
Elang dengan kasar melepas pelukan Falisha, lalu pergi meninggalkan ruang tamu tanpa pamit. Umpatan-umpatan keluar dari mulutnya, yang masih didengar oleh semua orang. Termasuk Falisha, yang sudah memerah menahan amarah.
"Astaga anak itu, maafkan Elang. Yah nak Falisha," kata Saras.
"Tidak apa-apa tante, dalam setiap hubungan perselisihan pasti ada." Kekeh Falisha, yang di jawab anggukan oleh Saras dan Louis.
"Om suka, sama kamu. Kamu cocok untuk anak Om," celetuk Louis, membuat Falisha tersenyum sumringah. Lampu hijau yang diberikan oleh Louis, seperti air di gurun tandus.
Saras pun mengajak semua orang makan siang, sementara Elang, dia menuju cafe seperti biasa. Namun, motornya malah berhenti di halaman rumah keluarga Halime.
Berharap, dia bisa melihat kekasih hati yang kemarin dia temui. Sumpah, Elang sangat merindukan Aiyla. Seandainya dia bisa membawa kabur Aiyla, lalu menikahinya dan membuatnya hamil.
Elang tertawa dengan pemikirannya, mana mungkin dia akan membawa Aiyla kawin lari. Yang ada, dia masuk rumah sakit oleh bodyguardnya Adskhan.
Lama menunggu akhirnya, Elang melihat mobil Aiyla keluar dari rumah. Namun, dia tak sendiri tapi bersama seorang pria yang Elang tebak adalah tunangannya.
Elang pun mengikuti mobil tersebut, yang mana akan menuju sebuah percetakan. Membuat Elang menggeleng tak percaya, dia selalu meyakini dalam hati bahwa itu hanya lah mimpi.
"Bangunlah, Elang. Aiyla sudah akan menikah," batin Elang, pada akhirnya dia meninggalkan tempat percetakan tersebut.
Aiyla sendiri bukan tak tahu, jika Elang mengikutinya. Dia tak bisa berbuat banyak, setelah pulang dari cafe. Dia mendapat teguran dari Adskhan, yang tahu bahwa Aiyla dan Elang bertemu.
"Jika kamu, berani meladeni dia. Maka jangan salahkan Papa, jika terjadi sesuatu padanya." Ancaman Adskhan membuat Aiyla, menatap sang ayah tak percaya.
"Tapi, Pa. Aku tidak sengaja bertemu dengan Elang." Elak Aiyla.
"Mau sengaja atau tidak, Papa akan tetap melakukan sesuatu padanya. Juga pada usaha kedua orang tuanya," ucap Adskhan tak bisa dibantah, lalu meninggalkan Aiyla di ruang tamu.
"Sayang, turuti apa kata Papa mu. Ini semua demi kebaikan dan masa depanmu," kata Harika.
"Tapi Ma ... Ini bukan demi aku, tapi demi bisnisnya Papa," pungkas Aiyla, dengan marah dia pergi menuju kamarnya. Harika menatap punggung sang anak, tak bisa berbuat banyak. Dulu dia pun dijodohkan dengan Adskhan.
Lamunan Aiyla buyar, saat mobil sudah berhenti di tempat percetakan. Mereka akan membuat undangan pernikahan, lalu memilih souvenir, mencicipi makanan untuk para tamu dan terakhir mereka akan melakukan fitting baju pengantin.
****
__ADS_1
Hari berlalu begitu cepat, tak terasa sudah satu bulan mereka mengurus persiapan pernikahan. Dan satu minggu lagi, adalah hari pernikahan Aiyla dan Jonathan.
Selama itu juga, Aiyla selalu dikawal oleh salah satu bodyguard wanita. Bahkan saat di kampus pun dia masih dikawal, agar tak didekati oleh Elang.
Elang pun bukan tak tahu, jika Aiyla ada pengawal. Dia tahu tujuan Adskhan adalah agar dirinya tak mendekati Aiyla, selama satu bulan pula Yurika selalu mengirim pesan pada Elang untuk pulang.
"Mama, kapan kak Elang pulang?" tanya Salsa, dia sedang belajar ditemani oleh Yurika. Kini Salsa masuk ke taman kanak-kanak.
"Sabar yah, mungkin kak Elang masih sibuk. Kamu kan tahu, kak Elang bekerja bersama Papanya." Jelas Yurika, dijawab anggukan oleh Salsa.
