Elang Bersama Sayap Yang Patah

Elang Bersama Sayap Yang Patah
Bab.56


__ADS_3

Semua orang sudah terlelap, Kevin memutuskan untuk keluar rumah. Tadi saat dia akan pergi ke dapur, tak sengaja dia mendengar pertengkaran kedua orang tuanya. Dimana dia adalah anak dari hasil diluar nikah.


Dia memutuskan untuk tinggal di apartemen miliknya yang dulu, sebelum dia dijodohkan dengan Eliza.


"Gue makin yakin, untuk lepas dari perjodohan ini." Gumamnya, menatap foto keluarga yang berada diruang tengah apartemennya. Lalu dia banting agar hancur, merobek foto sang ayah dan hanya ada foto dirinya dan sang Ibu.


****


Keesokan harinya, Leni dan Evan bersikap biasa saja didepan semua orang menunjukan bahwa mereka baik-baik saja.


"Dimana Kevin?" tanya Evan.


"Tuan Kevin, sudah pergi sejak tadi. Tuan," ujar pelayan, yang memang selalu diajak kerja sama oleh Kevin sejak dulu.


Evan hanya menjawab singkat, sedangkan Leni tak merespon apa pun. Dia sudah biasa jika sang anak pergi pagi, pulang malam bahkan tak pulang sama sekali.


Sementara itu di kediaman Harika, Elang meminta Aiyla untuk berhenti bekerja dan meminta Siska yang mengelola cafe miliknya.


"Apa kamu, keberatan Sis?" tanya Elang menatap Siska, yang sedang menyantap sarapannya. Keluarga Adskhan memang terbiasa mengobrol dimeja makan.


"Enggak lah, malah gue beruntung karena gue jadi ada kerjaan. Seenggaknya gak jadi beban lo," kekehnya, dan mendapatkan tatapan tajam dari Aiyla.


"Lo bukan beban ya, lo itu sahabat gue Siska. Sahabat gue," tegas Aiyla.


"Iya, iya, sorry." 


"Benar kata Elang, sayang. Kamu harus berhenti bekerja diam di rumah saja mau di rumah Papa atau pun mertua mu tak masalah," sahut Adskhan.


Membuat Aiyla semakin cemberut, karena tak ada yang membelanya. Dia menatap Harika, yang memalingkan wajah.


"Hah baiklah, tapi nanti setelah usia kandunganku 4 bulan." Ucap Aiyla. "Lagian 'kan, ada Siska jadi Papa, Mama dan suami ku tersayang gak usah khawatir." Lanjut Aiyla, sebelum Elang dan Adskhan buka suara.


"Oke, setuju." Kata Elang, lalu dia menyelesaikan sarapan dan berpamitan pada sang istri juga mertuanya.


Tujuan Elang kali ini, adalah apartemen Kevin. Semalam Kevin sudah menceritakan semuanya lewat pesan, Elang juga meminta Raka, Reno dan Daffa pergi ke sana. 


Berpuluh menit kemudian, Elang sudah tiba di kawasan apartemen. Bertepatan dengan kedatangan Raka dan juga Falisha.

__ADS_1


"Udah kaya anak ayam, aja lo. Ikutin Raka kemanapun dia pergi," cibir Elang, membuat Falisha memutar bola mata malas.


"Serah gue dong," ketus Falisha, langsung memeluk lengan sang kekasih.


Tak lama Daffa dan Reno pun sampai, dan memanggil mereka untuk bersama ke atas.


"Sebenarnya, ada apa sih?" tanya Reno.


"Entah, sudahlah ayo cepat. Nanti kita telat masuk. Gue udah izin datang telat," ujar Raka.


Lima menit kemudian, mereka sudah sampai didepan unit Kevin. Saling pandang tak ada yang menekan bel atau mengetuk pintu.


"Ayo ketuk, malah pada diem." Omel Daffa.


"Lo aja deh!" balas Reno.


"Idih, ogah gue males!" Daffa melipat tangan di dada, mempersilahkan yang lain untuk menekan bel.


Falisha pun berdecak kesal, dan menekan bel dengan berkali-kali juga dengan gedoran di daun pintu. Membuat tetangga unit Kevin, terganggu dan mereka meminta maaf.


"Fali, lo bar-bar banget sih." Gerutu Daffa.


