Elang Bersama Sayap Yang Patah

Elang Bersama Sayap Yang Patah
Bab.34


__ADS_3

Elang terbangun saat tengah malam, dia hanya menatap langit-langit kamar. Dan mengingat apa yang terjadi sampai dia masuk ke rumah sakit, dan ingatannya kembali saat dia ingin menyelamatkan Aiyla.


"Aiyla," lirih Elang, dia ingin turun tapi semua badannya terasa sakit. Karena Juno menghajarnya dengan sangat kuat, Elang berjanji akan membalas dendam pada Juno nanti.


Dia melirik ke arah kanan, dimana Yurika sedang meringkuk di sofa berbantal kan paha Frans. Padahal di sebelah ruangan tersebut ada ranjang khusus untuk yang menunggu pasien. 


"Ma ... Maafkan aku, aku selalu merepotkanmu." Lirih Elang, dia menatap kembali langit-langit kamar dia ingat juga besok harusnya Frans dan Yurika pergi ke Bali. Dan Elang yakin Yurika akan membatalkan liburannya, Elang menghela nafas dengan pelan lalu mencoba memejamkan mata.


Keesokan harinya Yurika sangat bahagia melihat Elang yang sudah duduk saat dia bangun tidur, dia memeluk sang anak dengan erat dan mencium pipinya berulang kali.


"Mama, aku bukan anak kecil. Ma please aku udah besar," protes Elang, karena Yurika seperti sengaja. Dia malah tertawa dan melanjutkan aksinya.


"Mama," rengek Elang.


"Baiklah sayang, maafkan Mama. Mama bahagia sekali kamu sudah bangun," ungkap Yurika, Frans pun menepuk pundak Elang dan izin untuk ke rumah terlebih dulu karena Salsa terus saja menanyakan mereka.


"Mama sama Papa pulang saja dulu, aku baik-baik saja. Aku udah minta Kevin buat datang," kata Elang, tapi Yurika merasa ragu karena tak tega meninggalkan sang anak. 


"Ma percayalah."


"Baiklah, Mama pulang dulu nanti siang Mama balik lagi. Bawain kamu makan siang," ujar Yurika, Elang pun mengangguk pasrah. Setelah Yurika menutup pintu, kini Elang hanya menunggu kedatangan Kevin dan Daffa.


Mereka akan membahas tentang kejahatan Mamba, juga tentang pelaporan mereka ke polisi dengan semua kejahatannya.


Tepat pukul delapan pagi Kevin dan Daffa, sudah sampai di ruang perawatan Elang. Mereka membawa banyak buah dan juga makanan yang lain.


"Banyak banget, bawaan kalian." Omel Elang.


"Gak apa lah, kasian om Frans sama tante Yurika. Biar gak jenuh nungguin lo," kekeh Daffa, membuat Elang memutar bola mata malas. Daffa juga memberitahu bahwa Raka dan Reno akan menyusul setelah menyelesaikan pekerjaan mereka.


"Bay the way, miss Aiyla udah tau lo udah bangun?" tanya Kevin.


"Belum, entar gue kasih tau atau gue kasih kejutan." Ujar Elang, lalu mereka membahas tentang anak buah Mamba yang dihajar oleh Elang di basecamp yang dulu ditutup oleh polisi.


"Tenang aja, disana banyak yang jaga. Lagian gak gampang buat kabur dari basecamp," cetus Kevin tertawa.


"Oh ya Lang, lo mau tau gak? Dalang dibalik penculikan Miss Aiyla." Daffa menatap Elang yang juga menatapnya.

__ADS_1


"Siapa?" tanya Elang, Daffa menatap Kevin yang mengangguk meminta persetujuan.


"Falisha."


"Apa? Falisha?" ulang Elang, di jawab anggukan oleh Daffa dan Kevin.


Elang mengepalkan kedua tangannya, tak menyangka wanita itu mengganggunya sampai sejauh ini.


"Laporkan dia juga, dengan tuduhan rencana penculikan." Titah Elang.


Namun, Kevin memberitahu bahwa Falisha dilindungi oleh ayahnya yang memiliki peran penting di pemerintahan.


"Gue gak peduli, mau dia anak presiden sekalipun. Gue cuma mau dia menerima hukuman yang setimpal," papar Elang, menatap kedua sahabatnya.


"Oke, kita akan bikin laporan buat Falisha. Dan kita juga harus sewa pengacara," kata Kevin.


