
Biarkan semua berjalan sebagaimana mestinya...
Dalam seminggu ini, banyak sekali perubahan, seperti perasaan yang tumbuh dan keluar dari zona nyamannya.
Reiga mengambil buku gambar dan mulai menggerakan pensilnya melukis sesuatu yang dia fikirkan.
Tiba tiba tangannya berhenti, saat menyadari jika gambar yamg dilukisnya adalah Shayla. Ia pun langsung mengambil penghapus dan menghapus gambar tersebut.
"aku selalu memikirkannya, apa dia pernah memikirkanku?" gumamnya bermonolog sendiri.
Hatchi!!
katanya orang akan bersin kalau ada yang rindu, dan inilah yang sedang terjadi pada Shayla. Mendadak bersinnya mengacaukan lukisan yang hampir selesai.
"aaaah hampir selesai, siapa sih yang merindukanku diwaktu tidak tepat ini" geramnya menjadi tidak mood. Ia bersandar di kursinya dan menatap langit langit kamarnya dengan jengah.
Dia kebosanan!
Shayla mengambil ponselnya, entah kenapa malam ini dia merindukan Reiga, pernah tertarik padanya, namun ternyata daya tarik Daren lebih kuat. dan ia menyukai keduanya.
Diapun melakukan panggilan dengan Reiga yang tak lama langsung mengangkatnya.
"hallo!" sapa suara dari sambungan telpon.
"hay, ada yang sedang kau lakukan?" tanya Shayla berharap pria itu tidak sibuk.
baru saja dia memikirkannya.
"tidak ada!"
"tidak melukis? pameran sekolah akan diadakan seminggu lagi loh! berapa karya yang akan kau tampilkan nanti?"
"belum tahu!"
Shayla mendesis kesal, menelponnya agar tidak bosan, tapi menambah kebosanannya. Tapi tak ada teman lain yang suka melukis sama sepertinya.
"katanya di padang ilalang kalau malam hari banyak kunang-kunang loh, kita akan pergi kesana untuk melukis?" tanyanya begitu antusias.
"berdua?"
"iya, siapa lagi? Daren tidak mungkin membawa rumput kering menjalarnya itu kan? terlalu ribet, dan Icha, dia akan gatal gatal saat berada ditempat seperti itu"
Reiga terkekeh, Rumput kering menjalar? seenaknya saja
"itu rotan!"
"iya apapun itu"
"baiklah, aku akan menjemputmu!"
Tuut!
__ADS_1
Reiga menutup sambungan telponnya, dia langsung mengambil Hoodie putih di dalam lemari dan pergi. tapi perjalanannya tidak mulus saat ia dicegat Felisya di depan pintu.
"hemm wangi sekali, kakak mau kemana? janjian dengan wanita? siapa itu?" celotehnya sambil mengendus ngendus parfum vanilanya.
"hanya sebentar!" Reiga meminggirkan tubuh mungil Felisya dan membuka pintu.
"aku mau ikut!" Dia mulai merengek.
"kali ini tidak!"
gadis itu mengerecutkan bibirnya. "Ayaaah Kakak tidak mau mengajakku!" dia berteriak mengadu tanpa beranjak dari tempatnya.
"Reeeiii!" teriak orang serumah bersamaan, yang didapur, di kamar , di ruang kerja, semuanya kompak sekali.
"akan kubelikan apapun, tapi jangan ikut!"
mata Felisya berbinar. "woah kalau begitu aku mau boneka monyet yang besar! yang ukurannya sama seperti kakak" pintanya.
"memang ada?" tanya Reiga tak yakin.
"cari saja! kalau kakak tidak mendapatkannya, aku tidak mau bicara dengan kakak lagi, titik!" ucapnya langsung saja pergi, Namun setelah beberapa saat dia kembali dan memberi kecupan singkat di bibirnya.
Cup!
"aku mencintaimu!" senyumnya lalu pergi.
"dasar!" Reiga mengusap bibirnya, kini dia harus terbiasa dengan sikapnya yang seperti itu.
akhirnya, Reiga dan Shayla tiba disana. Cukup gelap, namun terlihat indah saat kunang kunang datang dan hinggap diantara dedaunan.
karna mereka masih butuh pencahayaan, Reiga membuat api kecil agar sedikit lebih terang lagi.
"indah kan?" tanya Shayla sibuk menata letak kanvasnya.
"lebih indah kalau lihat kesana!" Reiga mengapit dagu Shayla agar menatapnya ke langit.
Cling!
Malam yang indah, sepertinya musim panas sudah tiba, Hiasan langit malam ini sungguh indah. Bintang-bintang terlihat seperti dekat dan mudah digapai.
"ah aku ingin menangis melihatnya!" decaknya begitu kagum.
dia terus saja menatap ke langit, sementara Reiga sudah merangkul bahunya dan ikut hanyut dalam keindahan malam.
"Rei.." ucapnya sambil bersandar dibahunya.
"hem?"
"aku tidak pernah seperti ini dengan Daren!"
__ADS_1
"kalian pacaran?"
"tidak, aku menyukainya!"
Tanpa mengungkapkanmya pun Reiga sudah tahu, jika cintanya tidak akan terbalas.
"dia selalu gugup, sampai tangannya dingin"
"dia menyukaimu juga"
Shayla mendongak, menatap netranya yang pekat, jarak merekapun semakin dekat, membuat gadis itu mengerti apa yang akan Reiga lakukan.
"tidak Rei!" ucapnya sambil meletakan jari di telunjuk dibibirnya. "kenapa kau lakukan itu?"
Reiga terdiam, ia mengelus pelipis Shayla dan terus menatapnya.
"kau menyukaiku?" tebaknya.
"hem!"
Shayla mengerutkan alisnya tak mengerti. "ah aku lupa kalau kita kesini untuk melukis!" dia mengalihkan pembicaraan dan mulai mengambil palet dan kuasnya.
"kalau Daren mengungkapkan perasaannya, kau akan terima?"
Shayla melirik. "pasti!"
Tiba tiba ponselnya berdering, Shayla merogoh saku roknya dan mengangkat sambungan telpon dari Daren.
"halo nona mangga muda!"
"jangan memanggil namaku seperti itu, kenapa kau menelpon?"ucapnya terdengar tak suka.
"bisa kita bertemu? aku berencana mengajakmu dan yang lainnya keluar malam ini, ada tempat luar biasa yang sudah kusiapkan!"
Shayla melirik pada Reiga yang juga mendengar hal itu. "aku sedang bersama Reiga!"
"tidak ajak ajak, dimana? aku akan menyusul!"
"padang sawah dekat perempatan!"
"apa disana tidak ada ulat? belalang? ular? atau serangga menyeramkan lainnya?" cerocosnya benar benar cerewet seperti wanita.
"tidak Daren, cepat kesini! tapi sebelum itu jemput Felisya, oke?"
"okey, tunggu sampai aku mengatakannya!"
Tuut!
sambungan terputus!
untuk kata kata terakhir, Shayla sempat memikirkannya. apa dia akan mengungkapkan perasaannya didepan teman temannya malan ini?
__ADS_1