Elang Bersama Sayap Yang Patah

Elang Bersama Sayap Yang Patah
Bab.73


__ADS_3

Karena kesulitan ekonomi, dengan terpaksa Angel menjual sebagian perhiasannya. Lalu dia mulai berpikir untuk tidak mempekerjakan pembantu rumah tangga, untuk mengurangi pengeluaran setiap bulannya.


Angel menghela nafas dengan sepenuh dada, mengingat masa lalu yang dengan bodohnya mau menerima pernikahan ini dengan Evan. Dia juga tahu, bahwa Evan sudah menikah secara sah dengan Leni. Apa mungkin, ini karma yang dia perbuat? Angel menggeleng pelan, dia tak percaya dengan hal seperti itu.


"Aku harus meminta, Evan untuk bekerja. Bukan hanya malas-malasan saja," gumam Angel, dia kembali pulang ke rumah setelah menjual sebagian perhiasannya.


Dan meminta pekerja terakhir di rumahnya untuk berhenti, dan memberikan gaji terakhir mereka.


"Maafkan saya, setelah semuanya kembali seperti semula. Saya janji akan mempekerjakan kalian," ujar Angel pada pembantu dan penjaga rumahnya.


"Tidak apa-apa Nyonya, saya mengerti. Kalau begitu saya permisi Nyonya," ujar pembantu rumah tangga, yang sudah lama ikut dengan Angel.


Angek mengangguk lalu menatap kepergian mereka, kini dia menghubungi anak pertamanya Gita untuk pulang lebih dulu. Gita dan Kevin hanya beda dua tahun saja.


"Kenapa Mom?" tanya Gita di seberang telepon.


"Ada masalah nak, Mommy mohon pulang dulu yah!" pinta Angel.


"Baik Mom, aku akan pulang. Mommy juga udah lama gak kirim aku uang, aku setiap hari bekerja di cafe teman," ungkap Gita.


"Iya kah? Maafkan Mommy nak," lirih Angel.


"Tidak apa Mom, besok aku akan pulang." Putus Gita, Angel mengangguk walau tak terlihat. Dia meminta Gita hati-hati jika menaiki kendaraan umum.


Kembali ke Darwin dan Leni, mereka telah selesai menghabiskan berbagai macam makanan yang dibawakan oleh Darwin.


"Astaga, timbangan pasti naik." Keluh Leni, membuat Darwin tertawa.


"Semakin berisi semakin cantik," Darwin mengedipkan matanya dengan genit, membuat Leni tersipu malu.


"Astaga orang ini, paling pinter bikin hati ku berdebar." Batin Leni menunduk, tak berani dia menatap mata Darwin.


Darwin berdehem agar Leni menatapnya, tapi rasa gugup sungguh mendera dirinya.


"Kenapa?" tanya Leni.


"Ehh ... Tidak apa-apa," jawabnya terkekeh.


"Habis ini, kita mau kemana?" tanya Darwin.


"Kemana ya? Bingung, aku paling selalu jalan-jalan dekat pantai sih. Gak pernah yang jauh gak ada teman," tutur Leni.


"Gimana kalo kita melihat bunga Tulip?" usul Darwin.


"Tapi ini bukan April," sahut Leni, Darwin mengangguk lalu memikirkan kemana lagi dia dan Leni akan jalan-jalan.


"Kita ke Silk Market dan Grand Bazzar aja, gimana?"


"Boleh, sekalian aku mau beli oleh-oleh buat yang lain. Aku juga mau beli sesuatu buat calon cucu ku," cetus Leni, Darwin mengangguk dia akan menemani Leni kemanapun dia mau. Bahkan jika dia meminta ke Pluto pun, Darwin akan menemaninya.

__ADS_1


Tak terasa waktu cepat berlalu, sudah berjam-jam Leni dan Darwin melihat-lihat pernak-pernik yang akan dijadikannya oleh-oleh. Tak lupa, Leni mampir ke salah satu mall yang terkenal disana.


"Baju bayinya lucu-lucu," gumam Leni, tapi sayang usia kandungan Siska belum memasuki tujuh bulan. Yang menurut orang tua zaman dulu pamali, jika membeli barang-barang bayi terlebih dulu.


"Kamu bisa beli buat anaknya Yurika, adiknya Elang. Juga untuk Aiyla," ujat Darwin, dijawab anggukan oleh Leni.


"Ide bagus."


Leni memilih banyak baju perempuan, juga baju laki-laki untuk Aiyla. Menurut Darwin anak Aiyla dan Elang kembar, jadi untuk Aiyla lebih banyak Leni juga tak lupa membeli kan Salsa dua pasang baju, sepatu juga tas.


