
Satu minggu kemudian.
Yurika dan Frans sudah kembali dari liburan mereka, dan Salsa langsung menempel pada Yurika karena rindu.
"Mama ... Jahat sekali, gak ngasih kabar sama aku." Rengek Salsa, membuat Frans tertawa dan mencubit pipi sang anak.
"Papa..." Kesal Salsa karena Frans malah mencubitnya.
"Pasti ini ulah Papa, kan? Yang melarang Mama menghubungi aku?" tuduh Salsa.
"Iya, iya sayang. Maafkan Papa oke!" Akhirnya Frans membujuk Salsa, dan berjanji akan mengajak Salsa liburan juga jika nanti Elang dan Aiyla sudah menikah.
Setelah membagikan oleh-oleh yang dibawa, Frans dan Yurika memutuskan untuk istirahat sebentar. Sedangkan Salsa sudah bersama Anisa, kini tinggal Elang, Aiyla dan semua sahabatnya.
"Bentar lagi, lo bakal punya adik dong. Lang," celetuk Daffa.
"Ya doakan saja, semoga gue punya adik." Kekeh Elang, membuat yang lainnya menggeleng.
"Eh iya, dimana Siska? Biasanya dia selalu mengikuti kemanapun Miss Aiyla pergi." Kevin menatap Raka yang menanyakan Siska, dia juga penasaran dimana gadis itu?
"Aku gak tahu, beberapa terakhir ini Siska sulit dihubungi." Kata Aiyla, dia sangat mengkhawatirkan sahabatnya tersebut. Selama beberapa hari Sisak sulit dihubungi.
"Mungkin dia sibuk," lanjut Aiyla, dijawab anggukan oleh yang lain.
Mereka membicarakan banyak hal, lalu pulang setelah makan siang. Kevin sendiri entah mengapa dia ingin ke rumah Sisak, memastikan bahwa dia baik-baik saja.
Kevin dekat dengan Siska karena Siska baik dan juga lembut, dia kagum pada Siska layaknya Elang kagum pada Aiyla. Makanya dia belum menyatakan perasaannya pada Siska, takut ini hanya obsesi semata.
Tiba di kediaman Siska, Kevin menatap rumah yang nampak sepi. Bahkan tidak ada penjaga di rumah tersebut.
"Apa mereka, pergi?" gumam Kevin, Kevin pun memutuskan untuk pulang saja karena tak ada kepentingan lain.
Sementara itu di dalam rumah, memang tidak ada siapa-siapa. Hanya ada Siska yang berada di dalam kamar, luka lebam di wajahnya membuat dia tak berani bertemu dengan Aiyla. Padahal bisa saja dia mengadu pada sang sahabat setelah malam itu, ayahnya datang dan tanpa ampun memukulnya sampai pingsan. Hanya karena aduan dari Winda.
"Ayah, lebih percaya dia. Daripada aku?" tanya Siska dengan lirih, dia menatap sang Ayah tak percaya. Harusnya ayahnya menjadi pelindung untuk dirinya, tapi Ayahnya membuatnya menderita.
"Ya karena dia istriku," kata sang ayah, yang bernama Lesmana.
Siska tersenyum sinis menatap Winda yang berada dibelakang Lesmana.
__ADS_1
"Dasar wanita murahan!" desis Winda, dan langsung mendapatkan pukulan keras diwajahnya.
"Jangan sekali lagi, kamu menghinanya Siska. Dia ibumu paham!" jelas Lesmana. Namun Siska tak peduli sama sekali.
"Sudah Mas, dia bisa mati." Kata Winda, mengusap dada sang suami. Siska yang mendengar itu berdecak dengan kesal.
"Dasar ular," maki Siska.
Walau sudah satu minggu tapi biru di sudut bibirnya tak juga hilang, lalu ditambah lagi tangannya sakit.
"Apa aku, harus melakukan visum?" gumamnya, ingin sekali rasanya dia melapor ke kantor polisi.
Siska menghembuskan nafasnya dengan pelan, harusnya dia hidup mandiri. Tak satu rumah bersama Ayah dan juga wanita ular tersebut.
***
Hari wisuda pun tiba, sesuai janji Aiyla akan datang di acara wisuda. Aiyla juga sudah meminta izin pada sang Papa, semua persiapan sudah di masukan ke dalam mobil.
"Baiklah, waktunya ke tempat acara."
Sebenarnya Aiyla ingin menghampiri Siska. Namun, Siska berjanji akan datang tepat waktu. Empat puluh menit perjalanan, Aiyla sudah sampai di salah satu hotel ternama di kota kembang.
