperlihatkan kalau dia punya masalah yang lumayan rumit, sekarang dia mengerti tentang kejadian Pancake itu, Resep yang baru diberikan ibunya namun belum sempat dimakan bersama karna ibunya keburu pergi tanpa alasan yang jelas.
"dan sejak saat itu, untuk pertama kalinya Daren menangis, memakan Pancakenya sambil menangis. ia pum mulai sakit sakitan, Daren mengalami-"
"uhuk uhuk!"
ucapannya terpotong karna Daren yang tiba tiba saja batuk dan terbangun.
"ayah sudah pulang? kau juga masih disini?" tanyanya membuyarkan keseriusan pembicaraan mereka tadi.
"kalau begitu saya pamit, saya harus kembali ke pameran om, selamat malam!" pamitnya.
"hati hati dijalan!" ucapnya.
Setelah kepergian Reiga, Daren langsung menatap tajam ayahnya.
"jangan katakan apapun padanya ayah, aku tidak mau membuat teman temanku khawatir!" dia berucap dengan air mata terbendung, membuat Gray langsung menepuk pundaknya untuk menguatkan Daren.
"kau pasti bisa nak!"
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
...----------------...
......................