
Setelah membeli kebutuhan untuk menikah dan fitting baju, Aji mengantar Siska pulang. Tapi, Siska menolak dan akan pulang sendiri. Aji pun tak menolak, dan meninggalkan Siska sendiri di parkiran mall.
"Syukurlah, aku bisa menemui Aiyla." Gumam Siska, Lesmana sudah melarang Siska untuk bertemu dengan Aiyla.
Saat menunggu taxi online, Siska menatap mobil yang dia kenali. Siapa lagi kalau bukan mobil Kevin, Siska pun tidak memperdulikan itu karena sebentar lagi dia akan menikah.
Kevin sendiri tak menyadari keberadaan Siska, terus melajukan mobilnya keluar dari parkiran mall. Mungkin takdir belum, ingin mempertemukan mereka berdua. Tak lama, taxi online yang dipesan oleh Siska sudah datang. Dia langsung menuju ke cafe milik Elang yang kini Aiyla kelola.
Berpuluh menit kemudian, Siska sudah sampai di cafe milik Elang. Dia berharap Aiyla ada disini, agar tak harus mencarinya kesana kemari.
"Selamat siang, selamat datang di Moon cafe." Ujar pelayan, membuka pintu.
"Selamat siang, saya ingin bertemu dengan Bu Aiyla, ada?" tanya Siska.
"Kebetulan ada, mari saya antar."
"Tidak perlu, saya sahabatnya." Kata Siska.
Pelayan tersebut memberitahu letak ruangan Aiyla berada, setelah tahu Siska mengucapkan terima kasih. Lalu menuju lantai dua, dimana Aiyla berada. Tak membutuhkan waktu lama, Siska sudah berdiri didepan pintu ruangan Aiyla. Masih ada keraguan untuk menemui sahabatnya tersebut.
"Huh!"
Tok!
Tok!
Tok!
"Masuk." Teriak Aiyla dari dalam, pintu terbuka. Namun, Aiyla tak mengalihkan perhatiannya dari laptop.
"Ada apa? Apa, ada yang penting?" tanya Aiyla.
"Ada." Jawab Siska, berhasil membuat Aiyla menoleh dan berteriak.
"Siska." Pekik Aiyla, langsung berdiri dan memeluk Siska dengan erat. Saking eratnya, membuat Siska pengap.
"Aiyla, gue sulit nafas. Lo mau bunuh gue, apa?" ketus Siska, melepaskan pelukan Aiyla. Membuat sang sahabat malah tertawa.
"Idih, malah ketawa. Jahat lo ya," kesal Siska, lalu Aiyla meminta Siska untuk duduk.
"Antara kan minuman dan cemilan, ke ruangan saya." Titah Aiyla.
Aiyla pun ikut bergabung dengan Siska, dan mulai bertanya banyak hal. Siska dengan sedih menceritakan semua masalahnya, mulai dari dia yang memindahkan semua harta peninggalan Bundanya. Atas nama Siska, lalu sang Ayah yang menjodohkannya. Karena telah lancang memindahkan semua aset atas namanya.
"Itukan punya Bunda gue," lirih Siska, setelah selesai bercerita.
Aiyla memeluk Siska, dan mencoba menenangkannya.
__ADS_1
"Lo yang sabar, yah! Gue bakal minta Papa, buat bantuin lo." Ujar Aiyla.
"Gak usah, percuma saja Ai. Sekarang semua aset atas nama si Winda," ungkap Siska. "gue hanya pasrah akan takdir gue, gue akan menikah. Lalu ikut suami gue ke Surabaya."
"A-apa, Surabaya? Serius?"
"Iya, dia kerja di Surabaya. Entah kerja apa gue pun gak tahu," tukas Siska, dia menatap kosong ke depan.
Aiyla mengusap lengan Siska, menyalurkan rasa nyaman untuk sahabatnya tersebut. Duku saat dia ada dalam masa sulit, kini giliran Aiyla yang akan ada untuk Siska.
Pukul dua siang, Siska berpamitan untuk pulang. Membuat Aiyla sedikit kecewa.
"Padahal, gue masih kangen lo!"
Siska hanya tersenyum, tanpa kata dia memeluk Aiyla. Yang sudah dianggap sebagai adik, Siska pun meminta Aiyla untuk datang ke pernikahannya dengan Aji hanya bersama Elang saja.
"Gue pasti datang," kata Aiyla, mengantar Siska ke depan. Karena taxi pesanannya sudah datang.
"Oh ya Ai, tolong kasih tahu Kevin. Kalau gue ..." Siska menunduk, sangat malu untuk mengaku. Sedangkan Aiyla langsung mengeluarkan ponsel dan merekam ucapan Siska.
"Gue suka sama dia, tapi apalah daya. Gue yang udah tua ini." Kekehnya, membuat Aiyla menggeleng.
