
Reiga berjalan terburu buru, tak mempedulikan teriakan Melody yang menyuruhnya berhenti, sampai Melody jatuh tersandung kakinya sendiri.
"akh" ringisnya lumayan sakit.
Barulah Reiga berhenti, menoleh dan segera membantu ibunya berdiri.
"sepertinya Mama memang harus menjauh dariku, kalau tidak nasib sial akan-"
Srep!
Melody langsung menutup mulut Reiga dengan tangannya.
"jangan katakan itu, tidak ada nasib sial Rei, semua nasib orang baik, kita harus percaya pada tuhan"
Reiga menggelang lemah, percaya pada tuhan? Untuk saat ini kata itu bertentangan dengan hatinya.
"Mama harus bahagia tanpaku, aku akan pergi!"
Melody menolak. "kemanapun kau pergi Mama akan ikut"
"Mama, kumohon mengertilah..."
"kau yang harus mengerti Mama, nak" Melody masih bersikeras.
"jika aku tidak terlahir, mungkin mama akan bahagia bersama ayah, jadi aku rasa, aku sudah cukup membebani kalian" jelasnya berharap Melody mau mengerti.
"jika kau tidak terlahir, mungkin Mama juga tidak akan hidup hingga saat ini"
"Mama, ku mohon.." Wajah itu sudah memelas, tak tahu harus bicara apalagi. Ibunya begitu keras kepala dan terlalu menyayanginya.
"tidak Rei, Mama bilang tidak, kau yang harus mengerti Mama, kau fikir Mama bisa hidup tanpamu? keadaan ini sudah kacau dan jangan mencoba untuk lari, sehingga menciptakan masalah baru, Mungkin saat ini ayahmu tidak ingin melihatmu, tapi dia mengatakan itu hanya karna sangat marah, Mama yakin, setelah hatinya tenang dia akan menerimamu kembali" jelasnya panjang lebar.
__ADS_1
Mereka sama sama ingin memahami fikiran masing masing.
"mustahil Ma, itu sangat mustahil"
"dengar, untuk saat ini kita akan tinggal di rumah Alisya, rumah itu kosong karna ia tinggal bersama suaminya, dan kita bisa tinggal disana untuk sementara bahkan selamanya karna ia sudah menyerahkannya pada Mama"
Yah, jangan lari, jangan lari seperti pengecut, Pria tidak boleh lemah, begitu pada tabiatnya. sedahsyat apapun badai yang menerpa, pria harus tetap berdiri kokoh tanpa air mata.
"aku tidak akan lari" ucapnya menegaskan.
...-------SKIP-------...
Setelah melewati drama yang cukup panjang, akhirnya proses transplantasi ginjal berjalan sesuai prosedur. Dokter sudah memeriksa semuanya dan ada kecocokan, Awalnya Aldrich tidak mengizinkan dokter untuk mengambil ginjal putrinya dan di berikan pada Daren, tapi begitu dokter yang menangani Felisya sebelumnya datang dan menjelaskan, barulah mereka mengizinkan. Karna itu murni keinginan Felisya.
Jelas, Gray sangat senang dan sangat berterima kasih pada keluarga mereka, walau awalnya tidak dekat, tapi dia berhutang banyak pada mereka.
"terima kasih, terimakasih anda sudah bermurah hati pada anak saya, semoga Felisya tenang dan bahagia dalam kehidupan abadinya" ucap Gray dengan air mata yang mengalir bahagia.
Di kamar rawat Daren sekarang ada Gray, Melody, Shayla dan dirinya. Mereka ber empat menunggu Daren siuman.
dalam senyapnya suasana, Shayla berusaha menahan isak tangisnya, rambutnya tergerai dan dibiarkan menghalangi wajahnya agar tak terlihat menangis.
Melihat bahunya bergetar, Reiga langsung menyimpan tangannya dipundak Shayla.
"berhenti menangis, apa yang kau tangisi? Daren akan bangun sebentar lagi"
"bukan itu" dia menggelang dan mengangkat wajahnya. "aku senang Daren akan bangun, tapi aku sedih harus kehilangan temanku, sahabatku yang baik, aku tidak sempat mengunjunginya lagi sejak hari itu, aku fikir, waktu masih panjang, ternyata tidak, takdir yang membuatnya jadi singkat"
Ada penyesalan dimatanya, bagaimanapun hubungannya dengan Felisya tidak bermasalah selama ini, selain kecemburuannya pada kakaknya itu, mereka baik baik saja. Bahkan Shayla berniat datang dan minta maaf padanya tentang hari itu. Tapi semuanya sudah terlambat.
Semuanya diam, larut dalam fikiran masing masing, tak ada yang bisa mereka katakan, keadaan sudah cukup menjelaskannya.
__ADS_1
Gray berfokus pada jemari Daren yang mulai bergerak, kelopak matanya pun terbuka perlahan lahan.
"dia sadar!" seru Gray memecah keheningan.
Semua langsung mengelilingi ranjangnya, melihat wajah yang masih terlihat lemas tak berdaya itu.
"ayah..."panggilnya saat melihat orang yang pertama dilihatnya adalah Gray.
"aku masih hidup?"
Ah, betapa leganya, Gray mengelus rambutnya penuh sayang.
Kemudian pandangan Daren beralih pada mereka semua "kalian...kalian datang untukku?"
Suasana berubah jadi haru sejak saat itu, tapi satu hal kembali mengganggu Reiga, saat Daren mulai menatap Shayla dan menggenggam tangannya.
"maaf sudah membuatmu khawatir" ucapnya lirih.
Reiga langsung memalingkan wajahnya, tak ingin sakit, tak ingin cemburu, tak ingin iri karna pelampiasan itu kini sudah tiada.
diam diam dia beranjak, keluar dari kamar rawat yang mulai menyesakan dan pergi.
......................
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...----------------...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1