
Pandangan mata Aiyla kosong, menatap lurus ke depan. Tidak tahu pasti bagaimana kematian sang kakak terjadi, Adskhan dan Harika selalu bilang jika Almaira sakit. Sebenarnya Almaira bukanlah kakak kandung Aiyla, dia adalah anak dari adik Adskhan yang telah meninggal karena melahirkan Alma.
Pada saat itu, Harika yang selalu keguguran memutuskan untuk mengadopsi Alma. Keluarga besar Adskhan dan Harika pun setuju, mereka juga tidak mengetahui dimana ayah kandung Alma. Yang mereka tahu, ibu dari Alma pulang dalam keadaan hamil.
Hari-hari Adskhan dan Harika cukup berwarna dengan adanya Alma, mereka berjanji jika memiliki anak kandung tak akan membedakan dengan Alma. Dan entah kebetulan atau memang takdir, wajah Aiyla dan Alma sangatlah mirip.
Lamunan Aiyla buyar saat tiba-tiba, terdengar suara letusan pistol. Dia pun menoleh ke arah Juno yang sudah ambruk, disana ada orang-orang berpakaian hitam menghampiri Aiyla.
"Nona, anda tidak apa-apa?" tanya salah satu anak buah Adskhan.
"Aku tidak apa-apa, tolong selamatkan Elang." Pinta Aiyla, karena kondisi Elang cukup parah dan masih belum sadarkan diri.
"Baik nona, mari ikut kami."
Aiyla pun di ajak keluar dari rumah tersebut, setibanya di bawah. Dia melihat Rendy yang sudah dalam kondisi terikat, disalah satu mobil tak jauh dari Kevin dan yang lainnya.
"Miss, anda gak apa-apa?" tanya Kevin, setibanya Aiyla di dekat mobil.
"Saya tidak apa-apa, tapi ... Elang, dia terluka." Lirih Aiyla, menatap Elang yang baru di baringkan ke dalam mobil.
"Astaga, ayo cepat kita bawa ke rumah sakit." Cetus Kevin, di jawab anggukan oleh Aiyla.
Aiyla masuk ke jok belakang, memangku Elang. Kevin pun meminta kunci mobil dari bodyguard Adskhan. Biar dia yang membawanya.
Singkatnya mereka sudah sampai di rumah sakita, Elang, Rendy dan Juno mendapatkan penanganan medis.
"Miss, anda juga harus mendapatkan perawatan." Kata Raka, kini hanya ada Aiyla dan Raka. Sedangkan yang lain sedang mengurusi hal lain.
"Aku tidak, apa-apa." Jawabnya, tak lama keluarga Aiyla dan Elang pun datang. Aiyla menatap Adskhan dan Harika, lalu memeluk sang ibu dengan erat dia menangis tersedu-sedu.
"Sayang, sudah nak! Semuanya sudah berakhir. Papa sudah melaporkan mereka," kata Adskhan, mengelus punggung Aiyla.
"Sebaiknya, Aiyla bawa ke psikiater. Takut dia trauma," cetus Yurika, dia sudah menanyakan keadaan Elang pada Raka. Jika Elang masih dalam penanganan.
"Tidak tante, aku baik-baik saja." Sahut Aiyla, Yurika mengangguk dan mengelus lembut puncak kepala Aiyla dengan sayang.
"Sayang, kamu terluka." Celetuk Harika, tersadar bahwa tangan sang anak berdarah.
"Aku baik-baik saja, Ma. Hanya luka kecil," balas Aiyla.
__ADS_1
"Tidak sayang, luka kecil akan menyebabkan infeksi juga. Ayo Mama temani kamu," ajak Harika, dia membawa Aiyla ke salah satu ruangan dokter untuk di obati.
Aiyla terus menatap wajah Harika dengan lekat, sesekali meringis saat dokter menekan lukanya.
"Sudah selesai, anda boleh istirahat terlebih dulu." Kata dokter.
"Baik dok, terima kasih." Jawab Harika, setelah dokter keluar. Harika menatap Aiyla yang sering banyak melamun.
"Sayang, kamu baik-baik saja? Coba cerita sama Mama." Pinta Harika.
Aiyla menatap Harika, lalu memeluk Harika dengan erat. Dia mulai terisak lalu terdengar tangis yang sangat sedih.
"Sudah sayang, semuanya akan baik-baik saja. Mereka akan di penjara," ujar Harika menenangkan. Namun, bukan itu masalah Aiyla.
