
Mereka pun masuk dan berniat untuk mengistirahatkan diri, Melody mengambil kamar atas, sementara Reiga memilih untuk tidur di kamar yang dekat dengan dapur.
Namun, dirinya cukup terkejut begitu membuka pintu, karna seorang gadis kecil tertidur pulas di ranjang empuk itu.
"dia siapa?" tanya Reiga pada si kakek yang langsung menghampirinya.
"oh dia cucu kakek, biar kakek bangunkan agar dia pindah ke kamar lain, dia ini benar benar anak yang sesukanya, maaf ya nak" ucap si kakek begitu malu, ia berniat untuk membangunkan bocah itu, namun segera di tahan Reiga.
"tidak perlu, aku di kamar lain saja" ia mengalah, dan selalu saja mengalah, entah kenapa, tapi rasanya mengalah adalah pilihan terbaik.
...-----------SKIP------------...
Malam sudah datang, waktunya untuk tidur, mengistirahatkan tubuh yang lelah dan bangun di pagi hari dengan harapan jika yang terjadi kemarin hanyalah mimpi, dan Reiga bisa melihat kembali senyuman sang adik.
Namun hingga larut malam, matanya sulit terpejam, ia terus mengubah posisi tidurnya yang masih merasa tak nyaman.
Hingga akhirnya dia menyerah dan bangkit dari ranjangnya, sepertinya ia butuh air untuk menenangkan kegelisahannya. Dia pun pergi ke dapur untuk mengambil segelas air minum.
Begitu tiba di ambang pintu dapur, Reiga langsung menghentikan langkahnya saat melihat gadis kecil itu tampak sedang memasak Mie instan, kakinya berjinjit lucu saat ia tak bisa meraih piring yang di letakan di rak paling atas.
"ih dasar kakek menyebalkan, kan aku sudah menyuruhnya untuk menyimpan barang sesuai jangkauanku, kenapa ditaruh di sana lagi, di taruh di sana lagi!" cicitnya terdengar kesal.
__ADS_1
Melihatnya mengoceh membuat Reiga tersenyum tipis, ia pun berinisiatif mendekat dan mengambilkan piring yang hendak di ambilnya.
"wah, terimakasih kek" senyumnya dengan mata terpaku pada piring putihnya, ia pun mendongak untuk menatap wajah yang ia kira kakeknya itu, tapi saat melihat Reiga, dia langsung berteriak.
"Aaaaa, pencuri!" gadis kecil itu mendorong Reiga dan melemparkan sejumlah barang yang mampu ia gapai.
Prank!
Brang!
Gombrang!
"pergi kau pencuri, jangan mencuri di rumah ini, rumah ini juga punya orang lain, pergi sana.." teriaknya tak henti henti mengoceh.
"ya ampun Nagisa, cucu kakek, kau sedang apa nak?" tanya kakek sambil memunguti pecahan piring di lantai, lalu menghampiri bocah perempuan itu.
"dia kek, dia mau mencuri, suruh dia pergi!" Nagisa menunjuk Reiga dengan teflon yang di pegangnya.
"Nak, mereka yang punya rumah ini!"
Nagisa langsung diam seribu bahasa, matanya berkedip kedip lucu seakan tak percaya. Nafasnya yang sejak tadi terengah engah karna marah kini bernafas dengan lebih tenang.
__ADS_1
"b benarkah?" tanyanya gugup.
"cepat minta maaf!" titah kakek tegas.
"kenapa harus aku yang minta maaf? Kakak ini yang salah karna tiba tiba mengejutkanku" elaknya berpaling angkuh, membuat Reiga lagi lagi tersenyum tipis.
Sikapnya itu, mirip sekali dengan orang yang baru meninggalkannya...
"ah Nagisa sayang, maaf ya, kami datang secara tiba tiba dan membuatmu takut, kenalkan tante, Melody, dan ini anak tante, Reiga" sahut Melody yang baru mengerti situasi, ia raih perlahan tangan mungil itu dan mengelusnya.
Kelembutan seorang ibu tidak bisa dibantah atau di abaikan, Nagisa tersenyum lebar pada Melody dan menatap wanita itu penuh rasa kagum.
"Tante cantik sekali, seperti ibu peri" pujinya begitu tulus.
"dan kau, secerah mentari pagi" Melody mencubit pipinya dengan gemas. Dia begitu manis dan lucu, sungguh sangat menggemaskan.
"apa aku boleh memanggilmu Ibu?"
Dengan senang hati Melody menerimanya "tentu saja"
"Maaf Nyonya, Saya tidak bilang kalau cucu saya juga tinggal disini" tutur kakek merasa bersalah. Tapi mau bagaimana lagi, kalau dia tidak membawa cucunya, Nagisa akan tinggal dimana? Untung saja mereka berasal dari keluarga baik baik, sehingga dengan mudah menerima kehadirannya.
__ADS_1
...*...