
Kabar tentang perusahaan Evan yang diakusisi, oleh perusahaan Halime. Sampai juga di telinga Lauren adik dari Leni, dia tersenyum miring menatap berita tersebut.
"Lihat, bagaimana sekarang usaha laki-laki yang kamu banggakan. Mbak!" gumamnya, selama ini Lauren selalu memantau perusahaan Syailendra juga sang kakak Leni. Dia juga tahu, bahwa kakaknya itu diduakan oleh Evan.
"Seandainya kamu, menuruti apa kata Papa. Mungkin hidupmu tidak akan seperti ini," gumamnya. "kami juga, akan menerima anakmu. Mbak!"
Menurut anak buah Lauren, Leni juga tak terlihat beberapa hari terakhir ini. Entah kemana dia saat ini, Lauren sudah mengerahkan beberapa orang untuk mencari kakak kandungnya tersebut.
***
Evan seperti orang linglung saat ditanya oleh Angel, membuat Angel merasa aneh menatap suaminya tersebut.
"Kamu kenapa sih, mas?" tanya Angel.
"Aku gak apa-apa," jawab Evan dengan pelan.
Membuat Angel membuang nafas dengan kasar, tak meneruskan lagi bertanya pada Evan. Dia lebih memilih pergi ke dapur untuk menyiapkan makan siang bersama asisten rumah tangganya.
[Sidang pertama perceraian anda, dengan nyonya Leni akan diadakan besok. Pukul delapan pagi, Tuan Evan.]
Notifikasi yang membuatnya dunianya hancur seketika, disaat masalah datang silih berganti. Seharusnya Leni ada untuknya, sama seperti dulu dia merintis usahanya. Evan juga dipusingkan, dengan pinjaman online yang terus memberitahu bahwa dia sudah jatuh tempo selama satu bulan.
Evan meremas rambutnya frustasi, bertanya-tanya kenapa bisa telat bayar? Padahal selama ini, dia selalu rutin memberikan bayaran pada kekasih gelapnya yang lain.
"Sialan, mereka mempermainkan aku." Geram Evan, saat menghubungi Nana. Namun, ponselnya tidak aktif. Alhasil penagih tersebut menghubungi dirinya sebagai penanggung jawab.
Kevin sendiri kembali kerumah yang terdapat banyak kenangan di dalamnya, memang dia berniat akan menjualnya. Dan membeli rumah baru, yang akan ditempati bersama Siska nantinya. Toh kata Leni, rumah tersebut sudah menjadi haknya.
"Bu, aku akan menjual rumah ini." Kata Kevin, lewat sambungan video. Entah dimana Leni berada, yang terlihat hanya ranjang berwarna peach.
"Terserah kamu, rumah itu milikmu sayang." Sahut Leni.
"Ibu lagi dimana?"
"Di suatu tempat," ucapnya penuh rahasia.
"Jangan main rahasia deh, aku anak Ibu loh!" rengek Kevin dengan manja.
"Kamu ini, sudah mau menikah. Tapi, kaya anak kecil aja." Leni menggeleng menatap sang anak, yang sudah beranjak dewasa.
"Hari ini, aku akan membatalkan perjodohan ku dengan Eliza bu. Doakan semoga semuanya lancar," ujar Kevin, menatap Leni yang tersenyum padanya.
"Ibu selalu, mendoakan yang terbaik untuk mu. Nak!"
Kevin mengangguk, lalu dia menanyakan kembali dimana Leni sekarang? Namun, sang Ibu konsisten tidak memberitahu dimana dirinya berada. Kevin pun mengakhiri sambungan video lalu mulai membereskan semua barang dirinya, juga barang milik Leni yang tersisa.
"Huh! Kayanya, gue butuh bantuan yang lainnya." Gumamnya, saat menatap barang Evan yang enggan dia sentuh.
Elang sendiri dia meminta salah satu anak buahnya, untuk mengawasi Eliza. Yang ternyata sering mengunjungi, klub malam terkenal di kota tersebut.
"Terus awasi saja dulu, jangan melakukan apa pun. Dan rekam semua pembicaraan, Eliza dengan orang yang dia temui." Titah Elang.
__ADS_1
"Baik bos," jawab orang tersebut.
"Sayang sudah?" tanya Aiyla.
"Sudah sayang, apa yang kamu mau?"
Aiyla tersenyum menatap Elang, lalu merentangkan tangannya.
"Peluk," ucapnya dengan manja.
"Sini bayi besar," ujar Elang menyambut pelukan Aiyla, yang lebih manja. Aiyla sudah dilarang untuk pergi ke cafe oleh Elang juga Adskhan.
"Siapa yang sedang, kamu awasi?" tanya Aiyla, kini dia bersandar dengan nyaman di dalam pelukan Elang.
"Ada deh, rahasia. Kamu gak perlu tahu," cetus Elang, membuat Aiyla cemberut.
"Nyebelin," gumamnya. Namun, dia tak lepas dari pelukan Elang.
Sementara itu, Eliza yang kembali ke club malam karena permintaan Alfa. Dia tidak sadar sedang diawasi, Eliza menatap tajam Alfa. Yang sedang menenggak minumannya dengan santai.
"Cepat, katakan ada apa?" ketusnya.
"Hey! Santai saja sayang, kamu mau kemana memang? Jangan buru-buru lah, apa kamu tidak merindukan aku, hem?" goda Alfa, menarik Eliza agar duduk di pangkuannya.