Di parkiran dia bertemu dengan sesama dosen, dan berbincang sebentar.
Aiyla tersenyum menatap Elang yang sudah dipanggil, jadi mahasiswa terbaik tahun ini. Dia sangat bangga dengan Elang, bagaimana perjuangan Elang untuk sembuh dari trauma masa kecil dan bagaimana pertemuan pertama mereka.
Aiyla melambaikan tangan lada Elang, lalu memotretnya untuk kenang-kenangan. Lalu dia ikut bergabung dengan Frans dan Yurika.
Louis juga datang di acara wisuda tersebut, dia sangat bangga pada Elang. Walau tumbuh tanpa kasih sayangnya, Elang mampu jadi anak yang baik. Louis juga melihat saat Elang memeluk Yurika dan mencium Ibunya tersebut, Louis bahagia melihat itu semua.
"Semoga kalian bahagia," doanya tulus, lalu pergi meninggalkan tempat acara.
Setelah semua rangkaian acara selesai, mereka berfoto lebih dulu.
"Ayo kita kerumah, Mama sudah mempersiapkan pesta kecil-kecilan untuk. Merayakan ini semua," ujar Aiyla, Harika sudah berpesan bahwa Elang dan sahabat-sahabatnya harus datang ke rumah mereka untuk makan-makan.
"Baiklah, ayo." Sahut Yurika, lalu dia masuk kedalam mobil sang suami bersama Salsa dan Anisa. Anisa selalu diajak ke acara penting Elang, karena bagi Elang Anisa sudah seperti Ibu kedua baginya.
Mobil mereka beriringan meninggalkan hotel, orang tua Kevin dan yang lainnya pun ikut serta ke kediaman Halime. Untuk bersilaturahmi dengan orang tua Aiyla.
__ADS_1
Berpuluh menit kemudian, mereka semua sudah sampai. Dan langsung disambut sangat meriah oleh sang tuan rumah.
"Astaga Tante, ini terlalu berlebihan." Seru Daffa, diantara yang lain Daffa lah yang paling jahil.
"Apaan sih, orang ini buat Elang kok. Calon menantu Tante!" sahut Harika, dengan nada bercanda.
"Astaga, Mama." Kekeh Aiyla, sangat lucu melihat Mamanya jahil juga.
Mereka tertawa lalu para perempuan saling memeluk erat, sedangkan para lelaki ya begitulah.
"Silahkan dinikmati semua hidangannya," kata Harika.
"Aku sih gak akan nolak, kapan lagi ada makanan gratis." Celetuk Daffa, dan langsung mendapat cubitan dari sang ibu.
"Memalukan," omel Ibu Daffa, membuat semua orang lagi-lagi tertawa.
Sedangkan Siska diluar sana yang mendengar betapa ramainya didalam, tiba-tiba merasakan insecure. Dia merasa tak pantas di antara, keluarga yang harmonis, dia tak pantas mendapatkan kebahagiaan ini.
"Bunda ... Aku kangen," lirih Siska, dia sudah berkaca-kaca
Cukup lama dia bertahan di dalam mobil, sangat ragu untuk masuk kedalam. Tapi demi bertemu dengan Kevin dan demi Aiyla, dia akan memaksakan semuanya dia akan mencoba berpura-pura baik-baik saja.
"Oke, Siska. Lo harus senyum seperti biasa, tunjukin wajah ceria lo." Ucapnya, setelah membenahi make-upnya mobil Siska masuk ke halaman rumah Adskhan.
"Non Siska, kok baru datang?" tanya salah satu pekerja di rumah Adskhan.
"Iya, tadi ada urusan sebentar."
Pelayan tersebut mengangguk dan membantu membawa barang bawaan Siska, untuk semua orang dan hadiah yang berbeda tentu saja untuk Kevin.
"Hai, aku datang. Ada yang kangen gak?" Pekik Siska saat tiba, di ruang keluarga.
"Nggak ada," jawab Daffa, Reno, Raka dan Aiyla kompak. Membuat Siska cemberut.
"Jahat kalian, Lang. Lo pasti kangen kan sama gue?" tanya Siska penuh percaya diri.
"Engga tuh," sahut Elang, membuat semua orang tertawa Siska meninju lengan Elang.
"Lo gak tanya Kevin, Sis?" celetuk Aiyla, membuat semua orang disana terdiam. Bahkan orang tua Kevin langsung menatap ke arah Siska membuat gadis tersebut salah tingkah.
__ADS_1
Semoga suka.
Maaf typo 💕