
Elang menatap gemas Aiyla, yang tengah menatap dirinya di cermin.
"Sayang, aku gemukan," keluh Aiyla, menatap pipinya yang semakin chubby.
Elang memeluk sang istri dari belakang, menatapnya di cermin dengan penuh cinta.
"Gak papa, aku suka kok." Bisik Elang, mencium pipi Aiyla. "Sudah, aku mau berangkat ke kantor." Kata Elang.
"Aku ikut yah?"
"Mau apa, sih? Pake ikut segala?"
"Ya mau aja, takut kamu di godain." Ketus Aiyla.
"Astaga, gak akan ada yang berani godain aku. Sayang," ucap Elang dengan gemas mencubit pipi Aiyla.
"Elang," protes Aiyla.
"Gak mau pokoknya, aku mau ikut. Kalau enggak aku laporin sama Papa," ancam Aiyla, Elang membuang nafasnya dengan kasar.
"Oke baiklah, ayo." Ajaknya kemudian, Aiyla dengan cepat merapikan rambutnya dan memoles lipstik di bibirnya.
Elang dan Aiyla meninggalkan hotel, Elang hanya berpesan agar membereskannya saja. Karena nanti sore, mereka akan kembali lagi. Karena Aiyla belum minta pulang ke apartemen, mungkin setelah ini Elang akan mencari rumah yang tak jauh dari rumah orang tuanya atau orang tua Aiyla.
Berpuluh menit kemudian, Elang dan Aiyla sudah tiba di perusahaan tempat Kevin dan Daffa bekerja. Elang memiliki ruangan sendiri, sedangkan Kevin dan Daffa dijadikan satu dan berdekatan dengan Kevin.
"Nyonya kenapa, ikut?" tanya Daffa, saat melihat Aiyla disamping Elang.
"Biasalah bumil," sahut Elang, mulai membuka berkas yang akan dia tandatangani. Aiyla sendiri langsung duduk di sofa yang sudah disediakan.
"Kevin belum datang?" tanya Elang.
"Belum, katanya nemuin nyokap-nya." Balas Daffa, Elang menyerahkan berkas tersebut lalu meminta Daffa memesankan coklat hangat untuk Aiyla.
"Sayang, sebentar ya aku kerja dulu. Cari uang buat kembar," ucap Elang memberikan ciuman jarak jauh, membuat Aiyla tertawa dan mengangguk.
***
Sementara itu, Evan dan Eliza sudah sampai di kediaman Evan.
"Kayanya, Tante Leni gak ada Om." Ujar Eliza, menatap sekeliling rumah yang menurutnya besar. Tapi, sudah berkurang isinya.
Evan memanggil salah satu pelayan, dan menanyakan keberadaan Leni.
"Nyonya, sedang berada diluar. Tuan,"
"Diluar? Sedang apa, dia?" gumam Evan.
"Bertemu dengan den Kevin," jawabnya, Evan mengangguk dan meminta pelayan tersebut pergi. Tapi sebelumnya, pelayan itu memberikan surat untuk Evan.
"Surat apa, ini? Eliza kamu duduk dulu saja," titah Evan.
__ADS_1
"Baik Om."
Evan membuka surat tersebut, dan membaca isinya. Isi yang membuatnya marah.
"Apa-apaan, ini?" bentaknya, lalu melempar surat tersebut. Eliza yang berada tak jauh dari Evan, jadi terkejut dan menatap calon ayah mertuanya tersebut.
"Kenapa Om?"
"Wanita itu, beraninya meminta cerai." Cetus Evan, amarahnya sudah di ubun-ubun. Ingin rasanya dia melampiaskannya pada Leni.
Tak lama Leni pun tiba di kediaman, yang sebentar lagi akan dia tinggalkan. Dia menatap Evan, yang juga menatapnya dengan tatapan tajam siap menelannya hidup-hidup. Takut? Tentu saja, tapi Leni berusaha bersikap biasa saja. Leni melirik sekilas pada Eliza.
"Jelaskan apa, ini?" Evan melempar surat perceraian antara dirinya dan Leni.
"Kamu bisa baca 'kan?" tanya Leni dengan wajah datar.
"Berani kamu, Leni." Desis Evan, Eliza yang ada di sekitaran Leni dan Evan merasa ini bukan waktu yang pas untuk berada di rumah tersebut.
"Om, Tante. Aku pergi dulu," pamit Eliza dengan cepat, tanpa menunggu jawaban dari mereka.
"Jika tak jelas, maka aku akan memperjelas. Aku ingin bercerai dari mu," tutur Leni dengan tegas.
"Mimpi, sampai kapan pun. Aku tidak akan pernah melepaskan mu Leni," ujar Evan, membuat Leni tersenyum miring.
"Aku tidak peduli Evan, aku akan tetap mengajukan perceraian. Karena kamu ... Terbukti sudah selingkuh di belakangku, bahkan kalian memiliki anak yang sudah besar." Leni mengepalkan tangannya, saat mengatakan itu semua sakit dadanya sesak.
