
Hari pernikahan Elang dan Aiyla akhirnya tiba, Adskhan sudah memesan satu lantai untuk seluruh anggota keluarga besarnya.
Pukul sembilan pagi, akad nikah dilangsungkan Elang begitu tampan dengan memakai Beskap berwarna putih dengan ornamen silver. Begitu juga Aiyla, yang sangat cantik dengan kebaya yang senada dengan Elang.
Dia diantar oleh Siska, Harika dan Yurika mengantar Aiyla ke meja akad. Setelahnya pembawa acara, membuka acara dengan serangkaian pembukaan, pembacaan ayat suci, lalu Elang yang mengucapkan ijab kabul kepada Adskhan. Dan terdengar kata sah dari penghulu, membuat semua orang mengucap syukur.
Aiyla pun begitu terharu, saat Elang begitu lancar mengucapkan ijab. Setelah selesai menandatangani berkas pernikahan, lalu Elang dan Aiyla berfoto bersama dengan buku nikah di tangannya.
"Yeah ... Gue udah sold out." Teriak Elang, membuat semua orang tertawa.
"Yeay, memang lo barang, apa? Pake udah habis terjual aja," cibir Daffa, dan lagi-lagi membuat semua tamu undangan tertawa.
Louis menatap haru sang anak, dimana wajah Elang begitu memancarkan aura positif. Tak pernah Louis, melihat Elang yang tertawa lepas bahkan bersama dirinya Elang hanya memasang wajah dinginnya.
"Semoga pernikahanmu, bahagia nak! Bisa membimbing anak dan istrimu. Jangan seperti Papamu ini." Ucap Louis dalam hati.
Louis berdoa semoga sang anak, selalu bahagia. Dalam hidupnya, cukup iri saat melihat Frans yang menemani Elang disana.
Sentuhan lembut di tangannya membuyarkan lamunan Louis, dia menatap Saras yang tersenyum manis. Kini mereka sudah berbaikan, dan berdamai dengan masa lalu. Louis dan Saras sudah menjadi lebih baik untuk anak mereka. Dan kini Saras pun sedang program hamil, nanti Saras akan meminta maaf pada Yurika dengan tulus.
Louis membalas genggaman tangan itu, dan kembali fokus pada serangkaian acara pernikahan. Cukup terkejut, saat Elang menghampirinya dan bersimpuh meminta maaf membuat Louis terharu.
Dia memeluk Elang dengan erat, semua tamu pun merasakan keharuan tersebut.
Setelah selesai rangkaian prosesi, Elang dan Aiyla duduk di pelaminan. Dia menyalami para tamu yang hadir, Adskhan dan Frans mengundang seluruh rekan kerja mereka.
Jam satu siang, Elang dan Aiyla menuju ke kamar mereka. Karena resepsi akan di lakukan pukul delapan malam, masih ada waktu untuk mereka istirahat.
Elang menatap Aiyla, yang sudah melepas aksesoris yang berada di rambutnya. Kini hanya mengenakan bathrobe, Aiyla merasa risih karena Elang terus menatapnya dengan intens.
"Jangan dilihat, ihh malu." Ucap Aiyla, pipinya sudah bersemu merah.
"Mandi bersama ya!" bisik Elang. Namun, Aiyla menggeleng karena pasti mereka akan melakukannya siang hari.
"Kenapa? Tenang saja, aku tidak akan langsung pada intinya." Kata Elang, seolah tahu isi kepala Aiyla.
Aiyla berdecak pelan, dia lanjut menghapus make-up. Setelah selesai dia masuk ke kamar mandi dengan cepat, membuat Elang tertawa.
__ADS_1
"Gak mau, mandi bersama sayang?" goda Elang.
"Engga." Teriak Aiyla, dari dalam Elang menggeleng merasa lucu.
***
Malam harinya, tamu undangan sudah memenuhi ballroom hotel Arkha hotel. Salah satu hotel milik teman Adskhan, dimana Adskhan sendiri memiliki saham di hotel tersebut.
Seluruh tamu undangan menikmati sajian yang disediakan, untuk sahabat-sahabat Elang. Mereka mendapatkan kursi spesial bersama Siska.
"Gila ya, keren banget nikahan sultan." Celetuk Reno, mereka menggunakan jas yang sama.
"Eh itu Siska," Raka menyikut Kevin yang tengah asik dengan minumannya, Kevin mengikuti arah pandang Raka disana Siska sangat cantik dengan gaun berwarna biru dengan payet-payet di sekitar dada. Rambutnya di gerai, dengan make-up natural menambah kesan cantik dan anggun Siska.