"Padahal ... Aku kangen sama kak Elang, aku mau ajak dia ke panti. Mau kasih tahu, bahwa kak Elang udah jadi kakak ku." Ungkap Salsa, pasalnya dia tahu bahwa Elang banyak yang suka.
"Ya sudah, kita coba hubungi kak Elang. Gimana?"
"Mau, mau. Ayo hubungi kak Elang!" pinta Salsa dengan antusias.
Yurika menghubungi Elang tersambung. Namun, Elang tak menjawab panggilan tersebut.
"Gak diangkat." Yurika melihat wajah kecewa Salsa, dia pun tak bisa berbuat banyak.
Di sisi lain, sebelum pernikahan dimulai. Jonathan menemui sang kekasih yang bernama Melati, mereka bertemu di salah satu cafe yang tak jauh dari tempat kerja Jonathan.
"Kamu, kemana saja? Satu bulan ini sangat sulit dihubungi," keluh Melati.
"Kamu tahu sendiri, aku sibuk mempersiapkan pernikahan dengan putrinya Adskhan Halime." Jelas Jo.
"Sebaiknya, kamu batalkan saja pernikahan itu." Celetuk Melati.
"Gila kamu, mana mungkin aku batalin pernikahan itu." Marah Jo.
Melati meremas tangannya yang di bawah meja, dia menunduk dengan mata yang berkaca-kaca. Memberanikan diri mengangkat wajahnya, dan menatap lekat kekasih yang di cintai.
"Aku ... Aku hamil, Jo." Lirih Melati, membuat Jonathan mendelik dan menatap tajam Melati.
"Apa, kamu bilang?"
__ADS_1
"Aki hamil, Jo. Hamil!" pekik Melati tertahan.
"****! Kenapa bisa?" tanya Jo.
Melati tersenyum miring, di antara air mata yang mengalir di pipi mulusnya.
"Kamu tanya, bagaimana bisa aku hamil? Kamu lupa, setiap berhubungan kamu selalu gak pake pengaman," terang Melati dengan nada kesal.
"Dan terakhir kita berhubungan, beberapa bulan yang lalu. Sebelum kamu memutuskan aku, aku sudah hamil Jo. Aku mohon tanggung jawablah," pinta Melati.
Jonathan mengusap wajahnya dengan kasar, dia menatap sekeliling beruntung tak ada yang dia kenali. Jika ada yang di kenal, maka habis sudah rencananya untuk menyuntikan dana di perusahaan sang ayah.
"Tidak, tidak bisa. Aku tidak bisa bertanggung jawab pada anak itu, satu-satunya cara adalah gugurkan kandungan itu sekarang juga!" titah Jo, membuat Melati menatapnya tak percaya.
Seorang ayah akan sangat bahagia, mendengar tentang kehamilan. Tapi ... Jonathan, dia ingin membunuh anaknya sendiri.
"Jahat kamu, Jo." Isak Melati.
"Setidaknya tanggung jawab pada anak ini Jo, jika kamu tak mau menikahi ku." Kata Melati.
Jo pun terdiam dia tak tahu harus apa? Tidak mungkin dia memberitahu orang tuanya, dan juga orang tua Aiyla. Gagal sudah semua rencana yang disusun.
Mereka hanya diam dengan pikirannya masing-masing, Melati berharap Jo. Akan bertanggung jawab, pada anak yang dikandung dia tidak sanggup menanggung beban ini sendiri.
Tanpa Jo sadari, sejak tadi Elang memperhatikan mereka. Sejak Jo datang ke cafe, yang sama dengan Elang. Dia kira Jo bertemu dengan Aiyla, tapi malah dengan wanita lain. Dan yang mengejutkannya lagi, wanita itu sedang hamil anaknya Jonathan.
Tak lupa Elang merekam semua pembicaraan, Melati dan Jo. Elang tersenyum miring kini dia tahu bagaimana caranya merebut Aiyla dari Jonathan.
"Sampai kapan pun, dia akan tetap jadi milikku." Gumam Elang, tersenyum menyeringai.
Lalu pergi meninggalkan cafe tersebut, sebelum Jo menyadari kehadirannya. Walau Jo tidak akan tahu dirinya, dia tak sabar untuk bertemu dengan Adskhan Halime dan memberitahu semuanya.
Bersambung...
Maaf typo 💜
__ADS_1