Eliza tak menolak atau memberontak, dia pasrah saja membuat Alfa tersenyum miring.
"Dasar murahan dan munafik," umpatnya dalam hati.
"Gue cuma mau minta uang sama lo, El. Gak banyak, cuma 10 aja." Celetuk Alfa, membuat Eliza mendelik.
"Cuma lo bilang, itu banyak sialan."
"Lo kan kaya, Eliza. Uang segitu gak ada artinya bagi lo, mungkin cuma buat beli daleman lo aja kan?"
"Sialan, sampai kapanpun jangan harap bisa dapat uang dari gue." Katanya, dan mulai beranjak dari pangkuan Alfa.
"Yakin? Lo gak mau kasih gue duit, El?" tanya Alfa.
"Gimana kalo, orang tua lo dan calon suami lo tahu. Kalo pernah tidur sama gue hah? Pasti sangat menyenangkan, jika lo batal nikah." Cibir Alfa tersenyum miring, saat melihat Eliza membalikan tubuhnya.
"Hapus foto atau video itu, sekarang juga!" titahnya dengan tegas, membuat Alfa tertawa sangat keras.
"Tidak semudah itu, Eliza. Asal lo kasih gue duit, gue janji bakal hapus foto dan video itu." Ujar Alfa, Eliza memejamkan mata merasa dijebak oleh lelaki yang dulu pernah menjadi kekasihnya.
"Oke," putus Eliza, dia mengeluarkan ponselnya. Lalu mengirim sejumlah uang kepada Alfa.
"Bahkan, lo masih hafal nomor rekening gue." Kekehnya.
"Sekarang, hapus foto itu." Titahnya.
"Oke, lihat." Alfa menghapus beberapa foto dan beberapa video, di hadapan Eliza.
__ADS_1
Tanpa banyak kata, Eliza pergi begitu saja dari sana. Dengan kekesalan yang amat sangat, tabungannya terkuras habis gara-gara mantan miskinnya tersebut.
"Gue kasih harga yang bikin lo, kaya mendadak. Asal berikan foto dan video itu!"
Alfa langsung menoleh ke arah pemuda, yang sangat rapi juga terlihat anak orang kaya menurutnya. Atau pura-pura kaya, dia pun tidak peduli.
"100." Celetuk Alfa, membuat anak buah Elang yang bernama Yuda mendelik.
"Oke," ucapnya, Alfa tersenyum senang hari ini dia benar-benar beruntung karena mendapatkan rezeki nomplok.
Yuda menunjukan bukti pengiriman, pada Alfa yang mengangguk. Lalu dia mengirimkan foto dan video Eliza yang tidur dengannya.
Yuda memberitahu Elang, bahwa dia memiliki bukti yang akurat. Walau dia harus mengeluarkan uang, Elang pun tahu apa yang harus dia lakukan.
***
Pukul delapan malam, Kevin sudah berada dirumah keluarga Eliza. Dan disambut hangat oleh Mamanya Eliza.
"Kevin, apa kabar?" tanya Lili.
"Baik Tan, Tante apa kabar?"
"Baik, seperti yang kamu lihat. Tante makin cantik, gak jauh beda sama Ibu kamu," kekehnya bercanda, Lili dan Leni berbeda enam tahun. Tuan Lili tentunya, walau keluarga Eliza adalah saudara jauh Kevin dari pihak Evan. Tetap saja, Kevin merasa canggung.
"Kevin," sapa Keenan, Kevin pun dengan segera menyalami Keenan.
"Ada apa? Tumben kesini, Eliza gak ada dirumah." Kata Keenan.
Kevin menghembuskan nafasnya dengan pelan, sebelum berbicara dengan sang Om.
"Om, maksud kedatangan saya ke rumah Om. Adalah ... Untuk membatalkan, pernikahan aku dengan Eliza," jujur Kevin.
"Jujur, aku tidak mencintai Eliza Om. Apalagi perusahaan Papa, sudah bangkrut dan diakusisi oleh perusahaan Halime." Papar Kevin, menatap wajah Keenan yang terlihat tenang.
"Om sudah tahu, semua itu. Tapi, Om tidak pernah terpikir untuk membatalkan pernikahan itu. Kevin," tutur Keenan, sejenak Kevin memejamkan mata.
"Tapi Om, apa Eliza mau hidup di kontrakan kecil bersama saya?" tanya Kevin, dia terpaksa berbohong berharap Keenan membatalkan pernikahan tersebut.
"Eliza pasti mau, dia harus belajar Vin. Apalagi pernikahan kalian tinggal satu minggu lagi," jelas Lili, membuat Kevin menatapnya.
"Satu minggu?" gumam Kevin, dia kira pernikahan itu masih lama. Banyaknya masalah yang menimpa Kevin dan keluarga, membuatnya lupa soal pernikahannya dengan Eliza.
"Om saya mohon, batalkan pernikahan itu. Eliza, pasti bisa mendapatkan laki-laki baik selain saya." Lirih Kevin dengan memohon.
"Bahkan, Ibu dan Papa saya akan bercerai." Kata Kevin.
Namun, tak ada tanggapan dari pasangan paruh baya tersebut. Membuat Kevin pasrah, jika harus menikah dengan Eliza. Tapi, bagaimana dengan Siska? Apa dia harus mendua? Dan menjadikan Siska istri siri? Jika iya, maka dia sama saja dengan Evan.
bersambung...
Maaf typo
__ADS_1