
Dengan langkah tegap, Elang berjalan menuju tempat baru berkumpulnya Black Angel. Semua orang sudah hadir, hanya Kevin yang tak biasanya datang terlambat.
"Ada apa, Lang? Apa ada hal, yang penting?" tanya Raka, menatap Elang dengan wajah serius. Dari dulu memang Elang selalu berwajah serius.
"Dimana Kevin?" tanya Elang.
"Katanya ada urusan, sama keluarga." Sahut Daffa, yang memang sering datang dengan Kevin. Elang pun mengangguk, lalu memulai obrolan serius bersama anggotanya.
Sejak menikah dia memang jarang berkumpul, hanya sesekali jika penting. Jika tak penting, maka dia lebih memilih menghabiskan waktu dengan Aiyla.
"Jadi maksud lo, kita harus menggagalkan pernikahan Siska begitu?" tanya Reno.
"Ya begitulah, kalau bukan karena Siska sahabat Aiyla. Gue juga gak mau bantuin dia," celetuk Elang, membuat Reno, Raka dan Daffa mendelik mendengar ucapan sang sahabat.
"Gila lo, kalau Aiyla tahu. Mampus lo, gak di kasih jatah!" cibir Daffa.
"Sudahlah, jangan bahas itu. Entar kalian pusing lagi, dan gak bisa di salurkan." Kekeh Elang, membuat sahabatnya memutar bola mata malas juga anak buahnya tertawa.
Mereka siap membantu, dan akan membawa pergi Siska. Dengan cara pura-pura di culik, dan merusuh di rumah Siska sekitar beberapa hari lagi.
"Gue balik dulu," ujar Elang, yang tak tega meninggalkan Aiyla sendiri di apartemen.
"Oke hati-hati," sahut Raka.
Kevin sendiri dia sedang berkumpul bersama keluarga besarnya, dia diperkenalkan dengan anak dari saudara Ayahnya. Tepatnya saudara ayah dari jauh, dari pihak keluarga Neneknya.
"Kalian kenalan dulu aja, urusan menikah dan tunangan akan jadi urusan kami para orang tua." Ujar sang paman, membuat Kevin menatap Ayahnya juga pamannya.
"Menikah? Tunangan? Apa-apaan, Papa ini!" kesalnya dalam hati, dia terus mengaduk makan malam di depannya.
"Kevin, makan makananmu. Dengan benar nak!" tegur sang Ibu, yang bernama Leni.
Kevin pun mendengus dengan kesal, lalu memakan makanannya dengan malas. Sedangkan gadis yang akan dijodohkan dengannya, tersenyum menatap Kevin.
"Tahu gini, gue kumpul aja sama anak-anak." Gerutu Kevin, dia pun hanya mendengarkan obrolan keluarganya yang tentang bisnis.
***
__ADS_1
Keesokan harinya seperti biasa Elang akan pergi bekerja, dia bekerja di perusahaan Adskhan. Dan menjadi wakil CEO, sedangkan Aiyla sudah berhenti dan mengelola cafe milik Elang.
"Jangan cemberut terus dong, nanti cantiknya ilang." Goda Elang, saat menatap wajah Aiyla yang cemberut. Semalam dia pulang larut, karena membeli pesanan Yurika dan saat pulang langsung menemui Aiyla yang sudah tertidur. Dan bodohnya dia tak memberitahu, kenapa dia pulang malam.
"Tau ah, aku marah." Ketus Aiyla, membuat Elang tertawa sangat lucu jika sedang marah.
"Maaf," bisik Elang, memeluk Aiyla dari belakang.
"Semalam Mama, minta dibelikan sate yang dekat rumah Papa Louis." Jelas Elang.
Aiyla menghembuskan nafasnya dengan pelan, dia memaklumi Ibu mertuanya yang sedang hamil, dan bukan itu permasalahannya. Elang tidak mau memberitahu tentang rencananya untuk Siska.
"Aku gak marah, soal Mama kamu yang mau sate. Tapi aku kesal, kamu gak kasih tahu aku tentang rencana mu pada Siska." Ujar Aiyla, kini dia menatap Elang yang tersenyum sangat manis. Beruntung Aiyla, menjadi orang yang selalu melihat senyum manis itu.
"Kamu tenang saja, semua beres serahkan pada Black Angel." Cetus Elang.
"Tapi ... Aku takut, kamu di penjara lagi."
