
Seorang gadis berkuncir satu, berlari-lari di taman mengejar kupu-kupu. Dia sedang berjalan-jalan bersama keluarganya, dan tak sengaja mendengar suara orang menangis.
"Eh, siapa yang menangis?" gumamnya, dia pun menuju sumber suara.
Sampai pada akhirnya dia menemukan seorang anak laki-laki yang terduduk dan menangis. Karena kakinya terluka.
"Kamu kenapa?" tanya gadis tersebut.
Anak lelaki tersebut mengangkat kepalanya dan menatap gadis cantik di depannya, gadis tersebut tertawa geli sekali. Karena pipi dan hidung anak lelaki tersebut memerah semua.
"Astaga, kamu lucu sekali. Hidungmu kayak badut," kekehnya.
"Jangan tertawa," ketusnya.
"Ya sudah maaf, kamu kenapa?"
"Aku jatuh."
"Kenapa bisa jatuh? Pasti kamu nakal kan? Gak nurut sama Mama dan Papa kamu."
"Engga, Mama ku sedang menjaga adik dan aku tidak sengaja jatuh saat menendang bola."
"Oh, lalu dimana Mama mu? Eh ... Namamu siapa? Namaku Almaira." Katanya, mengulurkan tangan pada anak lelaki tersebut.
"Namaku, Juno."
"Juno, nama yang bagus." Alma tersenyum, senyum yang sangat cantik membuat Juno terpesona pada gadis kecil yang ada di depannya.
Juno dan Almaira beda satu tahun tahun, Almaira berusia empat tahun sedangkan Juno berusia tiga tahun. Almaira banyak bercerita pada Juno, sambil menunggu Mamanya Juno yang lama kembali.
"Kamu tahu, aku juga akan punya adik. Tapi adikku perempuan," kata Alma.
"Tidak apa-apa perempuan, aku juga punya adik perempuan." Balas Juno, tapi Juno malah melihat wajah cemberut Alma. "kenapa cemberut begitu, kan jadi jelek."
Alma mencubit tangan Juno dengan kecil, membuat Juno tertawa.
"Aku takut hanya takut, Mama dan Papa gak perhatian sama aku." Lirih Alma.
"Engga juga, Mama dan Papa ku tidak membedakan aku tuh."
"Tapi ..."
Sebelum Alma berbicara, suara ibunya Juno terdengar memanggil. Juno berpamitan pada Alma, dan berjanji untuk bertemu lagi.
"Ketemu lagi ya, gadis cantik. Kalau ketemu aku akan menikahi kamu," goda Juno, membuat Alma tertawa.
__ADS_1
Sedangkan ibu dari Juno, hanya berdecak pelan mendengar ucapan sang anak pada anak perempuan yang sedang memperlihatkan mereka. Tak lama kepergian Juno, Adskhan dan Harika datang menghampiri Alma.
"Sayang, kamu buat Papa khawatir. Lain kali jangan jauh-jauh oke!" kata Adskhan.
"Baik Papa, tapi Papa selalu sibuk dengan adik bayi yang ada di perut Mama." Ucap Alma, tertunduk tak berani menatap sang Papa.
"Maafkan Papa sayang, bukan begitu. Papa tetap sayang sama kamu."
Adskhan memeluk sang anak dengan erat, dia tak mau merasa Alma terasingkan. Padahal Harika belum melahirkan, Alma sudah cemburu. Awalnya Alma biasa saja saat tahu dia akan punya adik malah terlihat sangat antusias, tapi setelah tahu adiknya perempuan dia malah tak suka. Dan tak mengharapkan adiknya tersebut, Harika dan Adskhan berusaha memberikan pengertian pada Alma.
"Ayo kita pulang saja, sebentar lagi siang. Pasti panas," kata Adskhan, menarik sang istri sambil menggendong Alma.
Saat akan ke dalam mobil, Alma bertemu dengan Juno kembali. Dan melambaikan tangannya pada Juno, dia juga berharap bertemu dengan Juno karena merasa memiliki adik laki-laki.
Beberapa tahun berlalu, kini Alma sudah masuk sekolah dasar. Sedangkan untuk sang adik Aiyla masuk playgroup yang berada satu lingkungan dengan sekolah dasar Alma.
Setiap setelah pulang sekolah Aiyla selalu menghampiri Alma, di jam istirahat kakaknya tersebut. Namun, Alma selalu menolak jika ada sang adik.
"Mama, kakak gak sayang aku." Adunya pada Harika.
