
Elang ikut pulang bersama Yurika, berpuluh menit berkendara. Akhirnya mereka sampai di kediaman Yurika, rumah yang beberapa hari ini dia tinggalkan.
"Ayo, masuk." Ajak Yurika, menarik Elang dia memeluk lengan sang anak agar tak tiba-tiba pergi.
Padahal dia tak akan pergi ke mana-mana.
"Kamu mau makan, apa? Biar Mama, masakin." Kata Yurika.
"Tidak usah, nanti aku beli saja." Tolak Elang, kini dia mulai melunak.
"Ya sudah, biar Mama buatkan minuman kesukaan kamu." Tanpa menunggu jawaban Elang, Yurika langsung pergi menuju dapur. Frans menatapnya dengan senyum tipis, merasa bersyukur karena sekarang sang istri sudah ceria.
"Jangan sungkan, kamu boleh memanggilku. Papa atau Om, terserah senyamannya kamu aja." Cetus Frans, sebelum Elang bicara dia sudah lebih dulu berbicara.
Dia tak akan memaksa Elang, untuk memanggilnya Papa. Tapi, dia akan membuat Elang memanggilnya Papa dengan sendirinya.
Tak lama Salsa pun datang, dia dengan semangat memasuki rumah. Dan sangat senang, dengan kedatangan Elang.
"Kak, Elang." Pekik Salsa, berlari lalu memeluk Elang yang mematung dan juga terkejut.
"Salsa, kenapa kamu ... Kamu ada disini?" tanya Elang
"Loh! Kak Elang kan, janji mau jadiin aku adik." Celetuk Salsa.
"Aku dari kemarin, kemarin nungguin kakak. Tapi gak datang-datang, kata Mama kakak sibuk kerja!" Lanjutnya kemudian, Salsa memeluk Elang dengan erat. Begitu senang karena pada akhirnya bisa bertemu dengan Elang.
Elang masih bingung dengan keadaan ini, sampai akhirnya Frans menjelaskan semuanya. Bahwa Aiyla memberitahu Yurika, kalau Elang ingin mengadopsi salah satu anak panti untuk dijadikan adik.
Elang tersenyum dan mengangguk, lalu dia memeluk Salsa.
"Kakak senang banget, akhirnya Salsa bisa jadi adik kakak." Ujar Elang.
"Aku juga." Pekik Salsa, tak lama Yurika datang dengan empat gelas minuman dan juga buah-buahan.
"Mama." Salsa melepaskan pelukan Elang, lalu beralih memeluk Yurika yang sudah menyimpan nampan di meja. Dia sangat bahagia, akhirnya keluarga yang dia mau sudah terwujud.
"Jadi, foto anak kecil yang Louis dapat adalah foto Salsa." Gumam Elang dalam hati, dia menatap Salsa yang menunjukan raut wajah bahagia.
Lalu pandangannya teralihkan pada sang ibu, yang sudah diabaikan. Sebelah sayap yang selalu dia bawa. Namun, Elang selalu melepaskan sayap itu hingga sayap yang dia miliki patah keseluruhan. Hari ini, Elang merasa sayap itu ada kembali walau hatinya patah. Akankah bersama Aiyla atau tidak.
Sementara itu.
Jonathan menatap tajam Melati, dia sangat kesal karena sudah merusak rencananya.
__ADS_1
"Apa, kamu sudah puas. Melati?" tanya Jo, dengan dingin.
"Jo ... Aku, aku hanya ingin pengakuanmu. Untuk anak ini, aku tidak meminta apapun sama kamu. Sekalipun kamu akan jatuh miskin," papar Melati, ya dia tak peduli. Jika nantinya keluarga Jonathan jatuh miskin.
"Halah, gue gak percaya. Gue tahu lo gimana Melati, lo itu ... Cewek yang gila harta." Hina Jonathan, lalu pergi meninggalkan kamar dimana seharusnya Jo menghabiskan. Malam pertama dengan Aiyla.
Melati menunduk dan menangis, dia menangisi takdir yang menimpa dirinya.
"Maafkan, Ibu. Nak!" lirih Melati, mengusap perutnya.
Melati memutuskan untuk membersihkan diri, karena dia sudah merasakan gerah.
Kediaman Adskhan, malam ini mereka akan kedatangan tamu.
"Ma, kok sibuk banget sih. Siapa yang akan datang?" tanya Aiyla, dia sudah ganti dengan baju rumahan. Sedangkan Siska yang meminta menginap dia sedang mandi.
