Don'T Forget Me 2

Don'T Forget Me 2
40. Maafkanlah masa lalu


__ADS_3

Akhirnya satu bulan sudah terlewati, suasana di rumah dan sekolah tetap seperti itu, tak ada yang berubah.


hanya saja, hubungan Reiga dengan Melody masih merenggang, Reiga yang selalu mengadu banyak hal sekarang lebih banyak diam, dan itu jadi beban fikiran bagi Melody, sehingga dirinya jatuh sakit dan berbaring lemah di atas ranjangnya.


Kali ini, Reiga masuk ke kamarnya membawakan makanan dan obat, tentu dia jadi merasa bersalah.


"Mama..." panggilnya dengan lembut, karna wajah yang masih sangat cantik itu terpejam dengan damai.


"mmm" Melody menggigil seperti orang kedinginan, dengan cepat Reiga menarik selimutnya sampai sebatas dada, lalu menempelkan punggung tangannya di dahi Melody.


Demamnya begitu tinggi!


"Ma, ayo kita ke dokter!" ajak Reiga benar benar khawatir.


Melody meraih tangan Reiga yang menempel di dahinya dan menggenggam tangan itu erat.


"maafkan mama Rei, mama wanita yang buruk"


Reiga cepat cepat menggelang, melihat kondisinya begini ia jadi tidak tega.


"jangan katakan itu, ayo bangun, Mama harus makan dan minum obat"


Perlahan Melody membuka matanya yang terasa berat itu, bahkan untuk berkedip saja ia tak sanggup.


"Ma, Mama kenapa?" tanya Reiga yang melihat Melody benar benar pucat, tatapannya kosong, dan matanya kembali tertutup.


Reiga yang mulai panik berusaha tenang, tapi saat mengecek nadi Melody, ia tak bisa merasakan denyut nadinya.

__ADS_1


bertepatan dengan itu Aldrich datang dan langsung menghampiri Melody.


"ada apa?" tanyanya ikut khawatir karna melihat wajah cemas Reiga, ia sudah berkeringat dingin.


"ayah, aku tidak bisa merasakan denyut nadinya"


"apa?" Aldrich terlonjak kaget, dia langsung mendekatkan telinganya ke dada Melody, walau terhalang sesuatu tapi dia bisa mendengar jika jantungnya masih berdetak.


"kita ke rumah sakit sekarang, cepat siapkan mobilnya" titahnya langsung di turuti Reiga.


...-------SKIP--------...


Saat ini, Melody sudah terbaring di kamar rumah sakit, ia sudah mendapat perawatan dokter, dan dokter bilang Melody tidak apa apa, hanya terlalu banyak beban fikiran sehingga menyebabkan kondisi fisiknya menurun.


"ayah perlu bicara denganmu Rei" ucap Aldrich begitu serius.


"tolong jaga dia sebentar" pinta Aldrich pada Alice yang juga ada di sisi kiri ranjang Melody.


"tentu saja" sahut Alice.


Aldrich langsung saja keluar setelah memberi kecupan singkat di dahi Melody.


Sekarang saatnya ayah dan anak tiri itu bicara hal serius.


"kenapa kau tidak bisa menerima masa lalu ibumu?" tanyanya sambil menatap bola matanya yang hitam legam.


"aku tidak tahu, rasanya begitu syulit"

__ADS_1


"kau tidak tahu semua kebenarannya, apa kau pernah bertanya kenapa Melody mau menjadi seorang wanita malam?"


"tapi, apapun alasannya itu tetap saja buruk, di mata siapapun"


Aldrich terkekeh, bukan mengejek, tapi menolak keras ucapan yang baru saja terlontar dari mulut Rriga.


"tidak, di mataku Melody adalah gadis yang sempurna, dia lebih berharga dari nyawaku, kau tau kenapa? Karna cinta yang tulus bisa mematahkan semua keraguan dan menerima setiap keadaan dengan penuh keikhlasan" Senyum Aldrich benar benar serius, wajahnya semakin dekat untuk menatap manik legam Reiga lebih dalam lagi.


"kau tahu? Salah satu orang yang pernah menyentuh Melody adalah aku, semua terjadi karna tekanan pamannya yang sekarang sudah meninggal, dia harus menjalani hidup yang rumit, kau tidak melihat seperti apa masa lalunya, tapi kau langsung percaya begitu saja saat teman lamanya mengatakan jika dia seorang kupu kupu malam" Aldrich menjeda ceritanya,


"sikapmu itu, mengingatkannya pada Alga, mungkin dia takut jika kau akan meninggalkannya seperti Alga pergi dan tak pernah kembali


Setelah Aldrich mengakhiri kalimatnya, Reiga termenung, yang dikatakan Aldrich memang benar. Seharusnya fikirannya lebih terbuka, yang sekarang dia miliki adalah Melody, bagaimana bisa dia menjauhinya?


Tanpa menunda waktu lagi Reiga segera masuk ke kamar rawat Melody dan menggenggam jemarinya.


"cepat buka matamu Ma, mama harus sembuh, aku janji akan memaafkan masa lalu mama dan kita mulai lagi semuanya dari awal" Reiga mulai mengoceh seperti Felisya, Sekarang dia tahu apa gunanya mengoceh, dan itu bukan hal yang buruk juga.


Lama Reiga menunggu, Melody tak kunjung membuka kelopak matanya, sampai Reiga tertidur sambil menggenggam jemari sang ibu.


......................


...****************...


...----------------...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2