Don'T Forget Me 2

Don'T Forget Me 2
52. Malaikat kecil


__ADS_3

hari ini Reiga dapat mengambil sebuah pelajaran, jika peduli itu adalah hal yang di senangi semua orang, dan hati akan merasa tenang saat kita membuat seseorang bahagia.


Seperti ketiga anak itu, terlihat sangat senang, seolah kekayaan dunia milik mereka.


Walau baru mengenal Nagisa, bocah SD itu benar benar sudah mengajarinya banyak hal.


"kakak, aku lapar!" rengeknya saat mereka sedang berada dalam perjalanan bus.


"kenapa kau tidak sisakan makanan untukmu?"


"aku tidak ingat" Nagisa semakin merengek manja, menarik perhatian orang orang yang ada dalam bus, merasa gemas dengan tingkah mereka.


"berikan aku makanan"


"aku tidak punya!"


"kakak..."


Gadis itu benar benar menyebalkan, bagaimana ia bisa membuat banyak orang berbisik bisik sambil tertawa manis.


"kemari" Reiga mengangkat tubuh mungil nagisa dan mendudukannya di pangkuannya, menepuk nepuk punggungnya dengan lembut, memberi kenyamanan pada bocah itu hingga dia tertidur pulas dalam pelukannya.


Tangan kecilnya yang menahan dada bidang Reiga terkulai tak betenaga, Reiga segera meraih tangan itu dan menciumnya, tangan ajaib yang bisa menciptakan Melody indah penyejuk hati. Pasti dia belajar memainkan Flute dari kakeknya.


"mereka manis sekali!"


"apa mereka adik kakak?"

__ADS_1


"adiknya sangat menggemaskan"


"kakaknya juga tampan"


Bisik mereka saat melihat keduanya seakrab itu.


...-------SKIP-------...


Hari beranjak petang, cahaya matahari mulai berwarna jingga dan membentang indah di langit, Reiga berjalan melewati jalan setapak sambil membawa Nagisa yang ada dalam gendongannya. Tampaknya gadis itu baru saja bangun setelah tertidur pulas di dalam bus.


"kakak kita mau kemana?" tanya Nagisa jadi linglung.


Reiga tak menjawab sampai akhirnya tiba di makam Felisya, dia langsung menurunkan Nagisa dari gendongannya. Pandangannya tetap fokus pada makam baru itu, dimana Shayla berdsmpuh di pinggir makam itu dan menangis, tampaknya dia benar benar kehilangan begitu dalam.


" kau tidak pernah mau mengalah, kau sangat keras kepala, kau begitu angkuh dan cerewet, tapi kepergianmu kenapa harus seperti ini Icha? Kau belum bicara lagi padaku sejak aku tahu kalau kau cemburu, kita belum saling bicara dan memaafkan, aku terus saja dihantui rasa bersalah, bagaimana aku bisa tahu kalau kau memaafkanku?" racaunya terdengar seperti orang gila.


"dia memaafkanmu!"


"Reiga?...siapa dia?" tanya Shayla menatap pada Nagisa dengan tajam.


"malaikatku"


Shayla mendekat, mencomot pipi Nagisa dengan pelan, sangat kenyal dan lembut, matanya bulat seperti boneka, rambutnya pirang tipis, bibir kecil semerah cery, dan tangan mungilnya, begitu lucu saat menggenggam jari jari besar Reiga.


"jangan sentuh aku, lihat tangan kakak kotor karna tanah merah" Nagisa menepis tak sopan tangan Shayla.


"kakak lihat, kakak itu membuat pipiku kotor, marahi dia!" Nagisa mengadu dengan suara manjanya itu.

__ADS_1


"tidak bisa"


"kenapa?"


"dia pacarku" ucap Reiga sengaja menggodanya, ia ingin tahu, apakah reaksi cemburunya akan sama dengan Felisya?


Namun berbeda, Nagisa menatap Shayla dari ujung rambut sampai ujung kaki, lalu menyeringai.


"kakak hanya punya tubuh yang bagus dan kulit putih, kalau soal cantik, aku lebih cantik dari kakak, sekecil ini saja aku bisa mengalahkan kecantikan kakak, apalagi sudah besar nanti" ucapnya sombong sekali.


"kau lucu" puji Shayla sama sekali tak tersinggung. Malah membuat dia terharu karna sikapnya sama halnya seperti Felisya.


"jadi mudah bagiku untuk merebutnya dari kakak" ucapnya lagi.


Shayla berjongkok, mensejajarkan tinggi dengannya. "begitu kah?"


"aku serius"


"baiklah, coba saja kalau kau bisa" senyumnya benar benar menganggap ini hanya candaan.


Reiga yang merasa terabaikan itu kembali menggendong Nagisa ke dalam pangkuannya.


"jangan dengarkan anak ini"


"darimana kau kenal dia? Dia menggemaskan" tanyanya seolah lupa kalau dia habis menangis.


Ceritanya lumayan panjang, Reiga tak ingin menjelaskan, dia hanya menghela nafas berat dan berkata. "kau tidak perlu tahu"

__ADS_1


Mendengar jawaban itu, tampaknya Reiga sedang tak ingin bicara dengannya, entah kenapa, dia selalu menjadi lebih dingin padanya, bahkan sebelumnya ia tidak pernah menolak ajakannya, sementara pada anak itu, sangatlah manis. Anak itu benar benar terasa mengganggu.


Apa dia cemburu?


__ADS_2