
Disaat semua orang menikmati kebahagiaan, tidak dengan Evan. Malam itu, dia merenung di ruang kerja yang ada di rumah Angel. Dia menatap foto pernikahan Kevin dengan seorang wanita, yang dia tahu itu adalah sahabat Aiyla.
"Kamu tidak memberitahu Papa, Vin?"
"Sebegitu bencinya, kamu sama Papa?"
Evan tidak bisa protes, beruntung Kevin tidak memblokir nomornya. Namun, sejak tadi yang menjadi pusat perhatiannya adalah Leni. Mantan istrinya itu, nampak semakin cantik juga sedikit berisi.
"Apa semua mantan, akan lebih cantik saat berpisah?" gumam Evan, dia menghela napas sepenuh dada.
Menatap foto keluarga yang dipajang, meja kerjanya. Dia tak pernah memajang foto keluarga, dengan Leni atau Kevin. Jika Kevin bertanya mengapa tak pernah ada foto dirinya atau sang Leni, Evan selalu punya alasan untuk menjawab.
***
Kediaman Adskhan.
Sementara itu, Siska merasa sangat canggung saat Kevin berada di kamarnya. Sudah beberapa menit, mereka hanya saling diam tak ada obrolan apa pun.
"Seharusnya, kita sewa hotel aja." Celetuk Kevin, membuat Siska tersenyum dan menunduk.
"Kenapa gitu?" tanya Siska pura-pura tak tahu.
"Siapa tahu kamu, gak bebas mendesah." Bisik Kevin, dia tahu bahwa kamar yang ditempati oleh Siska tidak kedap suara. Hanya kamar Aiyla dan Harika, yang kedap suara.
"Apaan sih," elak Siska, semakin menunduk tajam. Bahkan mungkin sekarang, pipinya sudah memerah bak tomat.
"Sudah, tenang saja aku gak akan langsung. Meminta hakku, kita lewati malam ini dengan bercerita." Ujar Kevin, disetujui oleh Siska.
Kevin meminta Siska untuk berbaring di sebelahnya, Siska pun menurut. Pada akhirnya malam itu, pengantin baru hanya menghabiskan malam dengan mengobrol. Sedangkan yang melakukan malam pertama adalah Elang dan Aiyla.
Keesokan paginya, Siska sudah lebih dulu berada di dapur. Membantu pelayan menyiapkan sarapan, padahal Harika sudah melarang Siska untuk turun ke dapur. Sedangkan kevin, dia sedang melakukan olahraga pagi bersama Elang.
"Cie pengantin baru," goda Aiyla.
"Kok udah di dapur aja sih, biasanya 'kan kalau baru. Selalu ngamar terus," kekeh Aiyla, dia senang sekali menggoda Siska.
"Nih minum susu hamilnya, jangan bawel." Omel Siska, karena dia malu terus digoda oleh Aiyla.
"Menyebalkan," gerutu Siska dalam hati.
"Makasih," ucap Aiyla, Siska hanya mengangguk sebagai jawaban dia lalu melanjutkan pekerjaannya.
"Sis, kamu jadi hari ini pindah?" tanya Aiyla, dia duduk di pantry yang mengarah ke tempat masak.
"Iya, mungkin siang." Balas Aiyla.
"Yah, bakal sepi dong. Gak ada mbak Siska," keluh pelayan, yang sering mendapatkan bantuan dari Siska.
__ADS_1
"Tenang mbak, aku akan minta Siska. Tiap hari datang ke rumah," cetus Aiyla, membuat Siska menggeleng pelan.
"Aku juga udah ngajuin, cuti ke cafe." Kata Siska.
"Loh! Bukannya kemarin-kemarin, udah yah?"
"Lupa," Siska meringis dan memamerkan senyumnya, pada Aiyla berharap sahabatnya tak memarahinya.
"Ya sudah, dua minggu juga boleh. Aku rela, asal anak aku ada temannya nanti," pungkas Aiyla, Siska memutar bola mata malas.
Kevin juga memberitahu Elang, tentang rencananya untuk membawa Siska bulan madu. Ke Bali atau ke Surabaya.
"Jika Aiyla belum hamil, gue juga mau ajak dia ke Bali." Sahut Elang.
"Kenapa lo gak ajak aja, sekalian baby moon lah ala-ala seleb." Kevin menatap Elang dari samping.
"Gue yakin, Aiyla pasti senang. Secara ibu hamil harus disenangkan," lanjut Kevin.
"Ide bagus, tapi gue harus konsultasi sama dokter kandungan Aiyla." Ujar Elang.
"Baiklah, jika diperbolehkan lo kasih tau gue. Gue bakal mengundurkan keberangkatan gue," pungkas Kevin, membuat Elang mengangguk.
