
Saat Aldrich hendak menuntun Melody, Reiga buru buru mengambil alih dan menyingkirkan sang ayah.
"Hey kau sedang apa? Biar aku saja yang menuntunnya, kau yang menyetir"
Pria itu hanya diam, tak ingin berdebat karna ia tahu jika berdebat dengan Aldrich tidak akan ada akhirnya.
di sepanjang koridor rumah sakit Aldrich mengomel seperti anak kecil, persis seperti anak kandungnya. Namun keduanya tak menghiraukan dan memilih untuk menutup telinga.
"oh iya, Daren masuk rumah sakit Ma" ucap Reiga baru menyadari sesuatu.
"apa? kapan? Kenapa kau tidak beritahu Mama?" tanya Melody dalam keterkejutannya.
"kemarin sore, dia di rawat di rumah sakit ini juga"
Melody langsung berinisiatif untuk menjenguknya "kalau begitu Mama ingin melihatnya sekarang"
"eeh tunggu tunggu!" cegah Aldrich langsung menarik tangannya.
"apa?"
"kau sendiri masih belum sepenuhnya sehat Melody, nanti saja setelah keadaanmu benar benar pulih"
Melody cemberut. "aku sehat sehat saja kok, sebenarnya yang berlebihan itu kau, sampai harus membawaku ke rumah sakit segala"
"aku kan khawatir padamu"
"tapi jangan berlebihan seperti itu!"
Aldrich mengacak rambutnya frustasi.
"ah sudahlah, kau membuatku terpaksa harus melakukan ini" tanpa persetujuan Melody, dengan ringannya ia menggendong tubuh mungil itu dan membawanya pergi
"hey kenapa kau lakukan ini? Turunkan aku!" teriaknya mulai memberontak. Tapi tak di gubris oleh Aldrich.
"oh ya, kau kalau mau menemani temanmu itu silahkan saja, tapi jangan lupa untuk menjemput Adikmu nanti, katanya dia mau pulang" teriak Aldrich sebelum mereka hilang dari pandangan.
__ADS_1
Raut wajah Reiga berubah seketika, yang awalnya muak melihat drama kedua orang tuanya sekarang tampak bahagia, tersenyum tipis tak bisa menahan bahagia karna adiknya akan pulang.
Bertepatan dengan itu, ponselnya berdering, tentu saja telpon dari Felisya yang langsung ia angkat.
"hallo kakaku tercinta!" sapanya dengan suara manja yang teramat di rindukannya. Ya, karna selama ini Felisya tidak pernah menelponnya lagi, mungkin sibuk belajar di sana.
"apa kakak tidak merindukanku?" ucapnya lagi. Namun Reiga masih belum menyahut.
"kakak? Kenapa tidak bicara?" suaranya naik satu oktaf
"hem" sahutnya datar seperti biasa, ucapan yang tak terdengar rindu.
"oh jadi kakak benar benar tidak merindukanku ya? Senang ya kalau selama ini aku tidak menelponmu? Kakak jahat, kakak tidak berguna, kakak bodoh, aku membencimu" ocehnya.
"jangan membenciku" kali ini Reiga meladeninya.
"kenapa?"
"karna aku sayang padamu"
Tak ada ocehan setelah beberapa lama, nampaknya Felisya sedang tersenyum senyum sambil melompat kegirangan.
"datang secepatnya kak, aku hanya punya waktu tiga hari"
"aku akan datang"
Usai menyelsaikan kalimatnya, Reiga langsung pergi ke kamar rawat Daren, dimana pria itu masih memejamkan matanya, juga Shayla yang tidur di sisi ranjang dengan tangan yang menggenggam tangan Daren.
Manis sekali!
Reiga memutuskan untuk tidak mengganggu, dia yakin Daren akan baik baik saja selama Shayla ada di sampingnya.
Dia langsung saja bergegas untuk menjemput Felisya.
...-------SKIP-------...
__ADS_1
3 jam dalam perjalanan, akhirnya Reiga tiba.
Di depan gerbang sana sudah ada seorang guru dan beberapa gadis, termasuk Felisya.
Begitu melihat mobil yang sudah Felisya hafal, dia langsung saja berangkulan dan pamit pada guru dan teman temannya.
Reiga turun dari mobil untuk menghampiri mereka dan berbasa basi dengan gurunya, namu gadis itu keburu lari untuk menghambur ke pelukannya.
"kakak!" serunya terdengar amat rindu.
Namun saat dirinya hampir tiba, Reiga menahan Tubuh Felisya dengan jentikan agak keras di dahinya, Bukan tak ingin menyambut pelukannya, tapi malu, sebab ada yang memperhatikan mereka.
Dia mengira jika Felisya akan marah, namun respon gadis itu jauh dari dugaannya, dia hanya terkekeh sambil mengelus dahinya seraya mengeluh.
"sakit tahu"
Ternyata benar, sekarang dia sedikit berubah, walau masih cerewet dan manja, setidaknya Reiga bisa melihat kalau dirinya memang ada perubahan, karna teman temannya terlihat begitu menyayanginya.
Reiga berjalan menghampiri guru cantik di depan gerbang sana dan berterimakasih.
"terimakasih sudah menjaga adik saya" senyumnya ramah. Sukses membuat teman teman Felisya meleleh di buatnya.
"Sama sama, oh ya, setelah sikap buruknya saat pertama kali masuk sekolah, sekarang Felisya memiliki banyak perubahan, ia mau berteman dan sekarang di sayangi banyak orang termasuk banyak guru, karna itu saya menginzinkan dia pulang di hari libur ini" jelasnya semakin membhat Reiga bangga.
"ibu jangan berlebihan, aku jadi malu" ucapnya seraya tersenyum canggung.
Usai berbincang merekapun langsung saja pamit, siap untuk pulang.
......................
...****************...
...----------------...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1