
"Kak Bara..."
Bara menatap tajam Falisha, yang ketakutan.
"Kenapa kakak, bawa aku? Apa salahku kak?" tanya Falisha.
"Kamu tanya salahmu, apa?" tanya Bara dijawab anggukan oleh Falisha.
"Jangan pura-pura bodoh, Falisha. Apa aku harus mengirim mu ke penjara bersama bajingan, itu?" tukas Bara, Falisha menggeleng lemah dia tak mau di penjara.
"Jangan kak, aku gak salah. Sumpah demi..."
"Jangan bawa-bawa nama, Tuhan. Falisha," bentak Bara, membuatnya menunduk seketika. Sungguh dia takut melihat Bara yang marah.
"Kak..." Lirih Falisha, dia sudah berkaca-kaca.
"Kamu tahu, polisi sudah mendatangi rumah kita. Mereka memberikan surat penangkapan untukmu, Falisha." Ungkap Bara, Falisha menggeleng menatap sang kakak. Namun, Bara tak sekali pun menatap Falisha kembali.
Dia selalu sakit, bagaimana dulu Felicia pergi karena ulah Falisha.
"Aku mohon kak, aku gak mau di penjara kak. Aku lakukan itu, karena terpaksa aku ... Aku mencintai dia kak." Falisha memilih jujur, berharap Bara meringankan beban hukumannya.
"Siapa yang kamu, cintai?"
"Elang." Jawabnya.
"Elang?" ulang Bara, dijawab anggukan oleh Falisha. Bara menghela napas dengan kasar.
"Fali ... Menurut kakak itu bukan cinta tapi obsesi."
"Tidak kak, aku mencintainya." Kukuh Falisha.
"Jika kamu suka seseorang, karena fisik itu bukan cinta. Tapi nafsu, jika kamu menyukai seseorang karena perilakunya. Itu bukan cinta, tapi kagum." Kata Bara menatap Falisha, membuat Falisha terdiam. "cinta yang sebenarnya adalah, cinta yang tak kamu ketahui apa alasannya kenapa kamu jatuh cinta padanya."
Falisha berusaha memahami ucapan Bara. Namun, sungguh dia tak menerima jika dia hanya terobsesi pada Elang yang dingin dan cuek.
"Aku tidak peduli kak, mau itu cinta atau obsesi sekalipun. Aku ingin memiliki Elang!" ucap Falisha dengan tegas, membuat Bara menggeleng.
"Jangan sampai kamu menyesal Fali, hentikan semua obsesi mu itu. Carilah laki-laki yang tulus, mencintaimu!"
Mobil sudah sampai di apartemen milik Bara, Falisha hanya bisa menangis dengan apa yang akan dilakukan oleh sang kakak.
***
Sementara itu, Louis yang ikut makan malam di rumah Elang. Merasakan kehangatan yang selama ini hilang darinya, mungkin karena kurangnya interaksi dirinya dengan istri dan anak.
Meja makan tidak terlalu sepi, karena celotehan Salsa. Dia menceritakan kesehariannya di sekolah, lalu mengungkapkan keinginannya memiliki adik.
__ADS_1
"Mama, nanti aku mau adik laki-laki ya?" pinta Salasa, membuat Yurika tersedak.
"Sayang kamu, tidak apa-apa?" Frans memberikan minum pada Yurika, semua itu tak luput dari perhatian Louis.
"Memangnya Salsa, gak mau punya adik perempuan?" tanya Harika.
"Engga Bunda, aku maunya laki-laki. Kalo perempuan nanti Mama, Papa dan Kak Elang gak sayang aku lagi." Tutur Salsa, membuat semua orang tertawa.
"Mana ada gitu, Salsa. Kakak yakin Mama dan Papa akan tetap sayang sama kamu!" sahut Siska.
Elang mengalihkan obrolan, karena dia tahu bahwa Louis sudah merasa tak nyaman dengan pembicaraan seputaran anak.
Singkat cerita makan malam pun usai, Elang mangantar Louis ke depan karena dia ingin bicara berdua saja.
"Pa." Panggil Elang, setelah mereka kini ada di parkiran.
"Ada apa?"
"Aku harap, Papa juga bahagia dengan pilihan Papa. Aku gak mau Papa merusak kebahagiaan Mama," cetus Elang, membuat Louis menatap sang anak. Apa maksudnya? Apa Elang pikir, dia akan berniat buruk pada Yurika?
