
Aiyla menatap sedih Elang, yang belum juga sadar. Dia juga menatap perban yang ada di kepalanya, akibat ulah Rendy dan Juno.
"Elang, maafkan aku." Lirih Aiyla, dia menangis memandang Elang dari jauh tak ingin mendekat. Karena takut menyakiti Elang.
Yurika menyeka sudut matanya, dia menghampiri Aiyla dan mengusap pundak sang calon menantu.
"Ini bukan salahmu, sayang. Semuanya takdir Elang. Dia pasti kuat, tante yakin Elang akan bangun," kata Yurika, menatap sang anak.
Aiyla mengangguk lalu semua orang yang di ada di ruangan Elang, mulai berdoa dipimpin oleh Adskhan untuk kesembuhan Elang.
Sementara itu Juno, dia sudah sadar dan dia menatap sekeliling. Tadi dia melihat anak kecil yang sangat mirip dengan Alma, dia tersenyum dan mengulurkan tangan pada Juno.
"Alma, Al..." Lirih Juno, dan didengar oleh suster yang menjaganya. Karena mereka tidak tahu keberadaan keluarga Juno.
"Tuan, anda sudah sadar? Syukurlah," ucap suster.
Tapi Juno terus saja memanggil nama Alma, yang membuat suster bingung. Dan keluar dari ruangan, menanyakan pada keluarga korban yang di bawa kemari. Sesampainya di ruangan Elang.
"Maaf, apakah anda nona Alma?" tanya suster pada Aiyla, membuat Adskhan menoleh sedikit tajam membuat nyali suster menciut.
"Eh, ma-maaf tuan. Pasien yang bernama Juno sudah sadar, dan dia memanggil nama Alma." Jelasnya menunduk, karena takut dengan tatapan tajam Adskhan.
"Dia sudah, sadar?" tanya Adskhan memastikan, suster pun mengangguk.
"Baiklah saya akan melihatnya, anda boleh pergi sus."
"Baik, Tuan. Permisi," pamit suster, buru-buru keluar karena melihat ketegangan di antara mereka.
"Pa..." Panggil Aiyla, dia ingin menanyakan bagaimana Alma dan Juno saling mengenal.
"Ada apa, sayang?" Adskhan mengusap lembut rambut sang anak.
"Bagaimana, Juno kenal dengan kak Alma?" tanya Aiyla menatap sang ayah. Adskhan menatap kosong ke depan sebelum dia menjawab pertanyaan Aiyla. Almaira nama yang tak pernah dia lupakan sampai kapanpun, Alma adalah anak dari adik yang dia sayangi. Sampai kapan pun, Adskhan tak akan pernah melupakan Alma kecil.
"Sebaiknya kita tanya dia langsung, padanya." Kata Adskhan, lalu menatap Yurika dan Frans.
"Kami permisi dulu, semoga Elang cepat bangun." Ucap Adskhan.
"Terima kasih," Yurika mengatupkan tangan di dada.
__ADS_1
Adskhan, Aiyla dan Harika menuju ruangan dimana Juno di rawat. Hanya ada keheningan di antara mereka sepanjang ruang perawatan Juno. Beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai dan langsung membuka pintu. Membuat suster yang berjaga terkejut, apalagi Juno yang sudah sadar sepenuhnya. Dia menatap ke arah pintu dan melihat siapa yang datang.
Juno tersenyum miring menatap kedatangan orang tua Alma. Namun, saat melihat Aiyla dia menjadi benci seketika.
"Pembunuh," desis Juno, dia terbawa suasana akibat memimpikan Alma.
"Untuk apa kalian datang, ke sini? Saya tidak butuh belas kasih dari kalian." Cetus Juno dengan pelan.
"Saya tidak berbelas kasih pada anda, anda sudah hampir mencelakai putri saya."
"Aiyla bukan putri anda satu-satunya, masih ada Alma." Sela Juno, yang tak terima jika Alma tak dianggap anak oleh Adskhan.
"Siapa?" tanya Adskhan, Aiyla dan Harika hanya menyimak pembicaraan dua orang lelaki tersebut.
"Almaira." Jawab Juno dengan lantang, membuat Adskhan tersenyum tipis.
"Alma bukan anak kandung saya, wajar jika kasih sayang saya pada kedua putri saya berbeda." Ungkap Adskhan membuat Juno terkejut, Juno tak percaya begitu saja dengan ucapan Adskhan.
