
Keesokan harinya, perusahaan Halime yang dipimpin oleh Elang mengakuisisi salah satu cabang yang dipegang oleh Kevin. Tempat dimana dulu Daffa bekerja, Elang dengan uang pribadi dan bantuan dari ketiga Ayahnya mampu mengambil alih perusahaan yang diberi nama Syailendra kini menjadi Elang Group.
Evan tak mengetahui itu semua, dia sibuk dengan istri kedua beserta anaknya. Dia hanya menikmati uang dari Ayahnya Eliza, sedangkan Leni dia menemui notaris untuk mengamankan harta miliknya yang kelak menjadi milik Kevin. Lalu mendaftarkan gugatan perceraian ke pengadilan agama.
"Thanks, Lang." Ucap Kevin.
"Sama-sama, gue akan coba jadi penanam saham terbesar di perusahaan yang bokap lo pimpin. Lo tenang saja, semua akan baik-baik saja," cetus Elang, dijawab anggukan oleh Kevin.
Kevin pun masih bekerja di perusahaan itu, dan kini bersama Daffa sebagai asisten dari Kevin.
Daffa melirik sinis Kevin, yang memasang wajah sok manis.
"Kalo bukan karena Elang, gue ogah jadi asisten lo." Ucap Daffa, membuat Kevin terkekeh lalu merangkul sahabatnya tersebut.
"Alah bilang aja lo, seneng kan? Ngaku aja, jangan jaim." Goda Kevin, Daffa mencebik lalu mendorong Kevin dan memulai pekerjaannya sebagai asisten.
Hari itu Elang rombak jajaran kepemimpinan, yang dianggap tidak becus dan menaikan jabatan mereka yang memiliki potensi, serta menurunkan jabatan bagi yang malas. Untuk yang korupsi jelas Elang pecat atau ganti rugi, tapi dia bekerja sebagai OB.
"Bersyukur Pak Elang, ambil alih perusahaan yang mau bangkrut," celetuk para wanita di toilet.
"Iya, dia juga langsung bayar gaji kita bulan lalu."
Mereka terus membicarakan Elang, tanpa sadar salah satu orang suruhan Evan sekaligus selingkuhannya juga mendengar tersebut. Namun, sejak kemarin lelaki itu sulit di hubungi.
"Ahh ... Sudahlah, biarkan saja dia tahu sendiri." Kesalnya, dia pun keluar dari salah satu bilik toilet dan mendapatkan tatapan dari semua orang.
"Apa lihat-lihat?" ketusnya.
"Ehh Mita, yakin posisi lo aman?" tanya rekannya yang lain.
"Amanlah, gue kan kesayangan Tuan Evan." Balasnya dengan pede.
__ADS_1
Mereka semua malah tertawa, bahkan ada juga yang mencibir dengan pelan.
"Pede banget lo ya, lo tahu. Perusahaan ini atas nama Pak Elang bukan Tuan Evan, bahkan Tuan Kevin saja masih diberi kesempatan kerja di perusahaan ini."
"Bodo amat, mau siapa pun itu. Yang jelas gue pastikan kalian bakal di pecat sama Tuan Evan, karena gak setia." Jawab Mita dengan tegas, lalu pergi begitu saja.
"Idih amit-amit si Mita,"
Leni menatap sedih rumah masa kecilnya, dulu dia bebas keluar masuk rumah tersebut. Tapi sekarang, jangankan masuk untuk menatap saja pasti dia dimarahi. Leni melihat rumah orang tuanya dari jarak jauh.
Tak lama pintu pagar terbuka, menatap mobil yang keluar yang sangat dia kenal.
"Lau," lirih Leni.
Dia pun pergi melajukan mobilnya, kemanapun dia mau.
"Kemana wanita tua, itu?" kesal Eliza, sebab sejak tadi dia menghubungi nomor Leni tak juga ada balasan.
***
Sementara itu, Siska kini yang mulai masuk bekerja di cafe milik Elang bersama Aiyla. Aiyla juga memperkenalkan pada karyawan mereka bahwa Siska yang akan membantunya, karena dirinya sedang hamil Aiyla juga memberikan bonus pada pegawainya dari Adskhan dan dirinya.
"Terima kasih Mbak, semoga anaknya sehat selalu dan lahir dengan selamat." Ujar salah satu pekerja bagian dapur.
Pegawai yang lain juga mendoakan kandungan Aiyla agar lancar sampai melahirkan, Aiyla senang karena kehamilannya membuat semua orang bahagia. Dia masuk ke dalam ruangannya, sementara Siska mulai mengawasi para pekerja di dapur, juga mencatat apa saja bahan yang habis.
Saat dia berdiri didepan meja kasir, tak sengaja Siska melihat Winda beserta teman-temannya. Siska langsung bersembunyi agar Winda, tak melaporkan pada sang Ayah.
"Astaga, kenapa dia ada disini?" gumamnya.
Beruntung Lala sudah kembali, jadi Siska bisa langsung ke ruangannya bersama Aiyla.
__ADS_1
"Kenapa Sis? Kaya lihat, setan aja." Kekeh Aiyla.
"Bukan sekedar setan, Ai. Lo tau gak? Apa yang gue lihat?"
"Apa memang?"
"Valak." Celetuk Siska, membuat Aiyla mengernyit.
"Valak?"
"Ya Valakor," kekehnya.
"Ada disini?"
"Ya, coba lo lihat CCTV."
Aiyla melihat CCTV dimana Winda dan teman-temannya, sedang mengobrol seru.
"Mungkin mereka, lagi arisan barang. Lihat aja ada yang ngeluarin berlian," cetus Aiyla, menunjuk berlian yang kini di atas meja.
"Dasar boros," cibir Siska.
"Sudahlah, ngapain lihat dia? Bikin sepet aja mata," ucap Aiyla.
"Lebih baik kita, lihat ini saja."
Aiyla membuka laptopnya, lalu mencari drama Korea kesukaannya. Semenjak menikah, Aiyla memang jarang nonton dia selalu menghabiskan waktu bersama Elang. Siska pun setuju, karena merasa sudah lama tak ngedrakor. Siska pun ingin menikmati kesehariannya bekerja di cafe milik Elang, sebelum dia menikah dengan laki-laki yang tak dia tahu sama sekali siapa? Jangan mengharap pada Kevin, karena dia akan jadi suami orang.
bersambung...
Maaf typo, jangan lupa vote ya guys juga kembang kopinya ☺️
__ADS_1