"Tidak sayang, kakak sayang kok sama kamu. Cuma kakak kan lagi main, sama teman-teman." Kata Harika, dia menatap Alma dari kejauhan.
Saat itu pada hari minggu, Alma bertemu kembali dengan Juno. Di taman yang pernah mereka datangi sebelumnya.
"Kamu masih kenal, sama aku Jun?" tanya Alam tak percaya.
Alma pun menunjuk anak perempuan yang sama persis dengan dirinya.
"Namanya Aiyla, dia adikku. Tapi aku gak suka," katanya.
"Kenapa?" tanya Juno, walau Juno tahu alasannya kenapa.
"Dia merebut perhatian Papa, Papa lebih sayang sama dia."
Juno tidak tahu harus bagaimana, jadi yang hanya dia lakukan adalah mengelus puncak kepala Alma.
"Kapan-kapan kita bertemu lagi, yah!"
"Iya, bye Alma."
"Dadah Juno." Alma melambaikan tangan pada Juno. Namun, saat itu semuanya begitu cepat terjadi. Membuat Juno membeku di tempat, saat melihat tubuh Alma terbujur kaku.
"Juno, jangan lihat nak!" Ibu Juno menutup mata sang anak, agar tak melihat kejadian tersebut.
Adskhan benar-benar syok, dia lagi-lagi gagal melindungi sang anak. Dan mengakibatkan Alam pergi untuk selama-lamanya.
__ADS_1
Sejak hari itu, Juno tak pernah melihat keluarga Alma berjalan-jalan di taman. Juno merasakan kehilangan, sampai dia menginjak bangku kuliah.
Suatu hari dia tak sengaja melihat anak perempuan yang sangat mirip Alma, Juno selalu mengikutinya kemanapun dia pergi. Bahkan Juno rela menyembunyikan usia aslinya, dia masuk ke sekolah yang sama dengan Aiyla adik Alma.
Didukung dengan wajah baby face, semua orang tak ada yang curiga termasuk Aiyla. Dia menjadi teman dekat dari Aiyla, sampai lulus mereka masih saling kontak. Namun, saat Aiyla mulai masuk kuliah Juno kehilangan kontak dari Aiyla.
Dan sekarang dia bertemu kembali, dengan Aiyla saat keadaan berbeda. Dia selalu melihat Aiyla sebagai Alma.
****
Juno menyeret tubuh Elang yang tak sadarkan diri, karena pukulannya dan melemparnya di dekat Aiyla, yang masih diikat.
"Elang," pekik Aiyla.
"Juno, lepaskan Elang. Aku mohon Juno," pinta Aiyla dengan lirih.
Juno menatap tajam Aiyla, dan selalu ingat cerita sedih Alma yang perhatian orang tuanya hanya tercurah pada Aiyla saja.
"Kamu ... Kamu penyebab, kematian orang yang aku cintai." Ucap Juno, menatap tajam Aiyla.
"Si-siapa? Aku tidak mengerti, maksudmu Juno."
"Jangan pura-pura bodoh kamu," bentak Juno, dia melemparkan foto masa kecil Alma yang dia ambil secara diam-diam. Saat berada di taman.
Aiyla sedikit lupa dengan foto Alam, karena di rumah mereka tidak ada foto Alma. Karena Adskhan selalu sakit jika mengingat anaknya tersebut.
Melihat Aiyla yang bingung, Juno tertawa dengan air mata yang mengalir.
"Dia kakakmu Aiyla, apa kamu lupa hah?" teriak Juno, membuat Aiyla menatapnya tak percaya.
"Al-Almaira." Lirih Aiyla.
"Ya dia Almaira, wanita yang aku cintai." Jujur Juno.
"Cinta? Tapi ... Bagaimana bisa? Bukankah, kamu seumuran sama aku?" tanya Aiyla membuat Juno lagi-lagi tertawa.
"Tidak, umurku sudah 30 tahun Aiyla." Ungkap Juno, membuat Aiyla menggeleng dan terkejut.
"Tidak, itu tidak mungkin."
"Mungkin saja, aku melakukan ini semua. Demi Alma, aku selalu menganggap mu Almaira. Bukan Aiyla," pungkas Juno.
Aiyla terisak saat Juno menceritakan, semua fakta tentang Almaira. Dan entah mengapa para bodyguard Adskhan dan Louis, tak sampai-sampai ke rumah tersebut. Seharusnya mereka sudah menyelamatkan Aiyla dan Elang, sedangkan Kevin dan yang lainnya sudah sampai. Dan memutuskan untuk naik dengan motor mereka.
bersambung...
__ADS_1
Maaf typo 🙏