
Keadaan disekolah berjalan dengan baik, namun lingkungan dirumah terasa rumit, membuat Reiga tidak ingin cepat pulang, dan memilih untuk mengikuti ekskul seni lukis, lagipula ia sudah sering membolos.
Reiga memang berbakat dalam seni melukis, entah sejak kapan, dia hanya melukis sesuai keinginan dan hal yang ada di pikirannya saja.
Seperti hari ini, saat semua diberikan kanvas dan cat, orang orang masih agak binguung harus melukis apa, sementara dia sudah menggerakan kuasnya.
"Rei!" panggil seorang gadis dari arah belakang.
Reiga melirik, mendapati Shayla yang sudah tersenyum merekah padanya.
"kau disini?"
"hum, aku baru hari ini mengikuti ekskul melukis, apa kau bisa duduk bersamaku?" pinta Shayla yang langsung di setujui Rei
dia duduk disampingnya dan mulai melukis dengam seksama.
Jarinya terus bergerak, menggambarkan sebuah pemandangan yang indah.
"wah, sangat indah, ternyata kau pandai melukis!" puji Shayla.
"tidak juga" jawab Reiga rendah hati, lalu sudut matanya melirik lukisan Shayla yang tak kalah indah.
"keren juga" Reiga ikut memuji, membuat Shayla terkekeh dan mendekatkan lukisannya pada Reiga.
"apa kau tahu, apa itu Sawarga?" tanya Shayla membuat Reiga penasaran.
"apa?"
"itu adalah malam penuh bintang, hanya orang baik yang bisa menikmatinya" jelasnya dengan pandangan yang terus tertuju pada lukisaannya.
"benarkah?"
__ADS_1
Shayla mengangguk, "tempat itu sangat indah, hanya orang orang spesial yang bisa melihatnya, apa kau tahu? tempat itu sangaaaaat jauh!"
"kau mau membawaku ke sana?" tanyanya semakin penasaran.
Shayla terkekeh, "tentu saja bisa, kita akan pergi bersama, kau mau?"
Pria itu terdiam dengan kepolosannya, hanya menatap Shayla dengan terkagum kagum.
"ahaha bukan hanya kita berdua, Kita akan ajak Felisya dan Daren, pasti itu lebih menyenangkan" kekehnya merasa geli, seperti sedang berbicara pada anak kecil.
"Shayla!" ucapnya membuat gadis itu menghentikan tawanya.
"ah dia memanggil namaku" batinnya
"iya?"
Reiga tak menjawab, dia mendekatkan wajahnya, lalu menyusut Cat yang ada di pipi Shayla dengan lembut. Membuat wajah gadis itu memerah karna jarak mereka terlalu dekat.
"terimakasih, kau juga ada!" kini giliran dia yang menyusut sisa cat di dagunya.
"wah kalian sudah selesai?" tegur sang guru memecah keheningan diantara mereka.
"ah iya pak!" jawab Shayla.
"lukisan kalian bagus, saya anjurkan untuk ikut kompetisi seni lukis bulan depan nanti!" senyum pria muda itu sambil mengamati lukisan mereka.
...---SKIP----...
Usai mengikuti kegiatan Ekskul, Reiga beranjak pulang, namun Shayla masih menunggu jemputan didepan gerbang sekolah.
Baru saja Reiga hendak menghampirinya, Daren datang lebih dulu menyapa Shayla, membuat Reiga menghentikan niatnya.
Mereka terlihat akrab, dan mengobrol dengan asik, Reiga tidak tahu apa yang mereka bicarakan, yang jelas dia melihat adanya sebuah ketertarikan diantara keduanya.
"Reiga!, Adikmu sudah menunggu dari tadi di mobil!" teriak Daren sambil melambai padanya.
__ADS_1
Reiga tak berkata apapun, dia hanya membalas lambaian tangan Daren dan berlari menuju mobilnya.
Sudah ada Felisya yang cemberut disana karna menunggunya lama.
"maaf!" ucap Reiga sambil memarkirkan mobilnya.
"kakak menyebalkan!" dengusnya.
"hem" hanya itu responnya, semakin membuat Felisya kesal.
"aku akan meminta mobil sendiri pada ayah besok, aku tidak mau pergi denganmu lagi" ancamnya membuat Reiga menghembuskan nafas kasar.
"baguslah"
"kakaaak!" Gadis itu semakin merengek, mencubit lengan Reiga sekuat tenaga, tapi hal itu tak membuat dia meringis kesakitan.
Reiga tak lagi bicara, dia melajukan mobilnya melewati Daren dan Shayla yang masih mengobrol.
Tid!
"Malam ini Ayahku akan datang kerumahmu!" sahut Daren.
"oke!"
"Sampai jumpaa!" Shayla melambai pada keduanya.
Brum!
mobilpun langsung melaju dan hilang dari pandangan.
......................
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...****************...
__ADS_1
...----------------...