"Terserah jika anda tidak percaya, bukan hak saya untuk menjelaskan pada orang asing. Saya hanya ingin memberitahu anda, bahwa proses hukum tetap berjalan. Walau anda mengenal putri saya Alma," papar Adskhan, tanpa kata meninggalkan ruangan Juno.
Setelah kepergian Adskhan, Juno berteriak dengan keras. Membuat suster mundur lalu menangis kala teringat dengan Alma, walau Alma bukan anak Adskhan. Tapi perasaan, Juno untuk Alma tak akan berubah.
***
Apartemen Falisha.
Sementara itu, Falisha yang baru bangun dari tidurnya mengerjapkan matanya. Kepalanya sangat berat, karena dia tidur terlalu lama dan saat bangun dia bingung mengapa ada di kamar?
"Aduh, kepala gue." Falisha menggeleng, berusaha mengusir rasa pusingnya.
"Kamila, Mila." Panggil Falisha, dia yakin dua sahabatnya itu masih ada di apartemen.
"Kemana mereka? Kamila, Mila. Kalian dimana?" pekik Falisha, lagi-lagi tak ada jawaban dari luar.
"Astaga, kemana mereka." Gumamnya, Falisha memutuskan untuk keluar dari kamar dan mencari dua sahabatnya tersebut.
Bukannya bertemu dengan Kamila dan Mila, dia malah melihat Bara yang sedang sibuk dengan laptopnya.
"Ka-Kak Bara," cicit Falisha, jika Bara tau dia mabuk. Maka habislah dia.
__ADS_1
"Kak," panggil Falisha dengan lirih.
"Sudah sadar kamu, berapa botol yang kamu habiskan. Hem?" tanya Bara, tanpa mengalihkan perhatiannya.
"Kak itu anu aku ... Aku, aku gak minum kok kak." Elak Falisha, membuat Bara menghentikan pekerjaannya dan menatap sang adik dengan lekat.
"Kamu yakin?" Falisha mengangguk dengan cepat, lalu Bara melemparkan foto Falisha dengan Rendy.
"Lalu apa kamu, bisa jelaskan itu?"
Jika mabuk mungkin Bara tak akan mempermasalahkan, tapi menurut orang-orangnya. Falisha melakukan rencana penculikan, dia meminta bantuan pada salah satu anggota geng motor bernama Mamba.
"Kak, aku ... Aku bisa jelaskan semuanya kakak. Aku mohon, jangan beritahu Papa," pinta Falisha dengan memelas, dia tak mau sang ayah mencabut semua fasilitas yang dinikmati selama ini.
"Jadi ... Benar, kamu terlibat Falisha?"
"Tidak kak, aku tidak terlibat. Itu hanya fitnah, kalau kakak tak percaya tanya saja pada Kamila dan Mila." Ucap Falisha, mencari Kamila dan Mila.
"Mereka sudah pulang," celetuk Bara, yang mengerti sang adik mencari apa. Falisha menunduk sangat takut, Bara menghukumnya lebih parah dari di penjara.
"Kak," lirih Falisha.
"Baiklah, kali ini kakak percaya. Tapi, jika semua itu terbukti benar. Maka siap-siap mendapatkan hukuman yang setimpal Fali." Ucap Bara, lalu pergi meninggalkan sang adik yang menghela nafas dengan lega.
Setidaknya dia mana dari amukan kakaknya, ya begitulah pikirannya.
***
Kembali ke Elang, saat Yurika melantunkan ayat suci di dekat sang anak. Terlihat pergerakan dari tangan Elang, Yurika yang melihat itu sangat bahagia. Bahkan dia langsung memanggil dokter, yang tak lama dokter langsung masuk dan melakukan pemeriksaan secara menyeluruh.
"Syukurlah, pasien sudah melewati masa kritis. Sekarang dia hanya perlu pemulihan yang cukup agak lama," kata dokter, di jawab anggukan oleh Yurika.
Dia tak sabar untuk memberi kabar pada sang suami, yang sedang ke kantin. Juga pada Salsa, yang merindukan Elang dan selalu bertanya bagaimana keadaan Elang.
"Mama yakin, kamu anak kuat."
Yurika mencium kening Elang, lalu membiarkan Elang untuk istirahat kembali.
Maaf typo
__ADS_1