
Melihat Shayla sudah pamit dan berjalan menuju kelasnya, Daren datang menghampiri Reiga.
"sekarang dia yang suka padamu ya?" senyumnya hambar.
"dia milikmu"
Daren menghela nafas kasar, dan kembali memamerkan senyumnya.
"aku ingin membalas jasa adikmu yang telah berkorban untukku, sungguh, tapi aku tidak bisa berikan dia padamu"
Reiga membalas senyuman Daren, "tidak perlu"
"tapi kalau kita bersaing, dan dia yang memilih, aku siap menerima keputusan apapun"
Pria itu terkekeh, dan menepuk pundak Daren seraya melebarkan senyumnya. "kalau begitu selamat berjuang"
Keduanya langsung menatap penuh kedamaian, benar benar sepasang sahabat, memiliki satu cinta pada gadis yang sama, tapi tidak menyebabkan hubungan diantara keduanya merenggang. Bahkan Daren memberinya kesempatan untuk merebut Shayla darinya.
...------SKIP--------...
langit sore ini masih cerah, angin menyapu dedaunan yang berserakan di tepi jalan raya, bagai musim gugur, Reiga membiarkan dedaunan jatuh menghujani dirinya, dia berjalan menuju halte bus, karna ia tak membawa mobilnya lagi, tentu saja, karna itu pemberian Aldrich, semua yang dia berikan Reiga tidak membawanya.
Sekarang dia juga harus segera mencari pekerjaan sampingan.
__ADS_1
Prok prok prok!
Terdengar tepuk tangan dan sorakan yang begitu riuh di ujung jalan sana, ada banyak orang yang mengerubungi sesuatu, entah apa, tapi membuat Reiga penasaran dan kakinya refleks berbelok untuk melihat.
Seorang anak kecil, memegang sebuah Flute dan memainkannya dengan begitu merdu, sangat luar biasa, bahkan dirinya ikut terharu saat mendengar Melody merdu itu.
lebih terharu lagi, karna anak kecil yang memainkannya adalah Nagisa, bocah itu, benar benar mengagumkan, bahkan topi yang ia simpan disampingnya terisi penuh oleh uang recehan.
"terima kasih!" senyum cantik gadis itu sambil membungkuk.
Mengetahui permainan sudah usai, semua yang menonton membubarkan diri, tinggal Reiga yang masih mematung disana.
"Kakak!" serunya baru menyadari keberadaan Reiga, dia langsung saja berlari dan melompat untuk memeluknya.
"sejak kapan kau jadi pengamen?" tanya Reiga karna baru hari ini dia melihatnya mengamen.
Mendengar dirinya di katakan pengamen, Nagisa langsung marah dan melepas pelukannya.
"aku bukan pengamen"
"lalu?"
"aku hanya mengumpulkan sumbangan"
__ADS_1
"sumbangan?" tanya Reiga tidak mengerti.
"ayo ikut denganku!" Nagisa menarik tangan besar Reiga, menuntunnya hingga dia tiba di sebuah gubuk tua, yang pasti akan roboh saat angin kencang meniupnya dalam sekali hembusan.
Di gubuk itu, ada seorang wanita tuna netra beserta ke tiga anaknya yang masih sangat kecil sedang meronta ronta meminta makanan.
Pemandangan yang amat pilu, Reiga berpaling tak ingin melihatnya, bukan karna jijik, tapi tak sanggup.
"mereka kasihan kan? Kakak harus membantuku membeli makanan untuk mereka!" Ucapnya lirih, cairan bening terbendung di mata besarnya.
Langsung saja Reiga menyetujuinya, mereka pergi ke mini market terdekat, membeli sejumlah makanan dan kebutuhan lain, lalu kembali dan memberikan makanan itu pada anak anak wanita itu.
"ibu, aku datang lagi, aku membawakan banyak makanan!" ucap Nagisa yang sepertinya sudah sering berkunjung ke gubuk ini.
"makanan!!" seru anak anak langsung menyerbu kantung kresek tersebut, mereka saling berebut dan bertengkar.
"hey, jangan berebut, kalau kalian berebut akan ku ambil kembali makanannya!" teriak cempreng Nagisa sambil menarik kembali kantung kresek terdebut,ekspresi wajahnya sangat lucu, seperti seorang ibu panti pada anak anak asuhnya.
"huwaaa!" anak anak pun menangis, bukan karna tak dapat makanan, tapi karna bentakan cempreng Nagisa.
"jangan seperti itu, kau menyakiti mereka" nasihat Reiga terdengar begitu lembut.
akhirnya mereka pun saling berbagi, kembali bercanda tawa, di balik krisis yang mereka alami.
__ADS_1