
Shayla masih saja mengadu di pelukan Reiga.
"berhentilah menangis, semua akan baik baik saja " ucapnya lembut , perlahan ia melepas pelukannya dan menghapus air matanya.
"ayo kita masuk!"
Gadis berambut pirang itu menggelang dengan kepala tertunduk. "aku tidak sanggup melihatnya dalam kondisi seperti itu"
Sekali lagi Reiga bersikap manis, ia mengangkat dagu Shayla dan menatap matanya yang sudah sembab karna menangis.
"Daren membutuhkan dukunganmu, percayalah!"
Pandangan mereka membentuk garis lurus, Shayla menerobos kegelapan dalam legamnya bola mata Reiga, mencari kebenaran dari tatapannya, dan ia temukan itu.
Akhirnya merekapun masuk dan menghampiri Daren yang sudah terbaring lemah di atas ranjang, Di samping itu, Gray yang menemani Daren tengah tertidur dengan kepala bersandar pada kursi. Wajahnya tampak kusut dam begitu kelelahan.
"Daren!" ucap Reiga tak lepas pandangan dari wajah damai yang terpejam itu.
Beberapa hari yang lalu kondisinya memang agak buruk, ia selalu datang ke sekolah dengan wajah pucat, wajahnya seringkali terlihat menahan rasa sakit, dia lebih banyak diam dan tak bicara, namun hingga saat ini, Reiga masih belum mengetahui apa penyakitnya.
"sebenarnya dia sakit apa?" tanya Reiga.
Shayla menggelang, tak ingin menjelaskan. Dia hanya berkata, "dia butuh ginjal baru"
"dia harus hidup" gumamnya benar benar berharap besar pada tuhan.
Mendengar obrolan mereka, Gray langsung terbangun dan menatap ke arah mereka.
"ah, nak, sejak kapan kau datang?" tanya Gray langsung menyambutnya.
Reiga tak menjawab, itu bukan hal yang penting. Dia lebih mencemaskan kondisi sahabatnya saat ini.
__ADS_1
"apa Daren akan sembuh?"
"yah, tentu saja, dia akan sembuh setelah ada orang yang mendonorkan ginjalnya" jawabnya.
"apa golongan darahnya?"
"golongan darahnya B, karna itu aku tidak bisa memberikan ginjalku padanya, karna golongan darahku AB negatif" jelasnya.
"dan golongan darahku A" sahut Shayla.
"golongan darahku juga A" ucapnya merasa kecewa.
Mereka di sini mau berkorban, kehilangan satu ginjal tidak akan mengurangi kebahagiaan mereka. Namun tak ada yang bisa di lakukan kalau takdir tuhan berkata lain.
Mereka kembali diam dalam fikiran masing masing , jelas terlihat wajah Gray semakin kusut, ia terduduk sambil memperhatikan Daren. Wajah yang selalu mencetak senyum bahagianya, wajah yang tidak pernah mengeluh, selalu ada secercah harapan untuk hidup. Mengapa tuhan harus memilih dia?
"golongan darahnya sama dengan ibunya, tapi itu hal yang mustahil jika Amira kembali untuk menemuinya, aku tidak menyangka dia aka n setega ini" ucapnya benar benar merasa sedih.
Esok paginya, keadaan Melody sudah membaik, bahkan dia memaksa dokter agar membolehkannya pulang dan rawat jalan saja.
"kau yakin mau pulang Melody?" tanya Aldrich yang datang menjemputnya.
Hari ini hari libur, karna itu semua orang ada di rumah.
"iya, kalau hatiku sudah membaik, maka semua juga akan baik" senyumnya kembali riang.
"kau memang selalu berlebihan, tidak pernah berubah" ucapnya sambil menjitak pelan dahi Melody.
"aw, sakit tahu!" ringisnya langsung menjauhkan tangan Aldrich.
"ayah jangan lakukan itu! Mama belum sepenuhnya pulih" tegur Reiga saat melihat dahi Melody yang sedikit memerah.
__ADS_1
Aldrich menoleh, "memangnya apa yang kau lakukan pada putriku? Kau menjentik bibir dan dahinya setiap hari, kau fikir aku tidak kesal saat melihatnya?"
Reiga langsung terdiam, merasa terpojokan.
"jadi jangan kesal kalau aku melakukan ini juga pada ibumu"
PELETAK!
Sekali lagi Aldrich menjitak pelan dahi Melody dan membuatnya kembali meringis. Namun kali ini Melody tak tinggal diam, walau fisiknya masih lemah, ia melakukan pembalasan pada suaminya itu.
Jiwa kucing liar dalam dirinya mulai muncul, ia cakar habis lengan dan wajah Aldrich.
"kau ingin menjentikku lagi hah? Ayo, ayo lakukan!" titahnya terus melakukan penyerangan.
"tidak tidak, aku tidak akan melakukannya lagi istriku yang cantik, aku janji, tolong hentikan!" Aldrich memohon sambil berusaha menghindari amukan kucing liarnya ini.
Melody menghentikan aksinya, dia langsung saja memalingkan wajahnya yang cemberut itu.
"maaf Melody" ucapnya bermaksud menyentuh tangannya, namun segera Melody hempaskan dengan kasar.
"apa dahimu masih terasa sakit? Sini coba ku cium, pasti tidak sakit lagi" Aldrich masih berusaha membujuk.
Ia meraih wajah Melody dan mencium dahinya berkali kali, lalu turun ke hidung, mengecup pipi kiri dan kanannya , kemudian berakhir di bibir.
Tidak tahu malu, bermesraan di depan Reiga yang jadi salah tingkah melihat kelakuan ayahnya yang mesum itu.
"sudah cukup!" Melody mendorong Aldrich agar berhenti melakukan ciuman bertubi tubi itu. Tentu saja dia malu, karna Reiga memperhatikannya.
"sepertinya di sini juga ada yang ingin" sindir Aldrich membuat Reiga ingin sekali menggetok kepalanya dengan keras agar otak mesumnya bisa keluar.
"jangan dengarkan dia Rei, otak ayahmu memang agak geser" ucap Melody.
__ADS_1
"dia bukan ayahku" ucapnya seketika membuat Aldrich tertawa renyah, merasa berhasil telah mengerjainya, sampai wajahnya memerah seperti itu.