"Papa tidak sebodoh itu Lang, Papa tahu batasan. Papa hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk Mama mu, dan satu lagi. Tolong sampaikan maaf Papa untuk Mama mu, Lang." Kata Louis.
"Akan aku sampaikan," sahut Elang, Louis memeluk sang anak. Lalu berpamitan pulang.
"Hati-hati, Pa."
Elang menatap kepergian mobil Louis, lalu dia masuk kembali ke rumah. Dimana sahabat dan pacarnya masih dirumah.
"Eh, bentar lagi kan wisuda. Gimana kalo kita pake baju couple?" usul Raka pada yang lain.
"Astaga, lebay banget sih lo." Omel Reno tertawa.
"Oke, bagus tuh." Sahut Elang.
"Nanti biar gue yang cari, sama Aiyla." Lanjutnya lagi.
"Baiklah, gue serahin semuanya sama lo." Kata Raka, Daffa, Kevin dan Reno ikut saja bagaimana baiknya.
Tak terasa waktu menunjukan pukul delapan malam, Harika dan Aiyla berpamitan pulang. Karena Adskhan sudah menjemput mereka.
"Sis, kamu gak mau pulang bareng aku?" tanya Aiyla.
"Aku ... Aku nunggu jemputan, Ai."
"Oh, ya sudah aku duluan. Bye!" pamit Aiyla, dijawab anggukan oleh Siska.
Kini di luar rumah Elang, tinggallah Siska sendiri. Sebab sahabat Elang yang lain sudah pergi sejak lima menit yang lalu.
__ADS_1
"Pak Herman kemana, sih?" kesal Siska, sejak tadi dia sudah memberi kabar bahwa dia akan pulang. Tapi, supirnya tersebut tidak menjawab panggilan atau membalas pesan Siska.
Cahaya mobil membuat Siska menatap ke arah cahaya, dia sangat mengenali mobil itu. Mobil milik Kevin, dia bertanya-tanya kenapa Kevin kembali lagi?
"Ayo, aku antar."
"Tidak usah, aku sedang menunggu jemputan." Tolak Siska.
"Ini sudah malam, gak baik perempuan di luar. Ayo!" ajak Kevin, dengan terpaksa Siska pun menerima tawaran Kevin.
Sebab jika menunggu lama, mungkin dia akan kemalaman dijalan. Hening tak ada obrolan sepanjang perjalanan, mereka sama-sama canggung untuk memulai pembicaraan.
Satu jam kemudian.
"Terima kasih," ucap Siska, setelah sudah sampai.
"Sama-sama."
Siska mengangguk lalu keluar dari mobil Kevin, bukannya tak mau menawarinya mampir. Tapi ini sudah malam, tak baik jika Kevin ada dirumah sia hanya takut Ibunya marah. Kevin pun tak mempermasalahkan itu semua, Siska menunggu sampai mobil Kevin keluar dari komplek perumahan.
"Non," panggil Pak Herman.
"Pak, kenapa Pak Herman gak jemput aku sih?" kesal Siska, saat melihat supirnya keluar dari dalam mobil.
"Maaf non, bukannya gak mau. Tapi ..."
"Sudah Pak, saya sudah tahu. Kalau begitu aku masuk dulu," pamit Siska, Pak Herman menatap anak dari majikannya dengan tatapan sedih.
Bagaimana Ibu sambungnya memperlakukan Siska selama ini, hanya baik jika didepan ayah Siska. Dan kebetulan ayah dari Siska sedang tak ada dirumah.
"Bagus, jam segini baru pulang." Omel Winda, Ibu sambung Siska lebih pantas menjadi kakaknya daripada Ibu. Karena sang ayah, yang menikah dengan gadis muda setelah Ibu kandung Siska meninggal.
Siska menatap Winda dengan tatapan malas.
"Suka-suka gue dong, hidup-hidup gue. Bukan urusan lo," sahut Siska, dia menatap Winda dan menjulurkan lidahnya lalu meninggalkan Winda di ruang tengah dengan menghentakkan kaki.
"Awas kamu, Siska. Gue laporin sama bokap lo," pekik Winda.
"Laporin aja, gue gak takut!"
"Akhhh ... Anak kurang ajar, awas lo ya!"
Siska menghembuskan napasnya dengan pelan, selalu saja ada pertengkaran dengan ayahnya karena Winda yang selalu mengadu yang aneh-aneh. Entah apa lagi adunya kalinya, dia sudah mempersiapkan jawaban untuk membela diri.
bersambung ...
Maaf typo
__ADS_1