"Rahasia, kejutan untuk kamu." Kata Harika, membuat Aiyal mencebik dia memeluk Harika dari belakang. Lalu melihat apa yang sedang sang ibu kerjakan.
Adskhan sendiri, dia sedang duduk sendiri di balkon kamarnya juga menikmati angin sore. Jika Elang tidak memberitahunya, mungkin saat ini Aiyla dan Jonathan menikah.
"Setidaknya, aku harus berterima kasih padanya." Gumam Adskhan, lalu dia mengirim pesan pada seseorang.
***
"Ini ... Anak buah Tuan Adskhan, mengirim pesan bahwa beliau. meminta kita untuk datang," beritahu Frans pada sang istri, menunjukan pesan tersebut.
"Kira-kira, ada apa ya?" tanya Yurika.
Frans membisikan sesuatu pada Yurika, membuat senyum Yurika mengembang sempurna.
"Kalau begitu, ayo kita ke mall." Ajaknya, mengambil tas dan menarik Frans yang menggeleng menatap Yurika.
Tak terasa waktu begitu cepat, malam pun tiba Yurika, Frans, Salsa dan Elang sudah siap dengan pakaian indah mereka.
"Memang, kita mau kemana?" tanya Elang menatap sang ibu.
"Kejutan, kamu pasti akan suka." Sahut Frans, membuat Elang memutar bola mata malas. Tak lama suara deru motor terdengar.
"Loh! Kalian, ngapain lo semua ke sini?" tanya Elang, menatap sahabat-sahabatnya. Elang merasa heran saat melihat, teman-temannya memakai batik.
"Memenuhi undangan, Tante Yurika." Seru mereka kompak.
"Ayo, kita pergi sekarang. Nanti telat," ajak Yurika, empat motor mengiringi satu mobil menjadi pusat perhatian warga sekitar.
__ADS_1
Elang diam saja, dia tak banyak bicara. Yurika menatap Elang yang membuang pandangannya, dia sangat bersyukur pada akhirnya hati Elang melembut. Dan mau menerima dirinya sebagai ibunya, bukan sebagai orang yang dia benci karena kehilangan rumahnya yang sesungguhnya.
Asik melamun membuat perjalanan menuju rumah Aiyla cepat sampai, Elang mengerutkan kening dan menatap ke arah Frans. Merasa tak asing dengan jalan, yang mereka lalui.
"Ini..." Elang mencoba meminta penjelasan pada Frans. Namun, Frans tak menjawab.
Rombongan keluarga dan sahabat Elang, sudah sampai di depan rumah kediaman Halime. Mereka disambut dengan hangat oleh sang tuan rumah.
"Selamat datang," kata kepala pelayan, rumah tersebut.
"Mari silahkan masuk," ajaknya kemudian.
Dengan berbagai macam pertanyaan, Elang mengikuti langkah Yurika dan Frans, yang menggandeng tangan Salsa. Kevin menepuk pundak Elang.
"Selamat ya, bor." Kekeh Kevin.
"Ada apa, sih ini? Gue bingung," tanya Elang. Namun, tak ada yang menjawab kebingungan Elang.
"Selamat datang, Tuan Frans." Kata Adskhan, memeluk calon besannya.
"Jeng Yurika," sapa Harika, memeluk Yurika lalu menyapa Salsa yang dia kenal.
"Bunda Harika." Salsa memeluk Harika dengan erat, dia mengucapkan banyak terima kasih pada Harika yang sudah mau menampung dirinya di panti asuhan Mentari.
Sementara Siska sejak tadi mengintip tamu, yang datang ke rumah Aiyla. Dia menebak bahwa Aiyla akan dijodohkan lagi.
"Gue, harus kasih tau Aiyla." Kata Siska, dia berlari menuju kamar Aiyla yang kebetulan dia sedang memakai piyama tidur dan roll rambut. Tak diberitahu akan ada yang datang, makanya Aiyla santai saja.
"Ai, gawat." Pekik Siska.
"Ada, apa? Menang lotre, lo?" ledek Aiyla, membuat Siska memukul lengan Aiyla.
"Bukan, rese lo. Gue anak baik gak mungkin main gituan," katanya dengan ketus.
"Teru, ada apa?"
Siska membisikan sesuatu pada Aiyla, membuat Aiyla mendelik dengan sempurna.
"Serius kamu?"
"Memangnya tampang, gue tampang bohong apa?" kesal Siska.
bersambung...
__ADS_1
Maaf typo 🙏