Elang Bersama Sayap Yang Patah

Elang Bersama Sayap Yang Patah
Bab.44


__ADS_3

Keesokan harinya Elang dan Aiyla pergi ke rumah Siska, karena Aiyla yang terus mengkhawatirkan sahabatnya tersebut. Berpuluh menit kemudian, mereka sudah sampai. Namun, begitu terkejut karena di halaman rumah Siska ada dua mobil yang tak Aiyla kenali.


"Ayo kita masuk, feeling aku kok. Gak enak ya!" 


Aiyla menarik Elang, bahkan parkir mobil pun sembarangan.


"Pak izinkan saya masuk," pinta Aiyla pada Pak satpam.


"Maaf Non, Tuan melarang siapapun masuk."


"Tapi Pak, saya sering datang kerumah Siska. Saya sahabatnya kenapa dilarang?" marah Aiyla.


"Sudah sayang biar aku saja." Elang menarik Aiyla mundur.


"Buka atau saya dobrak," ucap Elang dengan nada dingin, membuat penjaga rumah Lesmana agak menciut.


Penjaga tersebut membuka pagar rumah, dan mempersilahkan Elang dan Aiyla masuk.


"Kalau mobil gue lecet, lo yang harus ganti rugi." Bisik Elang, lalu mengikuti langkah sang istri.


Setibanya di dalam, Aiyla menatap Siska yang menunduk dan belum menyadari kehadirannya.


"Siska," desis Aiyla, mampu didengar oleh semua orang.


"Aiyla." Siska tersenyum menatap sahabatnya. Namun, saat dia akan beranjak dari duduknya Winda menahan Siska.


"Kalian, buat apa kesini? Pergi dari sini," usir Lesmana.

__ADS_1


"Tapi Om, saya ingin menjenguk Siska." Kata Aiyla.


"Tidak bisa, sebentar lagi Siska akan menikah!"


"Me-Menikah?" tanya Aiyla menatap Siska, yang matanya terlihat sembab. Juga dia terlihat kurus.


"Sis..."


"Gue bakal nikah Ai, lalu setelah itu. Gue bakal ikut sama suami gue, jadi pertemanan kita sampai sini saja." Jelas Siska, membuat Aiyla menggeleng.


"Ngomong apaan sih, lo?" Aiyla tertawa. Namun, air mata lolos begitu saja. Elang pun menenangkan Aiyla.


"Sayang." Panggil Elang.


Aiyla menatap calon suami Siska, yang menurutnya jauh dari kata baik. Seperti laki-laki yang ringan tangan.


"Pulang lah Ai, aku baik-baik saja. Aku akan menikah sebentar lagi, dan aku akan mengikuti suamiku!"


"Siska." Lirih Aiyla.


"Sekarang kalian boleh pergi," usir Lesmana, membuat Aiyla menggeleng.


Elang pun terpaksa menarik sang istri, dia akan memikirkan cara menolong Siska nanti.


"Sayang tenang," ucap Elang, setelah mereka di dalam mobil.


"Tapi Siska, aku yakin dia terpaksa."

__ADS_1


"Iya aku tahu, kamu tenang dulu yah! Jangan panik, aku akan bantu Siska pergi oke!"


Aiyla mencoba untuk tenang, dia harus percaya pada sang suami. 


"Siska, maafkan aku. Aku gak tahu kalau kamu punya masalah." Ucap Aiyla dalam hati, dia kira sahabatnya baik-baik saja. 


Elang pun meninggalkan rumah Siska, dia akan menghubungi semua anggota Balck Angel. Tapi sebelum itu, Elang harus mengantar Aiyla pulang.


"Aku mau ikut," ucap Aiyla, saat Elang akan mengantarkan dirinya ke rumah Yurika.


"Engga sayang, kamu harus dirumah. Aku mohon Ai." Pinta Elang.


"Baiklah, kamu harus janji bantu Siska apapun yang terjadi." Tutur Aiyla, dijawab anggukan oleh Elang.


Elang mengantar Aiyla ke rumah Harika, atas permintaan Aiyla sendiri. Bukannya dia tak mau dirumah Yurika, hanya saja Yurika sedang hamil dan membutuhkan istirahat yang cukup.


Setelah kepergian Aiyla, Siska menatap nanar sang ayah. Yang menerima baik lamaran lelaki yang sejujurnya tak dia cintai, mengapa? Mengapa hidupnya jadi seperti ini?


Winda sendiri dia tersenyum puas, dengan apa yang dilakukan oleh suaminya. Sebentar lagi semua harta atas nama Siska, akan menjadi miliknya.


"Dasar bodoh," cibir Winda tersenyum sinis.


"Jangan pernah main-main dengan ku, anak kecil. Inilah akibatnya," bisik Winda, membuat Siska memutar bola mata malas. Dia harus berusa mendapatkan hartanya dari valakor.


"Aiyla, tolong gue ...." Batin Siska.


Dia tak mau berakhir dengan lelaki macam, Aji. Walau terlihat baik diluar, belum tentu dia baik didalam

__ADS_1


Maaf typo


__ADS_2