
Persiapan pertunangan Aiyla dan Elang hampir selesai, pertunangan mereka diadakan di kampus Erlangga. Karena pertama kali Elang dan Aiyla bertemu di kampus tersebut, bahkan mereka tidak akan memakai gaun dan jas. Tapi akan memakai pakaian, saat mereka pertama bertemu.
"Semoga masih muat," gumam Aiyla, saat melihat pakaian saat dia kerja.
"Pasti muat lah, memang lo naik berapa kilo sih." Sahut Siska, Siska hampir setiap hari mengunjungi Aiyla di antara oleh Kevin. Mereka mulai dekat, dua hari setelah bertemu di rumah Aiyla.
Aiyla menyikut perut Siska, dan menatap sang sahabat yang meringis.
"Ehh bay the way, gimana hubungan lo sama Kevin? Sukses atau jalan di tempat?" tanya Aiyla.
Siska menghembuskan napasnya dengan pelan, dia duduk di tepi ranjang.
"Ya begitulah, dia belum nembak gue. Apa karena gue terlalu tua buatnya?" tanya Siska.
"Kevin sama Elang kan seumuran, terus gue tua dong!" ketus Aiyla, membuat Siska terkekeh.
"Nggak gitu konsepnya Aiyla sayang, maksud gue. Apa orang tua Kevin akan merestui gue yang di tas dia?" tanya Siska sedikit khawatir.
__ADS_1
"Lo jangan khawatir Sis, semua akan baik-baik aja. Lo percaya aja sama Kevin, dia anaknya baik." Kata Aiyla menepuk pundak sang sahabat.
Louis sudah mendapatkan undangan pertunangan dari Elang, dia menatap undangan tersebut dengan perasaan yang tak bisa dijelaskan. Dia ayahnya, tapi seperti orang asing bagi Elang.
Louis memutuskan untuk menemui Elang di ruangannya, mengapa lewat Megan? Mengapa tak langsung Elang mengatakannya, begitulah isi pikiran Louis.
"Elang," panggil Louis langsung membuka pintu, membuat Elang menatap sang ayah.
"Ada apa, Papa?" tanya Elang, Louis melemparkan kartu undangan berwarna merah marun.
"Kenapa Elang, kenapa kamu tidak memberitahukan aku. Hal sepenting ini? Aku masih ayahmu, Elang. Ayahmu," ucap Louis dengan penuh penekanan.
"Papa tanya, kenapa?" Louis hanya mengangguk, kini Elang sudah berdiri di hadapan Louis.
"Dimana saat aku membutuhkan kasih sayang, Papa? Dimana saat aku, membutuhkan sosok Ayah yang selalu melindungi aku, dari anak-anak jahat? Saat anak-anak lain, berlibur dengan kedua orang tuanya. Aku malah menatap mereka dengan perasaan yang tak bisa aku jelaskan, dan sekarang Papa bertanya mengapa aku tak memberitahukan Papa begitu?" tanya Elang, setelah menjelaskan panjang lebar.
"Elang, Papa..."
__ADS_1
"Cukup Pa, alasannya sangat sederhana dan simple. Aku ingin memberitahu Papa, tapi aku tidak mau terus menyakiti Mama. Selama ini Mama selalu hidup dalam kebencianku, setelah Mama menjelaskannya aku merasa bersalah sama Mama. Padahal Mama tidak melakukan tuduhan yang Papa buat," papar Elang, membuat Louis mematung dengan semua pemaparan sang anak.
"Papa dan keluarga baru Papa, datang sebagai tamu istimewa aku." Kata Elang, Elang mengatupkan tangannya di dada. Untuk pertama kalinya dia memohon, setelah dewasa pada Louis.
"Untuk kali ini, aku mohon Pa. Biarkan aku dan Mama bahagia," lirih Elang, Louis menatap Elang yang rapuh, kecewa dan juga rindu jadi satu.
"Baiklah, Papa mengerti. Maafkan Papa," ucap Louis, dia tak bisa berkata-kata kembali.
Terlalu banyak dosanya pada Yurika dan Elang, jadi dia tak akan membuat kekacauan dalam acara pesta pertunangan Elang dan Aiyla.
Louis keluar dari ruangan Elang, membuat Elang menghembuskan napasnya dengan pelan. Malam itu, saat Elang sangat sulit tidur. Tiba-tiba Yurika menghampirinya dan memeluknya dengan menangis. Yurika meminta maaf padanya, tak bisa memberikan keluarga yang utuh dan bahagia.
"Ciptakanlah, keluarga versi mu nak! Mama yakin, kamu pasti bisa jadi ayah yang baik." Pesan Yurika, dia membelai rambut Elang dengan sayang.
"Aku akan menciptakan, keluarga ku sendiri Ma. Jangan khawatir, aku tidak akan seperti Papa."
Yurika hanya tersenyum, cukuplah dia tak menjelekan Louis pada Elang. Karena sang anak tahu sendiri, bagaimana tabiat Louis.
__ADS_1
Bersambung...
Maaf typo 🙏