Elang Bersama Sayap Yang Patah

Elang Bersama Sayap Yang Patah
Bab.28


__ADS_3

Elang melajukan motornya dengan kecepatan penuh, tak peduli jika dia ditangkap polisi. Maka jalannya untuk membuat laporan semakin mudah.


Tujuan Elang satu-satunya kini adalah markas Mamba, yang terletak di salah satu gedung kosong yang ditumbuhi ilalang dan rumput liar. Lebih mirip tempat berkumpulnya setan, di banding dengan tempat 


berkumpulnya manusia.


Kevin dan yang lainnya mengikuti Elang dari belakang, karena Elang sangat cepat mereka pun tertinggal.


"Astaga, Elang. Cepat sekali dia." Gumam Kevin, menatap lokasi motornya kini. 


Tiga puluh menit kemudian, Elang sudah tiba di gedung kosong tersebut. Jalanan ini jarang dilalui karena menurut rumor angker, padahal itu ulah geng Mamba yang sengaja agar warga tak melintas jalan tersebut.


Elang memarkirkan motornya dengan asal, terlihat tongkat baseball disudut lalu mengambilnya dan mulai menghancurkan kaca jendela, lalu memukul pintu dengan keras.


"Keluar lo, Rendy sialan!" Teriak Elang, dia seperti kesetanan melakukan pukulan pada pintu. Yang bisa di pastikan sebentar lagi akan rusak.


Anak buah Rendy yang berada didalam, tentu saja terkejut. Mereka kira Elang tak akan sampai ke markas mereka.


"Bagaimana ini?" tanya salah satu anak buah Rendy.


"Gak tau gue, si bos gak buat antisipasi. Dia main keributan aja," omel yang lain.


Terpaksa mereka pun bersiap dari serangan black angel, yang anggotanya tak seberapa. Namun, mereka tahu kehebatan Raka, Kevin, Reno dan Daffa berkelahi.


Brak! Pintu berhasil terbuka, mereka bisa melihat kemarahan Elang. Tatapan mata tajam, seperti seekor burung yang siap memangsa buruannya.


"Dimana Rendy?" tanya Elang, tanpa basa-basi.


"Dia tidak disini," sahut anak buah Rendy, membuat Elang tersenyum miring. Dia menghancurkan meja yang ada di depannya, membuat minuman pecah berserakan.


Tak lama Kevin dan lainnya datang, mereka menatap Elang yang sedang marah. Baru kali ini, mereka melihat Elang sangat marah.


"Dimana Rendy? Atau ... Nyawa kalian taruhannya." Marah Elang.


"Kita gak tau."


Elang muak dia memukul kembali apa yang ada di depannya, termasuk guci milik Rendy yang harganya ratusan juta dia hancurkan.


Anggota Mamba saling pandang, mereka sungguh tak berani berhadapan dengan Elang. Apalagi persenjataan mereka ada di atas, ini diluar prediksi mereka. 

__ADS_1


***


Aiyla sendiri dia sudah diikat oleh Juno, walau tak tega tapi Juno harus melaksanakan perintah dari sang bos. Aiyla belum sadar, dia masih pingsan akibat pukulan yang Rendy berikan.


Lima menit kemudian, Aiyla mulai mengerjapkan matanya dia menyesuaikan cahaya lampu yang membuatnya silau. Saat sadar dalam bahaya, Aiyla berteriak dan memanggil nama Elang dan ayahnya.


"Lepaskan saya ... Lepas, lepaskan sialan!" jerit Aiyla, dia berusaha melepaskan ikatan. Namun, bukannya lepas ikatan tersebut membuat tangan Aiyla memerah.


"Lepas, tolong. Tolong saya." Lirih Aiyla, karena dia sudah mulai lelah. Menatap sekeliling tersadar tidak ada Rendy disana.


Juno mengambil air mineral untuk Aiyla.


"Minumlah," titah Juno. Namun, Aiyla memalingkan wajahnya. Juno dia kenal Juno, dia adalah teman dekat Aiyla saat duduk di bangku SMP dan SMA.


"Juno, aku tahu kamu baik. Tolong lepaskan aku," pinta Aiyla dengan memohon.


"Aku akan melepaskan mu, Aiyla. Tapi dengan satu syarat," cetus Juno.


"Syarat? Syarat apa?" tanya Aiyla, dia berharap Juno masih baik padanya.


"Menikahlah denganku, maka kamu akan aman dari Rendy." Jelas Juno, membuat Aiyla mendelik dan tersenyum miring. Aiyla kira Juno sebaik dulu, tapi dia sama saja dengan laki-laki yang mendekatinya karena harta.