"Gue juga udah tua Siska, umur gue dan Elang juga beda jauh." Cetus Aiyla cemberut.
"Lo sama Elang cocok, sedangkan gue ... Gue bagai bumi dan langit, Kevin memiliki segalanya dan gue hanya anak yang kehilangan kasih sayang Ayahnya." Tutur Siska dengan sedih, Siska menghembuskan nafasnya dengan sepenuh dada. Dan berpamit pada Aiyla.
"Gue harus bantu, Siska." Gumamnya, menatap ponsel di tangan dan mengirim pesan suara pada Kevin. Apa Kevin menyukai Siska tau tidak? Aiyla pun belum tahu, jika Kevin sudah dijodohkan dan akan segera bertunangan.
***
Sementara itu.
Kevin yang mendapatkan pesan suara dari Aiyla, malah melamun menatap kosong ke depan. Pekerjaannya jadi tak fokus, gara-gara pengakuan Siska. Dan fakta bahwa Siska pun akan menikah, dan pindah ke Surabaya.
[Aku gak bisa lakukan apapun, Miss Aiyla. Aku pun akan bertunangan sebentar lagi.]
Kevin mengirim pesan balasan kepada Aiyla, yang langsung dibaca. Namun, sampai lima menit Aiyla tak juga membalasnya, malah nomornya tak aktif.
"Semuanya terlambat, gue gak bisa menepati janji gue sama lo. Siska, maaf." Gumam Kevin, dia memutuskan untuk pergi ke suatu tempat.
Aiyla yang mendapat pesan dari Kevin, menjadi kesal karena Elang tidak memberitahunya bahwa Kevin akan bertunangan.
"Hallo." Ketus Aiyla.
"Sayang, ini Mama." Kata Yurika di seberang telepon.
"Eh ... Mama, maaf Ma aku gak tahu. Aku lagi kesal sama anak Mama," jujur Aiyla, membuat Yurika tertawa.
__ADS_1
"Kesal, kesal kenapa?"
"Adalah Ma, ada apa Ma. Apa Mama ngidam?" tanya Aiyla.
"Iya ini adikmu, dia pengen lihat kamu masak." Ucap Yurika, membuat Aiyla tertawa.
"Astaga Ma, lucu banget sih. Baiklah Ma, sebentar lagi akan ke rumah Mama."
"Oke, makasih ya sayang Mama tunggu."
"Iya."
Yurika mematikan panggilannya dengan sang menantu, Aiyla sendiri langsung membereskan meja kerjanya. Dan akan pergi kerumah sang mertua, sekaligus menunggu Elang pulang kerja dan meminta kejelasan soal Kevin.
Berpuluh menit kemudian, Aiyla sudah sampai di rumah Ibu mertuanya. Dia melihat Salsa yang tengah bermain sepeda.
"Kak Aiyla," pekik Salsa, dia langsung turun dari sepeda dan langsung memeluk Aiyla.
"Kangen," rengeknya.
"Kakak juga, ayo masuk kita masak. Katanya adik bayi pengen masakan kakak." Ujar Aiyla, Salsa menggandeng tangan Aiyla. Dia menceritakan keseruan selama di sekolah.
"Hari sabtu besok, aku akan pergi ke perkebunan kak. Kakak antar aku yah?" pinta Salsa.
"Loh, bukannya mau sama Mama?" tanya Yurika yang muncul dari arah dapur.
"Nggak mau, kasian dede bayi entar kecapean." Sahut Salsa, memeluk Yurika dengan penuh rindu. Semenjak hamil Salsa dan Yurika jarang bersama, Salsa selalu bersama Anisa atau Frans.
"Aku gak akan nakal, aku gak papa jika Mama dan Papa gak sayang aku. Asal aku tidak dikembalikan ke panti asuhan," batin Salsa, lalu dia melepaskan pelukan dari Yurika.
Salsa dan Aiyla mulai memasak, tentu saja Salsa menggunakan pisau yang aman untuk anak. Sedangkan Yurika, dia membuat minuman segar yang sejak tadi lewat di beranda sosial medianya. Cappucino cincau dan juga chicken steak.
Tak lama Frans pun pulang, dengan membawa pesanan Yurika. Martabak telur, cilok, empek-empek, batagor juga rujak. Frans menyerahkan pisang keju untuk Salsa.
"Terima kasih, Papa." Ucapnya antusias.
"Sama-sama sayang." Frans mengelus lembut puncak kepala Salsa.
"Astaga Mama, banyak sekali." Kekeh Aiyla, melihat makanan diatas meja.
"Iya dari tadi semua makanan ini, lewat terus di beranda sosial media Mama. Jadinya ngiler."
"Astaga." Aiyla tertawa geli sekali, dengan sikap Ibu mertuanya yang menjadi manja.
Bersambung ...
Maaf typo
__ADS_1
Jangan lupa vote juga kembang kopinya 💕