Elang Bersama Sayap Yang Patah

Elang Bersama Sayap Yang Patah
Bab.29


__ADS_3

Berpuluh menit menempuh perjalanan, Elang sampai dimana Aiyla di sekap. Dia menatap sekeliling sangat jauh dari perumahan warga, bahkan untuk ke bawah saja memakan waktu yang lumayan banyak.


Dia menatap bangunan yang cukup tua, bahkan lebih angker dari gedung kosong yang hampir akan dihancurkan.


"Setan, bertemannya dengan setan. Pantas saja dia memilih tempat yang seperti ini," gumam Elang, entah mengapa Rendy sangat suka sekali memilih gedung atau rumah yang sudah tak terpakai.


Elang berjalan mencari celah untuk masuk ke dalam, setelah dia berputar dia menemukan pintu belakang yang tak di kunci. Dengan perlahan dia membuka pintu tersebut.


Saat melihat bayangan Elang langsung sembunyi, di dekat kursi yang sudah usang. Sekarang dia harus mencari Aiyla, tak lama dia melihat Rendy yang sudah segar.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Rendy.


"Dia baik, dan sudah sadar." Jawab Juno, di jawab anggukan oleh Rendy.


"Beri dia makan, jika mati kita yang repot."


"Baik."


Rendy kembali masuk ke dalam kamar, sedangkan Juno kembali ke atas dengan kantong kresek. Elang pun mengikuti Juno, dengan perlahan berharap Juno tak melihatnya. Namun, sayang Juno tahu Elang mengikutinya dia tersenyum miring menatap bayangan Elang.


Sementara itu, para anak buah Adskhan dan Louis baru sampai. Mereka sedikit kebingungan dengan jalan, yang sangat sulit dilalui oleh mobil mewah.


"Kita turun, dan berjalan menuju lokasi." Kata kepala bodyguard, dijawab anggukan oleh anak buahnya.


Sementara itu, setelah Kevin membereskan anak buah Rendy. Mereka langsung menyusul Elang, pasti Elang membutuhkan bantuan mereka. Meskipun ada bodyguard, tapi sebagai teman mereka harus solid dan kompak.


"Cepat, gak ada waktu lagi. Takutnya Elang keteteran." Ucap Kevin.


Mereka melajukan motornya dengan kecepatan penuh, hanya mengandalkan alat pelacak yang tertempel di motor miliknya. Kevin, terus menatap ponselnya mengarahkan jalan pada Daffa.


Kembali ke Elang, dia sudah sampai di kamar dimana Aiyla di sekap. Dia bisa melihat Aiyla yang diikat, juga mulutnya ditutup oleh lakban.


"Aiyla." Desis Elang.


Dengan kasar Juno membuka lakban tersebut, membuat Aiyla menahan perih.


"Juno, lepaskan aku." Mohon Aiyla, entah sudah berapa banyak air mata dan ucapan permohonan pada Juno.


"Tidak, sebelum kamu menyetujui persyaratan dari ku." Balas Juno.


"Makanlah." Juno memberikan roti kepada Aiyla. Namun, Aiyla malah memalingkan wajahnya. Sumpah Juno sangatlah kesal, jika bukan karena dia mirip kakaknya. Juno tak akan peduli, tapi cinta yang masih ada untuk orang yang dia cintai membuat Juno sedikit peduli.


"Makan Aiyla, makan." Teriak Juno kesal, dia memaksa memasukan makanan pada mulut Aiyla.

__ADS_1


Dengan menangis dia mencoba mengunyah makanan tersebut.


"Tega kamu, Juno. Tega!" lirih Aiyla.


Elang tak tahan melihat kekasih yang dia cintai diperlakukan kasar seperti itu, dengan kasar dia menendang pintu. Membuat Aiyla dan Juno menoleh.


"Elang, kamu datang!" isak Aiyla, terharu menatap Elang.


Bugh!


"Elang." Jerit Aiyla, saat melihat Elang di pukul oleh Rendy dari belakang.


"Haha ... Dasar bodoh, memang gue gak tahu kedatangan lo. Begitulah cinta, bisa membuat kita bodoh," cibir Rendy, dia dan Juno tahu bahwa Elang sudah masuk kedalam. Bahkan saat mereka berbicara di dapur pun sudah melihat Elang. Namun, Rendy dan Juno sepakat untuk pura-pura sampai Elang mengikuti Juno ke atas.


"Ikat dia," titah Rendy menatap Elang yang tak berdaya, pukulannya cukup kuat bisa saja Elang mengalami cedera.


"Lalu untuk dia ... Lakukan sesukamu Jun. Gue pergi dulu," kata Rendy berpamitan menyerahkan semuanya pada Juno, sebagai si eksekusi Juno hanya mengangguk enggan menjawab.