"Sayang, kamu jangan khawatir. Serahkan semuanya sama aku. Oke! Suamimu ini, bisa melakukan semuanya." Elang mencoba meyakinkan Aiyla, agar tak terlalu khawatir.
Aiyla hanya ingin Siska terbebas dari Ayah kandung dan Ibu sambungnya, tapi Aiyla juga takut, terjadi sesuatu pada Elang dan yang lainnya. Elang mencium kening Aiyla, agar Aiyla tenang. Elang tak ingin Aiyla banyak berpikir yang mempengaruhi kesehatannya.
"Siska."
Sementara itu, Siska sendiri sedang menunggu Aji datang menjemput. Mereka akan melakukan fitting baju pengantin.
"Senyum, jangan cemberut." Ketus Winda, yang menemani Siska yang memutar bola mata malas.
"Makanya jangan main-main, sama Ayah mu. Jadilah seperti ini," cetus Winda.
"Aku hanya mengamankan apa yang menjadi milikku, dari Bundaku." Jawab Siska dengan datar. Winda langsung menatap tajan Siska.
Sepuluh menit kemudian, Aji sudah sampai dia langsung turun dan menyapa calon Ibu mertuanya. Yang terlihat sangat cantik, jika dibanding dengan Siska anak sambungnya.
"Selamat pagi menjelang siang, Tante. Cantik sekali hari ini," puji Aji, membuat Winda mengulum senyum. Dan Siska yang melihat itu sungguh muak, ingin rasanya dia menghajar Winda dan Aji.
"Kamu bisa aja, nak Aji." Kekeh Winda.
__ADS_1
Aji melirik ke arah Siska, yang berwajah datar. Jika boleh, Aji ingin menikahi Winda yang sangat cantik. Tapi sayang Winda sudah punya suami.
"Ayo cepat, keburu siang." Ketus Siska, agar Aji tak lama menatap Winda.
"Aku pergi dulu, Tante." Pamit Aji, dia mencium punggung tangan Winda lalu mengedipkan matanya. Membuat Winda tersenyum malu-malu.
Selama di perjalanan, hanya ada keheningan dalam mobil tersebut. Aji pun tak berminat membuka obrolan, dia menerima perjodohan itu karena demi harta sang Ayah.
Berpuluh menit kemudian, mereka sudah sampai di salah satu mall terbesar di kota Bandung. Kevin dan Elisabeth pun berada di mall yang sama dengan Siska, untuk membeli perhiasan untuk bertunangan. Sementara itu, anggota black angel mengikuti Siska dari jarak aman.
Mereka mengirim gambar Siska, yang nampak malas masuk toko ke toko yang lain. Setelah mendapatkan apa yang Aji mau, mereka menuju toko perhiasan dimana Kevin berada. Namun, Siska belum menyadari itu semua.
"Maaf mbak, ini sudah ada yang beli." Kata pelayan, membuat Siska menyimpan cincin yang menurutnya manis.
Siska tak banyak bicara, dia terus memilih cincin yang akan dipakai nanti. Namun, benar-benar tak ada yang dia suka.
"Bagaimana, sudah ketemu?" tanya Aji.
"Belum."
Aji pun mengajak Siska ke tempat lain, berharap apa yang diinginkan gadis itu ada. Sekilas Kevin mendengar suara Siska, tapi saat menoleh tak ada siapa pun.
"Apa gue, terlalu rindu?" gumam Kevin dalam hati, Kevin memperhatikan Eliza yang sedang memilih kalung,
"Sudah?" tanya Kevin.
"Belum, gak ada yang bagus." Katanya.
"Kita cari di toko yang lain saja, atau kamu mau pesan?"
"Pesan saja deh," sahut Eliza dengan senyum sumringah.
Eliza pun menyebutkan pesanannya juga desainnya seperti apa, lalu setelah selesai Eliza mengajak Kevin ke salah satu cafe yang tak jauh dari toko perhiasan. Mereka memesan minuman dan cemilan saja, sedangkan Kevin menatap sekeliling merasa kenal dengan para anggota black angel.
"Kenapa mereka, ada disini? Siapa yang sedang mereka, pantau?" gumam Kevin, masih didengar oleh Eliza. Tapi, tak terlalu jelas dan Eliza pun mengabaikan Kevin. Sibuk dengan ponselnya, kebiasaan Eliza selalu memposting apapun yang dia lakukan di sosial medianya.
bersambung ...
__ADS_1
Maaf typo