Mereka kembali ke arah pulang, karena mereka yakin istri mereka sudah menunggu untuk sarapan.
Disisi lain, Leni sudah mempersiapkan kepergiannya ke Turki.
"Len, gue bakal kangen sama lo." Evita memeluk Leni dengan erat, sejak semalam Evita merengek seperti anak kecil.
Leni berusaha sabar dia menghela napas dengan pelan, dan menepuk pundak sang sahabat. Pasalnya berpuluh tahun mereka tak bertemu, sekalinya bertemu Leni akan pergi ke luar negeri.
"Sudah-sudah," kata Leni, Evita pun melerai pelukannya dan menatap Leni.
"Kalau ada apa-apa, kabari gue."
"Siap, kamu tenang saja. Ayo antar aku ke bandara," pinta Leni, Evita pun bersiap terlebih dulu karena tak mungkin keluar dengan wajah sembab.
"Tuan Lauren, menurut informasi. Nona Leni akan pergi ke Turki," beritahu anak buah Lauren.
"Awas dia terus," balas Lauren.
Dia menatap foto Leni, yang sedang memasukan barang bawaannya. Lauren sedikit kecewa pada sang kakak, karena tak mengunjungi keluarganya. Tapi jika di ingat, Lauren sudah memutuskan hubungan dengan Leni.
"Semoga kamu, bahagia selalu mbak. Aku akan selalu mengawasi mu, dari jauh bentuk pelindung seorang adik untuk kakaknya." Gumam Lauren, menatap foto Leni yang tengah bersiap. Lalu foto pernikahan Kevin dengan seorang wanita bernama Siska, Lauren pun berencana untuk mendatangi Kevin.
***
"Sarah, tolong panggilkan Daddy nak!" pinta Angel, dia sedang menata makanan di meja.
__ADS_1
"Oke," jawan Sarah.
Sarah menuju kamar orang tuanya, tapi tak ada jawaban. Dia berpikir dimana sang Ayah berada?
"Ahh, pasti di ruang kerja."
Sarah pun memutuskan untuk memanggil Evan, ke ruang kerja kelaki tersebut. Sarah mengetuk pintu berulang kali. Namun, tak ada jawaban dari dalam membuat Sarah khawatir.
"Dad, ini aku Sarah." Ucap Sarah, masih mengetuk pintu. Dia juga berusaha membuka pintu dan terkunci.
"Daddy," panggil Sarah, Sarah memutuskan untuk kembali menemui Angel dan memberitahukan tentang Evan.
"Baiklah, biar Mommy saja. Kamu sarapan lebih dulu, nanti terlambat."
"Baik Mom," jawab Sarah patuh.
Angel sendiri memutuskan menemui Evan di ruang kerjanya, sebab semalam dia pamit untuk mengerjakan pekerjaan yang belum selesai. Beruntun dia memiliki kunci cadangan, bau alkohol mendominasi saat pintu terbuka.
"Astaga, Mas. Kamu mabuk?" pekik Angel, saat melihat Evan tertidur di sofa dengan memegang ponsel yang menampilkan foto mantan istrinya Leni.
"Evan," bentak Angel, Evan mulai mengerjakan matanya. Menyesuaikan pandangan dengan cahaya, dia sangat pusing karena semalam minum cukup banyak.
"Angel," gumam Evan.
"Masih ingat aku kamu, beruntung kamu tak salah menyebut nama." Cibir Angel.
"Ada apa?"
"Bangun ini sudah pagi, memang kamu tidak bekerja apa?" ketus Angel menatap Evan, yang juga menatapnya.
"Angel sayang, aku ingin jujur pada mu. Tapi kamu janji, jangan marah oke!"
Evan meminta Angel untuk duduk, dia akan jujur tentang semuanya pada Angel berharap Angel tak marah, dengan perilakunya selama ini.
"Jujur tentang, apa?"
Sebelum menyiapkan kata yang tepat, Evan menatap lekat wanita yang dia cintai. Cinta pertamanya. Namun, getaran itu tak ada lagi untuk Angel. Dia malah merindukan Leni.
"Aku ... Aku bangkrut," ungkap Evan, membuat Angel mendelik dengan sempurna.
"Bangkrut?" lirih Angel.
"Mas, kamu ... Pasti bohong 'kan?"
"Tidak, aku berkata jujur sayang."
Evan mengeluarkan amplop pemberian Kevin, dia menyerahkan itu pada tangan Angel. Agar Angel menggunakannya dengan maksimal, karena dia sendiri tidak tahu kapan akan mendapatkan pekerjaan.
__ADS_1
bersambung ...
Maaf typo