
Beberapa hari berlalu, Evan sudah kembali dari liburannya. Dia sudah masuk bekerja dan tidak menaruh curiga sedikitpun, dengan cabang perusahaannya yang diakusisi.
"Dimana Kevin?" tanya Evan.
"Tuan Kevin, dia berada di perusahaan cabang Tuan." Lapor asisten Evan, yang bernama Hilmi.
"Sedang apa dia, disana? Bukannya dia harusnya disini?"
Hilmi menatap sang bos dengan perasaan ragu, apakah dia harus memberitahu kepada Evan atau tidak?
Tak lama pintu diketuk dari luar, dan Hilmi dengan sigap membuka pintu untuk tamu sang Tuan. Siapa lagi, kalau bukan Eliza.
"Eliza," sapa Evan.
"Om," rengek Eliza, dia pun duduk dihadapan sang calon mertua.
"Kenapa? Apa Kevin, membuat masalah?"
"Bukan sekedar masalah Om, dia gak ada hubungi aku. Panggilan aku pun dia tolak," adunya dengan anda manja.
"Kamu sudah ke rumah?"
"Sudah, tapi Tante Leni gak tahu dimana Kevin."
__ADS_1
"Astaga anak itu, kamu tenang saja El. Om pastikan kevin akan tunduk padamu," cetus Evan, membuat Eliza tersenyum lebar.
"Makasih Om, memang Om yang terbaik. Gak salah Papa mau bantu Om," ujarnya membuat Evan tersenyum.
Evan pun mengajak Eliza ke rumahnya, untuk menemui Leni. Sementara itu, Kevin sedang mengunjungi sang Ibu mereka berdua janjian di salah satu cafe sekaligus sarapan.
Kevin menatap lekat, wajah yang tak muda lagi. Namun, masih cantik juga terawat. Ibunya selalu menyembunyikan masalah dan lukanya dengan senyum, tak sekalipun dia melihat Leni mengeluh.
"Vin, kalo Ibu berpisah dengan Papa mu. Gimana?" tanya Leni dengan ragu.
"Gak gimana-gimana, aku sudah dewasa Bu. Aku sudah bisa menentukan hidupku kedepannya, satu hal yang pasti. Aku akan selalu disamping Ibu," papar Kevin, membuat Leni berkaca-kaca ya benar anaknya sudah dewasa. Sudah bisa hidup mandiri berbeda jika Kevin masih SD dia harus ikut dirinya.
"Ibu ... Sudah mendaftarkan perceraian dengan Papa mu," celetuk Leni, Kevin menggenggam tangan sang Ibu dan mengusapnya pelan.
"Gak papa, itu bagus. Aku mendukungmu Bu jangan khawatir, kalau perlu aku minta Elang untuk mencarikan pengacara terbaik," ujar Kevin.
Kevin pun memberitahu Leni, bahwa dia akan menikahi Siska beberapa minggu lagi. Awalnya Leni keberatan, tapi setelah melihat binar cinta dimata Kevin membuat Leni memberikan restu pada Kevin.
"Kamu ... Harus menyelesaikan, urusanmu dengan Eliza terlebih dulu. Vin, jika tidak pasti akan jadi masalah kedepannya." Ujar Leni.
"Iya Bu, aku akan memutuskan pertunangan kami. Jujur aku kurang nyaman dengan Eliza, aku serasa tidak dianggap. Berbeda jika dengan Siska," celetuk Kevin, tersenyum saat menceritakan kekasih hatinya. Kevin juga memberitahu Leni, bahwa istri dari Elang sedang hamil.
"Wah, Elang akan punya adik juga anak? Lucu sekali," kekeh Leni, hanya bersama Kevin dia bisa tertawa lepas.
__ADS_1
"Ya begitulah, memang Ibu tidak mau. Punya cucu?" goda Kevin, menatap sang Ibu.
"Ya maulah, siapa yang gak mau." Jawab Leni, pukul setengah delapan pagi. Kevin berpamitan pada Leni karena dia harus bekerja. Kevin belum jujur pada Leni, tentang cabang perusahaannya yang di akusisi oleh Elang bersama tiga perusahaan Ayah sambung, ayah kandung juga mertuanya.
Leni menghembuskan nafasnya dengan pelan, menatap punggung sang anak yang sudah menjauh. Setelah semuanya selesai, Leni akan tinggal di satu negara yang dia impikan selama masih muda dulu.
****
Sementara itu, Aiyla dan Elang menghabiskan waktu bersama di hotel milik Adskhan. Semalam tiba-tiba Aiyla menangis ingin menginap di hotel milik sang ayah, dengan perintah Adskhan pekerja hotel menyiapkan kamar untuk Aiyla dengan cepat. Permintaan aneh, unik dan agak lain emang.
Biasanya Ibu hamil selalu ngidam mangga muda sampai haris manjat pohon, atau suaminya mengelus orang botak.
"Sayang." Bisik Elang, Aiyla sungguh cantik dengan lingerie warna hitam dan rambut tergerai indah.
"Sudah pagi, apa kamu gak mau bangun, sayang?" tanya Elang lalu mengecup pipi Aiyla, dan terakhir menuju perut.
"Sayang ini Daddy, tolong jangan nakal-nakal di perut Mommy. Dan bilang sama Mommy jangan minta yang aneh-aneh," bisik Elang, membuat Aiyla terkekeh lalu mencubit lengan Elang main-main.
Aiyla menatap mata Elang yang juga menatapnya, tak bisa diungkapkan dengan kata-kata lagi. Elang sangat memuja, memperlakukannya dengan baik.
"Makasih ya! Udah mau nerima aku," ucap Aiyla, mencium bibir Elang.
"Harusnya aku yang berterima kasih, karena mengubah hidupku jadi penuh warna. Yang awalnya hitam dan putih, kini menjadi warna pelangi," tutur Elang, membuat Aiyla tersenyum lalu mengecup bibir Elang dengan lembut dan mesra.
__ADS_1
Bersambung..
Maaf typo