"Biar aku yang bayar," sela Darwin, saat Leni akan menyerahkan kartunya.


"Tapi ..."


"Sudah jangan menolak, uang ku banyak. Belum punya tanggungan jadi santai lah," kekehnya.


"Ya sudah, terima kasih." Ucap Leni tersenyum lebar.


"Tunggu di cafe ini, aku pergi ke toilet sebentar."


"Iya, jangan lama."


"Oke!"


Dawin sendiri pergi ke toko perhiasan, dia memilih salah satu cincin untuk melamar Leni. Walau dia tahu, bahwa Leni akan menolak tapi dia tak akan menyerah. Darwin membeli emas putih, dengan berlian di atasnya setelah selesai. Darwin kembali ke cafe, dimana Leni menunggu dia akan melamar Leni di pesawat nanti.


"Ayo, aku sudah. Kamu gak mau makan dulu?" tanya Darwin.


"Baiklah, ayo biar aku bawa." Darwin membantu membawa belanjaan Leni, sekilas orang-orang akan menyangka bahwa mereka adalah sepasang suami istri.


***


Disisi lain, Evan menatap Angel yang tak banyak bicara saat menyiapkan makan malam.


"Kami sakit?" tanya Evan.


"Nggak," jawabnya singkat.


"Kenapa kamu cemberut, Angel?"


Angel menghela nafas dengan pelan, dan memberikan piring pada Evan.


"Makan, jangan banyak bicara." Tegas Angel.


"Sayang ..."


"Evan sudah lah, makan. Aku lapar dan lelah, setelah itu aku ingin istirahat," ucap Angel dengan penuh penekanan.


"Aku harap, kamu mengerti Evan. Mengapa aku begini," lanjutnya saat melihat Evan akan angkat bicara.

__ADS_1


"Sarah makan," pekik Angel.


Evan pun tak banyak kata, dia lebih memilih diam dia tahu penyebab Angel kelelahan. Dia pun baru sadar, jika pembantu rumah tangga yang selama ini membantu Angel tak terlihat.


Di kediaman Yurika.


Setelah makan malam bersama, Aiyla duduk bersantai di ruang tengah dengan Salsa yang menggambar.


"Ini susunya, non." 


"Makasih mbak,"


"Sama-sama."


Aiyla menatap Salsa yang diam-diam mencuri pandang pada Elang, yang sedang menimang Biya dengan kasih sayang. Aiyla hanya takut, jika nanti Salsa berubah menjadi pendiam padahal sekarang saja sudah terlihat Salsa selalu diam tak banyak bicara seperti dulu lagi.


"Aku harus berbicara sama Elang, Mama Yurika dan Papa Frans." Gumam Aiyla.


"Salsa, kalau udah kamu boleh ke kamar ya! Atau mau tidur sama kak Aiyla?"


"Iya kak, aku tidur sendiri aja. Aku udah berani kok," sahut Salsa.


"Baik anak pintar, kakak ke kamar dulu yah. Udah ngantuk," pamit Aiyla.


"Iya kak, hati-hati." Aiyla mengangguk meninggalkan Salsa sendiri di ruang tengah.


"Aku gak boleh iri, gak boleh Mama Yurika dan Papa Frans udah baik sama aku." Gumam Salsa.


"Cantiknya adik kakak, ehh abang aja deh." Kekeh Elang, dia masih asik menimang-nimang Biya.


Tak lama Yurika pun keluar dari kamar, Yurika melirik sekilas Salsa dan tersenyum pada sang anak.


"Biya waktunya bobo," seru Yurika.


Elang memberikan Biya pada Yurika. "Biya bobo ya, besok kita main lagi."


"Baik kak Elang," balas Yurika menirukan suara anak kecil, membuat mereka berdua tertawa.


"Kamu tidurlah, pasti lelah." Perintah Yurika, dijawab anggukan oleh Elang kemudian berpamitan pada Yurika dan Salsa yang tersenyum tipis.


"Salsa, kamu juga tidur sayang. Ini udah mau jam setengah sepuluh." 


"Iya Ma, aku beresin ini dulu." Balas Salsa.


"Ya sudah, Mama ke kamar dulu. Selamat malam sayang," ucap Yurika, tersenyum tipis.


"Selamat Malam, Mama." Balas Salsa dengan bibir bergetar, dia merasa sendiri sekarang. Semua orang meninggalkannya Salsa berusaha menahan air matanya agar tak menangis, jika menangis dia takut membuat semua orang khawatir.


"Jangan nangis Salsa, kamu gak boleh cengeng." Lirihnya.

__ADS_1


Bersambung ...


Maaf typo


__ADS_2