Elang Bersama Sayap Yang Patah

Elang Bersama Sayap Yang Patah
Bab.10


__ADS_3

Setelah memperkenalkan diri, Louis membawa Falisha ke meja dimana anak dan istrinya berada. Louis juga memperkenalkan Falisha pada Saras dan juga pada sang anak yang masih duduk di bangku SMA.


"Kamu cantik, cocok dengan Elang." Puji Saras.


"Terima kasih tante," balas Falisha, kini dia tahu cara untuk dekat dengan Elang.


Mereka pun membahas Elang selama di kampus, selama pembicaraan itu. Falisha selalu memuji Elang.


"Apa kamu pernah bertemu, dengan ibunya Elang?" tanya Louis penasaran, membuat Saras mendelik tak suka saat Louis membahas mantan istrinya itu.


"Mas, kenapa tanya dia sih." Protes Saras.


"Aku cuma mau tahu aja, gimana dia? Siapa tahu dia jadi gembel," kekeh Louis, padahal Louis tahu bahwa Yurika baik-baik saja. Namun, pekerjaannya saja yang tak dia tahu.


Saras memutar bola mata malas, dia melanjutkan makan dan menyimak obrolan Louis dan Falisha.


"Gimana? Apa kamu pernah bertemu, dengan ibunya?" tanya Louis.


"Aku kira, tante Saras ibunya Elang." Kekeh Falisha.


"Bukan, saya hanya ibu tiri." Sahut Saras dengan ketus.


"Selama saya mengenal Elang, saya tidak pernah bertemu. Dengan ibunya, Om. Elang selalu menutup diri jika urusan pribadi," papar Falisha.


"Begitu," gumam Louis bisa di dengar Falisha.


"Memang kenapa, Om dan Tante bercerai?" tanya Falisha.


"Ibunya Elang selingkuh dan sempat hamil, jadi suami saya menceraikannya." Saras memotong Louis yang akan bicara, Louis sendiri tak percaya bahwa Saras akan menjelekan mantan istrinya.


"Saras," tegur Louis.


"Kenapa mas? Memang begitu kan? Dia sampai masuk rumah sakit, karena ingin menggugurkan anak itu." Bohong Saras, Louis hanya mampu diam saja. Jika membantah maka, akan ketahuan jika dia yang selingkuh dan pernah menggugurkan anak mereka sebelumnya.


"Astaga, ternyata ibunya Elang jahat." Ujar Falisha.


"Memang," sahut Saras.


Mereka pun melanjutkan obrolan, bukan tentang Yurika. Tapi, tentang Elang dan kegiatannya. Karena Louis berencana membuat Elang memimpin perusahaanya, walau sudah di tentang oleh Saras karena Saras hanya ingin anaknya lah yang memimpin perusahaan Louis.


****

__ADS_1


Aiyla dan Elang tak benar-benar pergi, mereka masih diam di parkiran mall. Untuk menenangkan emosi Elang, yang masih membara.


"Kita pulang saja?" 


"Tidak, aku mau kencan sama kamu." Cetus Elang, membuat Aiyla menghela napas dengan pelan. Bisa-bisanya dia kepikiran kencan, disaat emosinya belum stabil.


"Ya sudah terserah kamu, aku ikut saja." Kata Aiyla.


Elang turun dari mobil, dan membukakan pintu untuk Aiyla. Aiyla hanya memandang Elang.


"Ayo turun, kita makan dulu. Jika tidak jadi menonton," celetuk Elang.


"Astaga, sabar." Ucap Aiyla dalam hati, dia kira Elang akan pulang tapi malah mengajak masuk kembali ke dalam.


Pasrah Aiyla pun mengikuti Elang, agar suasana hatinya tak buruk. Mereka masuk ke cafe dan memesan makan, lagi dan lagi Elang bertemu kembali dengan Louis. Beruntung Falisha sudah lebih dulu pulang. 


"Elang," sapa Louis kini dia lebih ramah.


"Ada apa? Langsung saja, jangan basa-basi." Kata Elang dengan dingin, Aiyla hanya tersenyum tipis pada Saras dan Louis lalu mempersilahkan mereka duduk.


Louis tertawa, mengagumi kemampuan Elang yang sangat tahu apa yang dia mau.


"Papa mau, setelah kamu lulus. Kamu bekerja di perusahaan papa." Ucap Louis. Namun, Elang tak menjawab dia hanya menatap sang ayah dengan dingin.


"Kenapa harus, aku?" tanya Elang.