"Ehm ... Jangan diliatin terus, kalau berani deketin." Seru Daffa dan Reno.
"Sialan lo berdua," kesal Kevin, tapi tak bisa di pungkiri pesona Siska bertambah tiga kali lipat sangat cantik.
"Siska, sini." Harika meminta Siska untuk duduk di mejanya.
"Terima kasih, Tan." Balas Siska, Siska menyapa Salsa yang seperti putri Disney sangat cantik dengan gaun Cinderella.
Pukul delapan malam, pengantin baru tersebut berjalan menuju pelaminan yang sangat indah. Dimana banyak terdapat bunga, warna mawar merah dan putih. Melambangkan cinta dan kesetiaan.
Elang begitu gagah dan tampan dengan jas berwarna putih, sedangkan Aiyla dengan gaun tanpa lengan. Dengan bunga-bunga kecil sebagai hiasannya.
Iringan musik, Yovie and The Nuno yang berjudul Janji Suci. Saat pertengahan jalan Elang meminta mic kepada pembawa acara, dia menyanyikan lagu Janji Suci tersebut di hadapan Aiyla. Membuat Aiyla begitu merasa dicintai, Elang menjadikannya ratu sehari tapi Elang akan menjadikan ratu di hatinya untuk selamanya.
"Ya ampun, Elang ternyata so sweet banget ya." Celetuk teman angkatan Elang, Elang dan Aiyla juga mengundang seluruh mahasiswa Universitas Erlangga.
"Yap bener banget, gue gak nyangka. Dia yang selalu bersikap dingin, cuek dan agak bandel. Bisa juga bersikap romantis," timpal yang lainnya.
Falisha yang tak jauh dari teman-temannya, hanya mampu mendengarkan pujian untuk Aiyla. Iri? Tentu saja, siapa yang tak iri. Dia yang bertahun mengejar Elang, tapi hati Elang berlabuh pada Aiyla. Dosen pendamping di kampus mereka dulu.
Falisha bersyukur jika Elang bahagia, dia mengerti arti cinta dari Bara dan Raka.
Mencintai bukan berarti harus memiliki, jika orang yang kita cintai bahagia. Maka kita pun akan ikut bahagia, begitu sebaliknya. Obsesi dan cinta memang beda tipis.
__ADS_1
Perkataan Raka kala itu masih dia ingat sampai sekarang, Raka sahabat Elang yang selalu dihina nyatanya yang selalu ada untuknya akhir-akhir ini. Sedangkan Mila dan Kamila, sudah sibuk dengan urusan mereka masing-masing.
Falisha menatap Raka yang menghampirinya, pemuda tersebut mengulurkan tangannya membuat Falisha terkejut.
"Ra-Raka." Desis Falisha.
"Ayo berdansa," ajak Raka tersenyum sangat manis.
"Terima aja, Fal. Kasian jangan di tolak," sahut teman.
Mereka langsung menyoraki Falisha agar menerima Raka, dengan terpaksa Falisha menerima uluran tangan Raka. Mereka menuju lantai dansa, dimana Elang dan Aiyla sedang berdansa. Juga orang tua Aiyla dan Elang.
"Aku gak bisa, dansa loh!" bisik Falisha.
"Tenang aja, gue bakal ajarin lo."
Raka membawa tangan Falisha, lalu meletakkannya di lehernya. Sedangkan Raka memeluk pinggang Falisha, membuatnya menjadi gugup.
"Raka."
"Santai aja, lo nikmati saja ini semua. Lo harus percaya sama gue," kata Raka berbisik, Falisha pun mengangguk dia mengikuti gerakan Raka.
Dari jarak dekat Falisha bisa melihat Raka yang sangat manis, tak kalah tampan dengan Elang. Hanya saja, Raka memiliki tatapan yang sangat teduh.
"Astaga Fali, kemana aja lo selama ini? Lo udah dibutakan sama, obsesi lo sama Elang. Sampai mengabaikan laki-laki lain," ucap Falisha dalam hati.
"Gila Raka, lo memang keren." Pekik Daffa, tak menyangka mengajak Falisha berdansa.
"Lo gak ngajak, Siska dansa?" tanya Reno, menatap Siska yang duduk merekam momen dimana Aiyla dan Elang berdansa.
"Engga, gue yakin dia gak mau." Jawab Kevin, membuat Reno dan Daffa melirik ke arah sang sahabat.
Dan kembali fokus pada pesta dansa tersebut, Kevin sendiri sesekali mencuri pandang pada Siska. Bukannya tak mau mengajak berdansa, tapi gengsinya terlalu tinggi.
bersambung ...
Semoga suka, maaf typo 🤍
__ADS_1