
Gerbang sekolah yang membentang tinggi itu akan di tutup beberapa detik lagi oleh penjaga. Reiga yang jaraknya tinggal 10 meter lagi dari arah gerbang langsung mempercepat langkahnya.
"Pak tunggu!" teriaknya namun terlambat, pintu di gembok tepat dia sudah tiba dihadapannya.
"kau sudah terlambat, tidak boleh masuk!"
Bukan Reiga jika dia suka berdebat, dia pun memilih untuk pergi dan mencari cara lain agar dapat masuk.
Melalui gerbang belakang sekolah yang tidak begitu tinggi, ia memanjat seperti sang ahli, dan..
BRUK!
Turun dengan heroiknya, membuat para gadis akan berteriak histeris kalau mereka melihatnya. Tapi sayang, hanya satu yang melihat aksinya itu, Seorang gadis yang sedang memegang sapu dengan tumpukan daun kering yang dikumpulkannya.
"Shayla?" tanyanya membuyarkan lamunan Shayla yang masih melongo menatapnya.
"K kau, kenapa melompat lewat pintu belakang?" tanyanya gugup.
"aku terlambat" dengan cueknya pria itu langsung pergi, tanpa bertanya apa yang Shayla lakukan di sana. Sikapnya benar benar jadi lebih dingin.
"Tunggu sebentar" cegahnya seketika menghentikan langkah Reiga.
"kalau boleh, aku ingin pergi ke makamnya Felisya sore ini"
"hm"
__ADS_1
"bersamamu"
Reiga tak lagi menyahut, ia langsung pergi begitu saja tanpa memberinya jawaban.
...------SKIP-------...
Sepanjang pelajaran tak ada materi yang masuk ke otaknya, Fikiran itu kosong, kesadarannya pun perlahan hilang, ia mulai menyandarkan kepalanya diatas bangku dan terlelap.
Tapi tak berlangsung lama saat guru menegurnya dengan keras.
"kenapa kamu tidur di kelas? Apa tidurmu tidak cukup semalam? Lain kali batasi waktu bermainmu, jangan sampai mengganggu pelajaran seperti ini, sekarang, Keluar dan bersihkan halaman belakang sekolah"
suara Bu guru yang menggema di ruangan membuat suasana kelas jadi lebih hening dari kuburan, Reiga jadi pusat perhatian karna duduk di kursi paling belakang. Tapi semua itu tak menggentarkan hatinya.
Dia beranjak dari kursi dan pergi begitu saja, namun tetap patuh pada perintah guru. Dia Mulai mengambil sapu dan menyeret tong sampah, begitu tiba di halaman belakang dekolah semuanya sudah bersih, mengkilat, tak ada yang perlu di bersihkan.
"pergi saja!" titah Reiga menghampiri orang itu , tampaknya Shayla sudah lama membersihkan tempat ini, punggung seragamnya basah karna keringat, dan tangan putih itu memerah akibat memegang alat pencukur rumput.
"tanggung, sebentar lagi juga selesai"
"aku bilang pergi!"
Mendengar nada suaranya naik, Shayla menghentikan aktifitasnya. Dan menatap Reiga dengan serius.
"apa kau membenciku?" tiba tiba saja ia bertanya demikian.
__ADS_1
"aku menyukaimu"
"apa aku jahat?"
"kau baik"
"aku serakah?"
"tidak"
"bohong, kau berbohong" elaknya. "aku tidak mencoba untuk goyah, tapi aku ingin kembali dan berada dibelakangmu setelah keadaan buruk yang menimpa Felisya, aku tidak tahu, kenapa aku sakit saat kau sakit, sama sepertimu, satu sisi aku bahagia karna Daren kembali, dan di sisi lain begitu sedih, karna kehilangan sahabatku satu satunya" Shayla mulai menangis.
"aku menginginkan dia dan dirimu, aku ingin keduanya, entah sejak kapan ini terjadi"
tidak satu katapun terucap dari mulut Reiga, dia hanya menepuk nepuk bahunya untuk menenangkan gadis itu.
Sementara sepasang mata dari kejauhan, berpaling tak sudi untuk melihat.
Daren!
Pria riang itu merasa sudah memberi harapan palsu pada sahabatbya, apakah dia harus mengakhiri obsesi cinta ini?
......................
...****************...
__ADS_1
...----------------...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...