"Karena kamu, anak laki-laki ku. Yang pantas meneruskan usaha ku," jelas Louis dengan bangga.


Elang tersenyum miring, lalu menatap Saras dan adik satu ayah.


"Memangnya anakmu tak, pantas?" cibir Elang menatap tajam Saras dan anaknya.


"Hey! Jaga bicara mu, anakku pantas untuk memimpin perusahaan ayahnya. Tidak seperti kamu," marah Saras, tak terima Ziva sang anak di jelekan.


"Memang aku kenapa?" 


Sementara itu remasan tangan Elang semakin erat, pada tangga Aiyla yang berada di bawah meja. Walau sakit Aiyla menahannya, agar Elang tidak menyerang Saras.


"Karena kamu, lahir dari anak wanita murahan. Dia berselingkuh dengan pria lain sampai mempunyai anak," bohong Saras, dia hanya ingin menjelekan Yurika didepan semua orang saking kesalnya.


Aiyla menatap tak percaya wanita di depannya ini, begitu entengnya dia menjelekan dan mengumbar aib sesama perempuan. Semua orang terkejut saat Elang menggebrak meja, sampai semua makanan yang dia pesan tumpah.

__ADS_1


Tidak peduli menjadi perhatian, Elang menatap tajam Saras. Seolah ingin memakannya hidup-hidup.


"Jaga mulutmu itu Saras, aku masih menghormatimu. Karena kamu istrinya Louis, jangan pernah menghina ibuku dengan mulut kotormu itu." Teriak Elang, Aiyla mencoba menahan dada Elang agar tenang.


"Elang sabar, kendalikan emosimu." Bisik Aiyla. Namun, Elang sudah emosi jadi sangat sulit untuk mengontrol emosinya.


"Saras, cukup!" bentak Louis, tak habis pikir dengan pikiran istrinya itu.


"Kenapa, mas? Mas mau bela perempuan itu hah? Kamu masih mencintainya iya?" cerca Saras.


"Ayo Ziva, kita pergi." Ajak Saras, dia menarik lengan sang anak dengan langkah cepat meninggalkan restoran tersebut.


"Elang, maafkan mama Saras. Untuk permintaan Papa, tolong pikirkan baik-baik untuk masa depanmu." Ujar Louis, lalu pergi meninggalkan cafe tersebut.


Elang melepaskan tangan Aiyla, lalu pergi dengan berlari.


"Elang tunggu ... Elang," teriak Aiyla, dia mencoba mengejar Elang tapi tak bisa. Langkah kaki Elang panjang, dan dia berlari dengan cepat.


"Astaga Elang, Elang..." Teriak Aiyla, saat tiba di parkiran mobil milik Elang sudah tak ada.


Aiyla hanya takut Elang nekat, tapi Aiyla selalu menyakinkan diri jika Elang tak mungkin bunuh diri.


"Elang." Gumam Aiyla khawatir, Aiyla pun memutuskan untuk menghubungi Kevin karena takut terjadi sesuatu dengan Elang.


Sementara itu dengan wajah memerah dan mata berkaca-kaca, Elang melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Tak para pengguna jalan meneriaki atau memaki dirinya.


Bahkan lampu merah Elang menerobosnya, beruntung tak ada polisi saat itu.


"Woy! Cari mati lo." 


Elang tak peduli, dia terus melesatkan mobilnya. Kemana pun tujuannya, asal bisa membuat Elang tenang. 


Beberapa puluh menit kemudian, Elang sudah sampai di pantai yang lumayan cukup sepi. Dia duduk di cap mobil menatap lurus ke depan, memikirkan semua yang terjadi dalam hidupnya. Dia ingin tak percaya pada perkataan Saras, tentang Yurika yang pernah memiliki anak dan menggugurkannya. Louis juga tak membantah malah diam saja, sakit? Tentu saja sakit hati, disaat semua anak menikmati waktunya dengan kedua orang tuanya. Dirinya malah hanya dengan pengasuh.


Louis tidak tahu saja, bahwa Elang memiliki cafe yang sudah dua tahun lalu dia buka. Dan hasilnya cukup untuk dia menikah dengan Aiyla, memikirkan itu Elang tersadar dia meninggalkan Aiyla di mall.


"Maafkan aku, Aiyla." Lirih Elang, dia masih ingin sendiri dan tak ingin di ganggu.


bersambung...


Jangan lupa, tinggalkan jejak makasih 🙏

__ADS_1


__ADS_2