Lalu menatap Aiyla dan tersenyum menyeringai, dia akan membereskan Elang dulu lalu Aiyla.


"Juno jangan." Teriak Aiyla, semuanya gelap sebelum Aiyla melihat apa yang dilakukan oleh Juno. Kepadanya dan juga Elang.


Di Pelarian Rendy berpapasan dengan anak buah Adskhan yang kebetulan mengenali dirinya, Rendy dengan santai melalui mereka. Rendy hanya berpikir, mungkin mereka akan hiking tak akan mendekati rumah tersebut.


Elang tersadar dan mencoba menggerakkan tubuhnya, tapi tidak bisa. Juno sudah mengikatnya dengan kuat, lalu dia teringat dengan Aiyla. 


"Aiyla?" teriak Elang, dia tak melihat Aiyla dimanapun. Elang yakin ini tempat Aiyla, disekap sebelum dirinya pingsan.


"Rendy sialan, lepaskan Aiyla." Teriak Elang.


"Akhhh ...." Pekik Elang, mencoba memberontak untuk melepaskan diri. Namun, semuanya sia-sia ikatannya terlalu kuat.


Entah kemana Rendy membawa Aiyla, dia bersumpah akan menghabisi Juno jika terjadi sesuatu pada Aiyla.


***


"Mas, bagaimana sudah ada kabar?" tanya Harika, kini keluarga Aiyla dan Elang sedang berkumpul di kediaman Adskhan.


Agar para penjahat, tak melebar ke kampus dan menyasar para siswa.


"Belum, tapi mereka sudah tiba di tempat. Dimana Aiyla di sekap," kata Adskhan, dalam hati dia pun sangat khawatir dengan keadaan sang anak.


"Elang juga, sudah sampai Om." Beritahu Siska, yang ikut juga ke rumah Aiyla.

__ADS_1


"Hah ... Syukurlah, semoga Elang berhasil menyelamatkan Aiyla." Doa Yurika.


Sementara itu di apartemen Falisha, gadis tersebut meminta Kamila dan Mila untuk datang. 


Kedua sahabatnya tersebut menatap Falisha dengan pandangan heran, tak biasanya Falisha sampai mabuk seperti ini.


"Fali, sudah cukup. Lo terlalu banyak minum," ujar Kamil, merebut botol minum yang ada di tangan Falisha. Namun, Falisha merebut kembali botol tersebut.


"Enggak, gue mau merayakan keberhasilan gue." Katanya.


"Keberhasilan apa?" tanya Mila.


Falisha tertawa, lalu menatap kedua sahabatnya.


"Gue berhasil menggagalkan rencana, pertunangan Elang dan Aiyla." Celetuk Falisha, lagi-lagi dia tertawa sambil meracau tak jelas.


Kamila dan Mila sungguh terkejut sekaligus syok, dia tak menyangka bahwa Falisha lah dalangnya.


"Kita diam saja deh, jangan sampai terlibat. Repot kalo jadi saksi," bisik Kamila, membuat Mila mengangguk dia agak takut jika berurusan dengan polisi. Kalau ayahnya tahu, bisa habis Mila.


"Kita pulang aja, yuk!" ajak Mila.


"Entar deh, kalo si Fali dah tidur. Kalo sekarang kita pasti ditahan," bisik Kamila, mereka berbicara dengan berbisik agar tak ketahuan oleh Falisha yang sedang mabuk.


Kembali ke Elang, Elang berusaha membuka ikatannya. Tak lama pintu terbuka, Juno tersenyum sinis menatap Elang yang berusaha melepaskan diri. Juno berdiri di hadapan Elang, dengan tangan di dada.


"Gue heran, kenapa Aiyla lebih suka sama lo. Dibanding gue?" tanya Juno.


"Lo bukan apa-apa, keluarga saja hancur. Gimana lo bisa membuat sebuah keluarga jika lo sendiri tidak merasakan keluarga yang utuh." Cibir Juno.


"Ahh ... Apa mungkin nyokap lo itu, emm kurang memuaskan ayah lo heh?" Kekeh Juno, membuat Elang meradang dia tak suka jika ada orang lain menghina ibunya. 


"Brengsek, berisik lo. Jangan pernah hina nyokap gue, atau ... Lo akan tahu akibatnya," teriak Elang, langsung mendapatkan pukulan dari Juno.


Tak puas, Juno terus menjadikan tubuh Elang samsak hidup. Elang mengerang kesakitan tapi dia harus bertahan untuk Aiyla, di kamar sebelah. Aiyla mendengar suara kesakitan Elang.


"Elang." Lirih Aiyla.


"Juno, tolong jangan sakiti dia. Aku mohon," pekik Aiyla, dia menangis tersedu-sedu sangat lemah tidak bisa berbuat apa-apa.


"Elang..."


Bersambung...

__ADS_1


Maaf typo


__ADS_2