"Lakukan, gue akan bayar pengacara berapa pun." Balas Elang, dia memiliki semuanya dari penghasilan cafe miliknya yang terus berjalan. 


***


Aiyla yang mendapatkan kabar kondisi Elang terkini, langsung menuju rumah sakit di antar oleh Siksa. 


"Astaga Ai, sabar dong. Yang ada kita yang masuk rumah sakit," omel Siska.


"Gue belum nikah, pacaran aja belum." Gumamnya, membuat Aiyla tertawa.


"Jangan ketawa, rese lo. Mentang-mentang udah punya calon." Cibir Siska.


"Ya ampun Sis, sensi banget sih lo. Lagi PMS ya? Makanya buruan jadian sama Kevin, jangan jadi TTM terus." Kekeh Aiyla, membuat Siska mencebik tak suka dia pun mulai fokus pada kemudinya.


Beberapa jam kemudian, Aiyla dan Siska sudah sampai di rumah sakit. Mereka langsung menuju lantai 3 dimana Elang berada, saat keluar dari lift dari kejauhan Aiyla melihat seseorang yang akan mengetuk pintu. Namun, sepertinya orang tersebut ragu-ragu.


"Siapa dia?" bisik Siska, dijawab gelengan oleh Aiyla.


"Ayo samperin, siapa tahu penting terus dia malu." Siska menarik lengan sang sahabat, agar cepat berjalan. Setelah sampai di depan gadis tersebut, Aiyla begitu terkejut mendapati Falisha di depan ruang rawat Elang.


"Falisha, kamu ... Sedang apa?" tanya Aiyla, sedangkan Siska sudah menatap Aiyla dari atas ke bawah merasa tak suka dengan Falisha.

__ADS_1


"Oh, kenapa gak masuk?"


"Saya ... Itu di dalam, masih ada Kevin dan yang lainnya." Ujar Falisha, dijawab anggukan oleh Aiyla.


"Ya sudah, kalau gitu kamu masuk bareng aku. Ayo!" ajak Aiyla, dia menarik tangan Falisha tak curiga sedikitpun. Dengan apa yang dilakukan oleh Falisha.


Pintu terbuka, membuat atensi para pemuda yang tengah berbincang menoleh seketika. Elang tersenyum melihat siapa yang datang, tapi senyumnya redup saat melihat siapa yang ada di belakang Aiyla.


"Ngapain kamu, disini?" tanya Elang dengan nada dingin.


"Aku ... Aku ingin menjengukmu, Elang." Lirih Falisha menatap sendu Elang.


"Tapi gue gak sudi, lo jenguk gue." Sarkas Elang dengan nada dingin.


"Elang aku ..."


"Sudah cukup! Pergi sana!" usir Elang.


"Elang aku..."


"Gue bilang pergi, ya pergi Falisha. Apa lo budeg, hah?" teriak Elang, membuat Falisha menunduk dan meneteskan air mata. Namun, air mata tersebut buru-buru dia hapus.


"Elang," seru Aiyla.


"Kamu akan mengerti, nanti sayang. Maka biarkan aku usir wanita seperti itu," cetus Elang tak bisa di bantah.


Aiyla pun pasrah, dia meminta Falisha Keluar kembali demi kenyamanan Elang yang baru saja bangun. Dia tak mau terjadi sesuatu pada Elang, kemarin saja sudah menjadi hal yang mengerikan bagi Aiyla sepanjang sejarah hidupnya.


Falisha pun keluar dengan wajah menunduk, saat keluar dia menghentakkan kaki ke lantai. Dan meninju udara terasa kesal, ingin rasanya dia memaki dan melampiaskan rasa sakit hatinya akibat orang yang dia cintai.


"Gue harus, minta bantuan Rendy. Tapi kemana orang itu?"


Falisha meninggalkan rumah sakit, bersiap menuju markas Mamba. Dimana yang ada hanyalah bekas-bekas Elang memukul anak buah Rendy.


"Astaga, habislah gue. Ayah bisa tahu ini." Falisha dengan panik menghubungi Rendy. Namun, tak ada yang menjemput dirinya.


"Tenang Falisha, jika panik lo buntu. Lo harus tenang dan berpikir jernih." Gumam Falisha, dia berusaha tenang walau agak panik.

__ADS_1


Maaf typo 🙏


__ADS_2