Don'T Forget Me 2

Don'T Forget Me 2
22. Kacau!


__ADS_3

"Rei, bisa ibu bicara berdua saja dengan Icha?"


pria itu mengangguk dan beranjak.


Sekarang, tinggal ibu dan anak itu yang pembicaraannya mulai serius.


"apa apaan kelakuanmu itu?" tanya Alice tak suka, dia ingat dulu membenci Melody karna seorang wanita penggoda yang berani merebut Aldrich darinya, sedangkan semua kelakuan anaknya sekarang, terlihat seperti Melody dulu. Murahan!


"ibu juga tidak setuju kalau aku menyukai kakak?" Felisya membantah.


"tentu tidak, mana ada hubungan adik kakak yang seintim itu sampai kau berani menyentuhnya secara berlebihan!"


"karna itu aku mencintainya bu, aku tidak bisa jauh dari kakak"


"ibu rasa sebaiknya kamu mulai menjaga jarak dengan Reiga, bicara secukupnya, jangan manja padanya, dan jangan pernah pergi ke kamarnya lagi!"


"tapi kenapa? bukankah dulu ibu juga seperti itu pada ayah? ibu yang memaksa ayah untuk tetap menikah dengan ibu meski ayah tak pernah mencintai ibu "


fakta yang menyakitkan, Alice kembali mengungkit hal itu, agak menyesal dengan keputusannya dulu.


"jangan berdebat Felisya!, jika kau ingin tetap tinggal disini menurutlah pada ibumu, jika tidak! ibu akan membawamu jauh dari sini!" ancamnya membuat Felisya diam tak berkutik.


"baik bu!" ia tertunduk lesu, berjalan keluar dan turun ke lantai bawah, disusul oleh Alice yang berjalan dibelakangnya.


"hey kenapa wajahmu cemberut begitu sayang?" tanya Aldrich menyambut kedatangannya.


"ayah!" kali ini dia mengadu pada Aldrich, memeluk sang ayah dengan erat.


"kenapa sayang? ada masalah apa? katakan padaku! hem?" tanyanya sambil melirik pada Alice.


Alice menatapnya penuh maksud, lalu melirik pada Reiga. Dan permainan mata pun di mulai. saling melirik satu sama lain namun tidak ada yang mengerti.

__ADS_1


Entah ada apa dengan keluarga itu.


"hemm bagaimana kalau setelah makan malam, kita pergi menonton?" ajak Aldrich langsung disetujui semuanya.


Dan merekapun bersenang senang malam ini, khusunya menuruti semua yang diinginkan Felisya sampai larut malam.


...****************...


...****************...


Keesokan paginya, Daren mulai sekolah, dia langsung disambut teman temannya, tak terkecuali Shayla.


"sepertinya kalian tetap bersenang senang meski tanpaku ya?" tanya Daren saat mereka tengah makan dijam istirahat.


"andai Kak Daren tahu apa yang terlewatkan saat kau tidak sekolah!" jelas Felisya membuat Daren penasaran, tidak dengan Reiga dan Shayla yang langsung gugup.


"apa? "


"tahu juga percuma, itu tidak akan membuatmu senang" ucapnya semakin membuat Daren penasaran.


"bukan apa apa, Icha hanya bercanda!!" seru Shayla berusaha menghindari obrolan ini.


"huh, kalian bersekongkol untuk tidak memberitahuku!" Daren mendengus.


"tapi...kau sakit apa sebenarnya?" tanya Shayla mengalihkan pembicaraan.


Daren terdiam, setelah itu dia tersenyum tipis. "aku?, maumu sakit apa?"


"kenapa malah balik tanya padaku? aku tidak tahu!"


"kalau begitu, tetaplah pada ketidaktahuanmu itu!"

__ADS_1


Ck!


Shayla mendengus kesal, tak mau meladeni anak menyebalkan itu dan melanjutkan makannya.


Daren terkekeh, mengelus pucuk rambutnya dengan penuh kasih sayang. "tetaplah jadi Shayla yang kukenal!"


Degh!


jantungnya berpacu lebih cepat, Shayla mengangkat wajahnya dan melihat keseriusan yang terpancar dari wajah pucat Daren.


"maaf!"


"maaf? untuk apa?"


Shayla melirik pada Reiga yang sepertinya mengerti arti tatapannya. Diapun langsung pergi, menarik tangan Felisya dan membiarkan mereka bicara berdua.


mengintip dari meja kantin di sebrangnya untuk mendengar apa yang akan mereka bicarakan.


"maaf aku tidak datang menjengukmu, aku-"


"tidak perlu, aku tidak mau kau melihatku dalam kondisi seperti itu kemarin, kau hanya perlu tahu aku yang bahagia, oke?" potongnya dengan senyum merekah di bibir.


Shayla tertegun, hatinya merasa bersalah, apa dia telah menyia nyiakan orang sebaik itu selama ini? apa dia harus berbicara seperti apa hubungannya dengan Reiga sekarang?


sementara Reiga yang memperhatikan dari jauh, tidak mendengar apa yang mereka bicarakan, hanya melihat gerak gerik mereka yang tampak baik baik saja.


Tapi tiba tiba saja Daren melirik dengan sudut matanya ke arah Reiga, entah tatapan macam apa itu. Seperti menandakan sebuah peringatan.


......................


...----------------...

__ADS_1


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2