Saat Evan akan bicara, Leni lebih dulu menyela Evan. "Aku bodoh sangat bodoh, membuang waktu ku dengan lelaki sepertimu! Harusnya dari awal, aku mendengarkan ucapan kedua orang tua ku!"
"Leni aku ..."
"Cukup, jangan pernah menjelaskan apa pun. Aku percaya dengan apa yang aku lihat Evan, semuanya pengkhianatan yang kau lakukan." Geram Leni.
"Tanda tangani itu, agar kau bisa meresmikan hubungan mu dengan Angel." Cetus Leni.
"Dan aku ... Aku akan pergi, agar kamu puas!"
Setelah berbicara seperti itu, Leni pergi meninggalkan Evan. Kemanapun yang dia mau, asal tak melihat lelaki brengsek tersebut.
Evan mematung di tempatnya, dia memandang lurus kedepan. Sudah tak terlihat lagi sang istri, yang menemaninya dari yang tak memiliki apa-apa sampai sekarang dia sukses.
Evan menatap kertas di depannya, permintaan Angel yang sebentar lagi akan terkabul. Tapi, apakah dia mampu menceraikan Leni?
"Tidak, aku tidak bisa." Gumam Evan, menggeleng dan merobek kertas tersebut.
Ponsel Evan berdering, Mita menghubunginya sudah beberapa kali Mita menghubunginya. Tapi diabaikan, karena tengah bersama Angel.
"Ada apa, Mita?" tanya Evan.
"Akhirnya, anda menjawab panggilan saya Tuan."
"Cepat katakan, ada apa?" Kesal Evan.
__ADS_1
Mita pun menceritakan tentang perusahaan cabang, yang berubah menjadi perusahaan pusat karena diakuisisi oleh seseorang yang bernama Elang.
"Apa?" pekik Evan. "Jangan bercanda, kamu Mita."
"Mana mungkin saya bercanda, Tuan. Jika tidak percaya anda kesini saja," ujar Mita.
"Baiklah, sebentar lagi aku akan kesana."
Evan mematikan sambungan telepon dengan Mita, sementara Mita di ujung sana tersenyum sinis, menatap Elang dan Aiyla yang diyakini bakal diusir dari perusahaan.
"Sayang, ayo ke ruangan." Ajak Elang, karena pekerjaannya sedikit tertunda karena Aiyla ingin jalan-jalan di temani Elang.
"Sebentar sayang, aku bosan di ruangan mu. Kamu terlalu fokus bekerja," katanya dengan nada manja.
"Bilang saja, ingin terus sama gue." Ucap Elang dalam hati.
"Kita ke kantin saja, makanan disana cukup sehat dan bergizi." Ajak Elang.
"Baiklah ayo," Aiyla begitu semangat, jika bersangkutan dengan makanan.
Sesampainya di kantin, Aiyla memilih banyak cemilan tak lupa dia memesan jus buah kesukaannya. Elang menggeleng melihat Aiyla, dia sangat bersyukur Aiyla tak mengalami mual di pagi hari. Elang mengajak Aiyla kembali ke ruangannya, dengan beberapa bungkus kresek di tangannya.
"Elang," panggil Evan dengan lantang, membuat Elang menatap Ayah dari Kevin tersebut.
Bugh!
"Elang," pekik Aiyla terkejut, saat melihat Elang mendapatkan bogem oleh Evan. Bawaan yang dibawa oleh Elang berserakan, juga minumannya tumpah.
"Berhenti, apa-apaan anda ini?" teriak Aiyla, mencoba menghentikan Evan.
"Berhenti saya bilang, berhenti!" Pekik Aiyla. Namun, Evan tak menghentikannya kesalnya Aiyla karena Elang tidak melawan.
"Diam kamu, sialan!" bentak Evan, dia mendorong Aiyla dengan keras.
"Aiyla," pekik Elang, menatap Aiyla yang terduduk sambil memegangi perutnya.
"Kurang ajar, beraninya." Elang mendorong Evan dengan keras, sebelum menghampiri Aiyla dia memberikan pukulan pada Evan.
"Sayang."
Aiyla meringis memegangi perutnya yang terasa melilit, dengan segera Elang mengangkat tubuh Aiyla dan membawanya ke mobil untuk ke rumah sakit. Kabar kedatangan Evan, membuat Kevin turun dan melihat kondisi Ayahnya tersebut. Terdapat darah di sudut bibirnya.
"Kevin." Panggil Evan.
"Jangan sebut nama ku, dengan mulut kotor mu." Ucap Kevin dingin. "karen, mulai sekarang aku bukan anakmu. Dan aku tidak akan membelamu dari amukan Elang, jika terjadi sesuatu pada kandungan istrinya!"
Kevin pun pergi meninggalkan Evan, yang menahan sakit di dekat sudut bibirnya. Pukulan Elang tak main-main.
bersambung ...
Maaf typo
__ADS_1