"Dobrak ajalah, udah." Usul Daffa sedikit jengkel, mood hari ini agak berantakan karena harus bertemu dengan Kevin.


Tak lama pintu terbuka, menampilkan Kevin yang acak-acakan. Membuat Raka menutup mata Falisha dengan tangannya.


"Kamu, kenapa sih Yang." Kesal Falisha.


"Takut kamu tergoda sayang," jawab Raka, Falisha melepaskan tangan Raka.


"Mana ada, tetap kamu yang tertampan." Ujarnya.


"Sudah-sudah masuk, enek gue dengernya." Cibir Reno, mendorong Daffa agar masuk lebih dulu karena Kevin sudah membuka lebar pintu apartemennya dengan lebar.


Semua sudah duduk di ruang santai, tempat mereka biasa berkumpul bermain game. Kevin menceritakan semuanya, dia ingin terbebas dari Evan dan hidup berdua dengan sang Ibu.


"Aku mohon, bantu aku." Pinta Kevin dengan lirih, membuat mereka semua saling pandang dan diam.

__ADS_1


"Seharusnya gue tegas sebagai cowok, tapi gue gak bisa. Apalagi Eliza selalu ngancem pake nama nyokap gue, gue gak bisa gue sayang nyokap gue." Cetus Kevin, dia terduduk dan menunduk dalam.


"Gue bakal bantu lo, Vin. Tenang aja," sahut Elang, dia memang sudah merencanakan semuanya. Kevin menatap Elang dan tersenyum tipis.


"Dan ada satu hal, yang harus lo tahu Vin. Tapi lo jangan emosi dulu," ucap Elang, dia mengirim laporan pada ponsel Kevin.


Kevin dengan segera membacanya, mengepalkan tangan menahan emosi. Laporan tentang Evan, yang menghabiskan uang perusahaan untuk bersenang-senang dengan selingkuhannya.


"Sialan!" umpatnya. "Selama ini, dia mengkhianati nyokap gue. Bajingan,"


"Sabar Vin, lo harus tenang. Jangan buat emosi lo bikin Om Evan bertindak lebih dulu," kata Elang, Daffa, Reno dan Raka yang membaca itu pun menggeleng tak percaya. Bahkan Kevin memiliki dua adik perempuan, berumur 15 tahun dan 10 tahun.


"Apa rencana lo?" tanya Kevin, dia buntu tak bisa berpikir apa pun.


Elang membisikan sesuatu pada Kevin, dijawab anggukan oleh lelaki tersebut. Yang lain akan membantu, saat pesta pernikahan nanti. Falisha pun akan mendekati Eliza, agar membatalkan pernikahan dengan Kevin. Kevin juga akan menjual, salah satu cabang milik Evan.


Satu yang pasti, Kevin akan menikahi Siska nanti bukan Eliza. Elang tersenyum miring, dengan rencana yang dia buat. Pada akhirnya mereka semua tak masuk bekerja, karena asyik bercerita dan menyusun rencana. 


***


"Semuanya sudah benar, Nyonya. Tuan Evan memiliki anak dari mantan kekasihnya yang sekarang jadi istrinya yang bernama Angel," lapor mata-mata Leni, membuat Leni yang melihat foto itu bergetar dan tak sanggup melihatnya.


Selama ini dia di khianati, cintanya sia-sia dan waktunya percuma hanya untuk satu lelaki.


"Aku bertahan dari mu, karena Kevin." Gumam Leni, mengepalkan tangannya.


"Lalu, apa lagi?


Sang mata-mata yang setia bersama Leni, memberitahu tentang apa saja yang dilakukan oleh suami dari majikannya tersebut. 


"Pantas dia tidak mau, mendatangi ku. Jadi, kamu puas diluar?" Air mata mengalir, menyisakan rasa sesak di dada.


"Beri pelajaran pada mereka, sita semua barang mewah yang suamiku berikan." Titah Leni dengan tegas, Leni melihat apa saja yang bisa dialihkan atas nama Kevin.


Leni memejamkan mata, sekelebat permintaan sang Ayah untuk melepaskan Evan terlintas. Dia menyesal tidak mendengarkan Ayahnya, seandainya waktu bisa diputar maka dia akan jujur pada Irfan dan akan menanggung sendiri kehamilannya. Itu semua, karena dia di butakan oleh cinta dan perlakuan manis dari Evan.


bersambung ..

__ADS_1


Maaf typo


__ADS_2