Harika mengelus lembut punggung sang anak, membiarkan sang anak menangis. Aiyla pun tertidur dalam pelukan Harika, karena dia terlalu lelah memikirkan semua kejadian yang terjadi.
***
Sementara itu di kediaman Falisha, Falisha yang mabuk langsung pingsan. Walau pingsan sesekali, dia selalu menyebut nama Elang.
Kamila dan Mila yang masih berada di tempat Falisha, hanya bisa diam menatap sahabatnya tersebut.
"Kita pulang aja, yuk!" ajak Mila, yang memang sangat khawatir jika dia akan terlibat dalam penculikan.
"Sudah biarkan saja, atau kita lapor sama kak Bara." Usul Mila, Bara adalah kakak dari Falisha.
Hanya dengan Bara, Falisha bisa menjadi gadis penurut. Berbeda jika dengan sang ayah dia akan menjadi gadis manja, yang apa-apa harus dituruti.
"Ide bagus, cepat lo hubungi kak Bara." Pungkas Kamila, membuat Mila mendelik dan mendengus dengan kasar.
"Menyebalkan, lo aja lah. Gak ada kuota gue," elaknya beralasan.
Kamila berdecak dengan kesal, bukan Falisha saja yang takut. Dia juga malas sebenarnya, menghubungi Bara jika tak penting-penting amat. Dengan terpaksa, Kamila akhirnya menghubungi Bara.
Kamila menghembuskan napasnya dengan lega, setelah panggilan terputus. Dengan nada dingin, Bara menjawab Kamila.
"Gimana, dia mau kesini?" tanya Mila.
"Iya, katanya sebentar lagi sampai." Balas Kamila, dijawab anggukan oleh Mila.
__ADS_1
Dua puluh menit berlalu, yang ditunggu akhirnya tiba. Bara sudah masuk ke dalam apartemen milik Falisha, membuat Kamila dan Mila terkejut dan refleks berdiri.
"Ka-kak Bara." Sapa Kamila dan Mila dengan gugup, nyali mereka menciut saat melihat tatapan tajan dari Bara.
"Kenapa dia?" tanya Bara.
"Fa-Falisha, mabuk kak." Sahut Kamila, dia merutuki bicaranya yang gagap.
"Mabuk?"
Kamila dan Mila mengangguk bersama, sangat takut pada Bara.
"Baiklah, terima kasih sudah menjaganya. Kalian boleh pergi," ujar Bara, Kamila dan Mila bergegas pergi dari apartemen tersebut. Setelah berpamitan pada Bara, kini tinggallah Bara dan Falisha.
Bara menggeleng pelan menatap sang adik, yang menurutnya terlalu banyak dimanja oleh ayah mereka.
"Inilah akibatnya, jika Papa selalu memanjakan Fali dan menuruti keinginannya." Gumam Bara, lalu dia memangku Falisha untuk di pindahkan ke kamar. Membersihkan ruang tamu yang berantakan.
Kembali ke rumah sakit, Elang sudah dipindahkan ke ruang perawatan VIP. Setelah melewati masa kritis.
Yurika menatap Elang yang masih memejamkan mata, menurut dokter Elang akan sadar kemungkinan nanti malam.
"Elang, nak! Kamu harus kuat," bisik Yurika, dia mencium kening sang anak dan mengusap rambutnya dengan lembut.
Yurika menyandarkan kepalanya di lengan Elang, dia hanya sendiri di ruangan tersebut. Karena Frans tengah keluar mencari makan untuk mereka berdua.
"Mama janji, setalah kamu sadar. Kita akan menghabiskan waktu berdua," kata Yurika, dia ingin menebus semua waktu yang telah dia lewati selama ini karena kesibukannya.
"Bangunlah sayang, Salsa merindukanmu. Mama juga."
"Termasuk Aiyla," lanjut Yurika dalam hati.
Yurika terus mengajak bicara Elang, agar dia cepat sadar. Sungguh dia sangat takut kehilangan anak lelakinya, anak yang dia sayang.
Tanpa Yurika sadari, Louis sedang mendengarkan ucapan Yurika pada Elang. Ada rasa sesal dalam hatinya, saat melihat ini dengan matanya. Ada rasa sesal dan sesak, yang dia rasakan sekarang.
Louis pun memilih menjauh, dia mengurungkan niatnya untuk menemui Elang. Biarlah setelah Elang sadar, dia akan menengok Elang.
"Hah ... Bodoh kau Louis, kau gagal menjadi seorang ayah dan suami yang baik. Bodoh, bodoh, bodoh." Umpat Louis, merutuki kebodohannya.
__ADS_1
Bersambung...
Maaf typo 🙏