
Hingga larut malam Melody masih belum membuka matanya. Tapi Reiga yang kembali terjaga tak bosan bosan memegang dan mengelus tangan lembutnya.
sekarang tinggal dirinya yang menemani Melody , karna Aldrich dan Alice pulang terlebih dahulu karna ada urusan penting,
"jangan pergi, tetap bersamaku" gumam Melody seperti ofang mengigau.
"Ma..."
"jangan pergi!"
"Ma buka matamu!" Reiga mengguncang bahunya pelan, sampai Melody mengerjap dan tersadar.
Dia langsung memaksakan senyumnya begitu melihat Reiga yang menatapnya khawatir.
"jangan pergi"
Reiga balas tersenyum, ia lega karna Melody sudah sadar. Diapun langsung memeluknya.
"aku tidak akan pergi , aku akan tetap bersamamu" ucqp Reiga bersungguh sungguh, matanya terpejam, memamerkan bulu mata indahnya yang lebat.
"Terima kasih, terima kasih banyak" ucap suara itu lemah, sekarang dia tidak perlu khawatir lagi. Tidak ada yang perlu Melody sembunyikan lagi. Mulai hari ini dan seterusnya, ia bisa menjalani kehidupannya dengan tenang.
Melihat ikatan keduanya yang begitu erat, membuat Alice yang baru saja tiba di ambang pintu berdiri mematung, begitu cepatnya hubungan mereka membaik. Tanpa adanya drama yang berbelit
"siapa yang bisa mengubah takdir tuhan? Mungkin Tuhan ingin melihat Melody bahagia" batin Alice merasa cukup, menjadi jahat di tengah tengah kebahagiaan rumah tangga memang keterlaluan. Maka dia mencoba kembali untuk belajar ikhlas seperti yang selama ini Melody lakukan.
"syukurlah kalau kau sudah sadar" sahut Alice langsung menghentikan momen keduanya.
"Alice, sejak kapan kau berdiri di situ?" tanya Melody.
"aku baru saja tiba, bagaimana keadaanmu sekarang?" Alice berjalan menghampiri Melody dan duduk di bibir ranjang.
"aku baik baik saja, jangan khawatir"
Tak mau mengganggu pembicaraan mereka, Reiga meminta izin untuk keluar sebentar.
__ADS_1
Dia berjalan melewati koridor rumah sakit yang begitu lenggang, sedikit gelap karna kurang pencahayaan, entah kenapa rumah sakit ini terasa aneh, berbeda dari rumah sakit lain.
Tap!
Tap!
Tap!
Samar samar terdengar derap langkah lebih dari satu orang, langkah itu tampak terburu buru, begitu cepat dan semakin terdengar jelas saat dua bayangan wanita dari kejauhan berlari ke arahnya.
Reiga menghembuskan nafas lega saat melihat ke arah dua wanita di hadapannya sekarang, dia fikir hantu jail, ternyata Resya dan Angelica.
"aku datang ke rumahmu sore tadi, dan ayah tirimu bilang Melody di rawat di rumah sakit, maaf aku baru bisa datang sekarang, apa ibumu baik baik saja?" tanya Resya dengan nafas terengah engah karna berlarian.
"baik, dia di rawat di paviliun melati no 15" jawabnya.
"boleh aku menemuinya?"
"terserah!" jawabnya tampak tak peduli, dan sikapnya jelas menunjukan ketidaksukaannya pada Resya, terutama Angelica yang saat ini berdecih mengejeknya.
"dan jika di kehidupan ketiga aku masih melihatmu, maka bersiaplah untuk pergi dalam kegelapan abadi" tambah Reiga seketika membuat Angelica bungkam, namun matanya melotot di penuhi dengan api kemarahan.
Bahkan saat pria itu sudah melenggang pergi dan hilang dari pandangan, ia masih menatap bayangan kepergiannya dengan penuh kekesalan.
"sudah ku bilang untuk berhenti mengusik kehidupan orang lain, kau belum melihat bagaimana singa mengamuk saat dibangunkan dari tidurnya" peringat Resya.
Angelica tersenyum meremehkan. "ayolah, lagipula ini tidak serius, aku hanya senang bermain main, ada sedikit masalah dalam rumah tangga itu sudah biasa kan?"
"yah memang benar, lalu bagaimana denganmu yang selalu menangis saat terdesak rindu pada suamimu yang bekerja jauh di luar sana?"
Angelica terdiam, hatinya mulai memanas.
"jangan bahas itu, cepat temui dia sekarang, waktu kita tidak banyak" ucapnya berusaha menfalihkan pembicaraan.
Kali ini Resya yang berdecih, tapi dia tidak bicara apapun dan segera saja pergi ke kamar rawat Melody.
__ADS_1
...-----------SKIP------------...
Di sisi lain, Reiga masih berjalan menyusuri koridor rumah sakit. Dan tiba tiba saja ponselnya berbunyi, dia langsung berhenti dan melihat layar ponselnya.
Sebuah panggilan masuk dai Gray, dia segera mengangkatnya.
"hallo, ada apa om?"
"nak, maaf aku baru memveritahumu , Daren masuk rumah sakit sejak sore tadi" ucap suara itu dengan lemah.
Jantung Reiga seakan berhenti berpacu, apakah ini tiba saatnya? Apakah penyakit nya sudah mencapai stadium akhir? Apa benar hidupnya akan habis di tahun ini? Banyak sekali pertanyaan yang terbesit dalam benaknya.
"di rumah sakit mana?" tanyanya setelah beberapa saat.
"rumah sakit X, Paviliun mahar no 11, di lantai 2"
Apa? Itukan rumah sakit tempat Reiga berdiri saat ini, tanpa menunggu waktu dia langsung saja menuju lantai atas dan berhasil menemukan kamar itu dengan cepat.
Tapi langkahnya jadi melambat saat melihat Shayla sudah duduk di kursi dengan kepala tertunduk dan terisak.
Perlahan Reiga datang menghampirinya lalu menyodorkan sebuah sapu tangan yang ada di saku switernya.
Shayla langsung mendongak saat sapu tangan itu sudah di depan wajahnya, bukannya meraihnya, Shayla malah bangkit dari duduknya dan memeluk Reiga dengan erat. Tangisnya pecah dalam pelukan pria itu.
"dia sakit selama ini...hidupnya sedang berada di ujung tanduk, aku ingin berkorban untuknya walau hanya sedikit, aku ingin memberikan bagian tubuhku padanya, tapi dokter bilang, tidak ada kecocokan, aku tidak bisa memberikan apapun untuknya" jelasnya tak begitu Reiga fahami.
Dia hanya mengelus rambut pirang Shayla dan berusaha menenangkannya.
"jangan menangis, tetaplah berada di sisinya dan beri dia dukungan" hanya itu yang bisa Reiga katakan untuk saat ini. Hatinya sendiri gelisah, masih banyak hal yang belum dia fahami tentang Daren.
*
*
&
__ADS_1
*