Don'T Forget Me 2

Don'T Forget Me 2
45. Rencana tuhan begitu buruk


__ADS_3

Tiba di rumah sakit, Felisya langsung di bawa ke ruang UGD dan di tangani lebih lanjut oleh para dokter, Reiga yang tak boleh masuk itu menunggu di luar dengan cemas. Tak peduli dengan pakaiannya yang terkena darah Felisya, atau rambut kusut dan wajah pucatnya, ia hanya cemas dengan keadaan adik tercintanya saat ini.


Belum ada niatan untuk menghubungi pihak keluarga lain, karna dia tau mereka juga pasti akan sangat panik dan menyalahkannya, karna itu Reiga perlu waktu sebentar saja untuk menenangkan diri.


Setelah cukup lama, dokter keluar dan memanggil wali pasien, Reiga buru buru menghampirinya berharap sang dokter membawa kabar baik.


"bagaimana dokter?"


Dokter tak segera menjawab, ia menatap Reiga begitu dalam, setelahnya menghela nafas dan mulai bicara.


"maaf nak, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi hidup adikmu hanya sampai disini saja" dengan berat hati dokter menyampaikan berita yang sangat buruk ini.


Mendadak!


Sangat mendadak!


semua ini tidak ada dalam rencana hidup Reiga, ia sudah menuliskan takdirnya untuk bahagia, kenapa tuhan selalu saja mengubah rencananya? darimana Dia tahu kalau ini akan lebih baik baginya?


"tapi dia sempat sadar dan mengucapkan sesuatu" ucap dokter lagi.


"apa?"


"dia mengatakan, bagi tubuhku untuk yang lain" jelas dokter.


Sejak kapan? Sejak kapan ia peduli pada orang lain? Kenapa rasanya begitu menyayat hatinya?


"kalau boleh tau, apa maksudnya?" tanya Dokter.


"teman kami mengalami sakit ginjal, keadaannya di ambang kematian sekarang, dan dia butuh pendonor ginjal, kalau tidak, hidupnya juga akan berakhir" Reiga menjelaskan dengan suara pelan, tenggorikannya kering karna menahan air mata yang bisa kapan saja keluar, tentu daja sebagai seorang pria, menangis itu sangat memalukan.

__ADS_1


Dokter yang langsung memahaminya hanya mengangguk, mengelus pundak Reiga untuk menenangkan.


...****************...


Reiga sudah menghubungi pihak keluarga yang lain, sambil menunggu kedatangan mereka, ia menatap tubuh tak bernyawa milik Felisya, terpejam damai, tersenyum tipis seolah menyiratkan kalau dia pergi tanpa adanya beban.


Kalau saja Reiga tahu jika pelukan yang tertunda tadi adalah pelukan terakhir, maka ia tidak akan pernah melepaskannya, kalau saja tahu jika ternyata ia merindukan Felisya lebih dari yang dibayangkan, maka ia tidak akan setuju untuk mengirimnya ke sekolah asrama.


Sekarang yang tersisa tinggalah kata "andai", tak ada yang bisa dilakukan lagi selain menerima takdir tuhan.


Tap!


Tap!


Tap!


Terdengar beberapa langkah orang berlarian, menuju tempat mereka berada, tidak lain dan tidak bukan, keluarganya datang dengan tangis yang membucah.


"icha..." ia menangis histeris saat tahu kondisinya yang sangat buruk, tulang tulangnya seolah ikut bergeser, tapi dia tetap memeluk Felisya untuk yang terakhir kalinya.


"bangun Icha...jangan tinggalkan ibumu" teriaknya teramat pilu.


Sama halnya dengan Aldrich, ia menangis tanpa suara, membelai wajah pucat Felisya yang sudah dingin.


"kau apakan putriku?" tanyanya sambil menatap Reiga tajam. "kenapa hanya putriku yang mengalami ini?"


Reiga tak menjawab, sebelumnya ia sudah jelaskan di telpon, yang ia tahu sekarang, kalau dia harus siap menerima segala tuduhan dari kedua orang tua kandungnya.


"memang seharusnya aku ayah, tapi tuhan yang tidak adil" ucapnya begitu dalam.

__ADS_1


Melody yang berdiri disampingnya menggandeng tangan Reiga dan mengelusnya. "jangan pernah menyalahkan tuhan, Rei!"


"kenapa kau merenggut duniaku? Kenapa kau selalu merebut yang ku miliki? Apa hanya karna aku merebut dia darimu sampai kau harus muncul di kehidupan kedua dan merebutnya lagi?" tanya Aldrich sambil menunjuk Melody. Yah, dia kembali mengungkit masa lalu.


"lalu sekarang, kau merebut satu satunya putriku, Tuan putriku, duniaku, kehidupan baruku, cahayaku"matanya memerah, menatap Reiga penuh kebencian.


"aku salah telah membuka hatiku untukmu, aku salah telah mengizinkanmu untuk menikah dengannya, semua yang kau lakukan hanyalah pembalasan, dan pembalasanmu ini sudah melebihi batas... Mulai detik ini, pergi dan jangan pernah menampakan wajahmu di hadapanku lagi"


Reiga tertunduk dalam, ia tahu ini akan terjadi.


"tapi ayah-"


"PERGI!"


"Ayah-"


"PERGI!" suaranya tinggi maksimum, membuat Reiga tak bisa bicara lagi, dan langsung melenggang pergi.


Melody bermaksud mengejarnya, tapi tangannya tiba tiba di tahan Aldrich.


"biarkan dia pergi"


Melody tahu, tatapan menyeramkan itu tidak akan bisa di bantah, tapi hati seorang ibu lebih besar untuk anaknya, tak peduli jika Aldrich akan membencinya nanti, untuk sekarang Melody tetap memaksa pergi dan menyusul Reiga.


......................


...****************...


...----------------...

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2