"Jangan harap orang-orang akan menemukanmu." Juno pergi meninggalkan Aiyla sendiri, Aiyla kembali menangis berharap Elang atau sang ayah bisa menemukannya dan menyelamatkannya.


"Elang, Papa." Isak Aiyla, dia memandang keluar jendela, tidak tahu bagaimana keadaan keluarganya.


Kembali ke Elang, dia membabi buta memukul satu persatu anggota geng mamba. Kevin dan yang lainnya tidak bisa berbuat banyak, karena dia tidak bisa mencegah Elang.


"Katakan," bentak Elang dengan nada dingin.


"Ba-baiklah, tapi berhenti jangan pukuli kami lagi." Pinta Andi, Andi dan sepuluh orang anggota mamba kalah hanya melawan satu orang. 


"Cepat katakan." Marah Elang, menginjak tulang kering Andi. Membuatnya menjerit.


"Akhhhh ... Stop Elang, oke gue bakal bicara. Rendy dan Juno membawa Aiyla ke suatu pegunungan yang letaknya jauh dari kota Bandung." Ungkap Andi dengan cepat, sungguh dia tak kuasa menahan sakit tersebut.


Bugh! Sekali lagi Elang memukul Andi, lalu setelah mendapatkan apa yang dia mau. Elang menatap Kevin dan mengangguk.


"Sisanya, gue serahin sama lo." Kata Elang, lalu pergi dari tempat tersebut.

__ADS_1


"Gila, bener ... Bener gila si Elang. Dia bisa ngalahin sebelas orang hanya dengan tongkat," celetuk Daffa yang sejak tadi melihat, bagaimana Elang yang hampir membunuh semua anggota Mamba.


"Sudahlah, ayo kita urus mereka. Kita lapor polisi sekalian." Celetuk Raka.


"Heh ... Apa salah kita? Harusnya kita yang lapor polisi," protes Andi tak terima.


Kevin, Raka, Reno dan Daffa tertawa sangat menyebalkan, mereka tak tahu saja jika kejahatan Rendy dan Mamba sudah ada di tangan mereka.


"Bermimpi lah terus," ejek Raka.


Mereka pun membawa anggota yang terluka akibat Elang, tak ada satupun yang menyusul Elang karena mereka percaya Elang bisa menghadapi Rendy dan Juno. Apalagi, para bodyguard sedang bergerak mengikuti Elang juga.


Black Angel malaikat kegelapan, pantas disematkan pada anggotanya termasuk ketuanya Elang.


Sementara itu kepala bodyguard yang di tugas 'kan oleh Adskhan, sudah menemukan titik dimana Aiyla. Dia pun melaporkan pada Elang dan juga Adskhan.


***


Harika tersadar orang pertama yang dia cari adalah Aiyla, mereka semua berkumpul di satu ruangan. Dengan penjagaan ketat.


"Mas, bagaimana keadaan, Aiyla?" tanya Harika dengan mata yang berkaca-kaca.


"Doakan saja, mudah-mudahan Aiyla baik-baik saja." Ujar Adskhan, membuat Harika menggeleng. Dia sangat takut terjadi sesuatu pada anak semata wayangnya.


Selain Harika, Yurika juga sangat mengkhawatirkan Elang. Dia terus menghubungi Kevin. Namun, tak ada jawaban dari Kevin atau yang lain.


"Semua akan baik-baik saja, Tan. Aku percaya Aiyla kuat," celetuk Siska, Yurika dan Harika mengangguk secara bersamaan.


"Kevin, semoga lo baik-baik saja. Kembali dengan selamat, karena gue ingin berbicara jujur tentang perasaan gue sama lo."  Batin Siska, menatap ponsel yang menampilkan foto dirinya dan Kevin.


Falisha sendiri dia sedang tertawa bahagia di apartemen miliknya, tak ada yang tahu ini rencananya dengan Rendy. Tapi, Falisha lupa jika Adskhan bukan orang sembarangan. Bahkan ayahnya saja bisa jadi tak bisa menyelamatkan Falisha, jika Falisha ikut terseret.


"Bersulang untuk kemenangan gue, hahah."


"Ini akibatnya, jika menolak gue." Rancau Falisha, karena terlalu banyak minum.


"Gue mencintai lo, Elang. Gue cinta sama lo," teriak Falisha, lalu tertawa dalam tangis seperti orang gila saja. 


bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak, maaf typo


__ADS_2