
Aiyla menatap Elang yang sedang merapikan barang bawaannya, sudah tiga hari Aiyla di rumah sakit. Dan hari ini dia sudah diizinkan untuk pulang, Aiyla sangat bersyukur karena calon anaknya sangat kuat. Sempat pendarahan. Namun, dokter menangani dengan cepat juga Aiyla yang banyak istirahat.
"Kenapa sayang?" tanya Elang, menghentikan gerakannya. Dia melihat Aiyla yang melamun dengan menatapnya intens.
"Aku minta maaf, sayang. Aku hampir membunuh anak kita," lirih Aiyla, sudah puluhan kali Aiyla mengucapkan kata maaf pada Elang jika sedang berdua.
Elang maju dan duduk di samping Aiyla, lalu mendekap dengan erat.
"Ini bukan salahmu, semua salah Evan. Papa sudah memberikannya pelajaran padanya, kamu tenang saja ya!" ujar Elang mencoba menenangkan Aiyla, Aiyla hanya bisa mengangguk dalam dekapan Elang.
"Sekarang kita pulang, kamu mau kerumah Mama Harika atau Mama Yurika?" tanya Elang.
"Kerumah Mama Harika aja, kasian Mama Yurika juga sedang hamil. Gak mungkin dia urusin aku," kekeh Aiyla. "disana juga ada, Siska."
"Ya sudah ayo, sudah selesai kok."
Aiyal mengangguk lalu turun dengan perlahan, Elang juga sudah menyiapkan kursi roda. Agar Aiyla tidak terlalu lelah berjalan.
Elang dijemput oleh supir pribadi yang dulu, selalu mengantar jemput Aiyla saat sekolah. Berpuluh menit kemudian, mereka sudah sampai Harika menunggu di halaman rumah menyambut sang anak.
Elang menuntun Aiyla dengan hati-hati, seolah Aiyla barang yang mudah retak.
"Sayang." Harika memeluk Aiyla dengan erat, dan mencium keningnya. Dan membawa masuk dimana semua orang sudah berkumpul.
"Tolong simpan, ke kamar langsung ya Pak." Pinta Elang.
"Baik mas."
Kevin menatap Elang dan juga Aiyla. "Lang, miss Aiyla. Aku minta maaf, atas perlakuan Papa pada miss Aiyla." Ungkap Kevin, Aiyla menggeleng menatap Kevin.
"Engga Vin, kamu gak perlu minta maaf. Kamu gak salah," sahut Aiyla. "dan juga jangan panggil aku, miss. Panggil saja Aiyla."
"Baik Aiyla, terima kasih."
"Vin, bisa bicara berdua saja?" tanya Elang, membuat semua yang ada di ruangan tersebut menoleh.
"Boleh, ayo."
"Di taman belakang," jawab Elang.
"Ehh ... Kalian, butuh ditemani tidak?" tanya Daffa, melihat hanya Elang dan Kevin. Daffa hanya takut mereka baku hantam saja.
"Tidak usah," balas Elang.
"Oke."
__ADS_1
Daffa menatap Elang dan Kevin yang mulai menjauh.
"Gimana, kalau mereka baku hantam?" bisik Daffa pada Reno.
"Ya enggak lah, gak mungkin Elang gitu. Elang udah anggap Kevin, saudara jadi lo jangan khawatir." Jawab Reno dengan berbisik pula, Daffa pun mengangguk saja.
***
Sementara itu, Eliza begitu menyesal telah melakukan itu dengan Alfa. Apalagi Alfa mengeluarkannya didalam.
"Gimana, kalau gue hamil?" gumam Eliza.
"Akhh ... Sial, kenapa lo harus bersikap jadi cewek murahan sih Eliza." Desisnya, dia bingung panik jadi satu.
"Tenang, lo harus tenang Eliza. Pikirkan apa yang harus lo lakukan, jangan sampai Kevin tahu."
Eliza menatap Alfa yang terlelap di sampingnya, hari sudah mulai beranjak siang. Tapi Eliza masih setia, dia hotel tempatnya menghabiskan malam dengan Alfa.
***
Elang meminta izin pada Aiyla, untuk pergi sebentar bersama yang lain. Aiyla pun mengizinkan, karena di rumah ada Siska dan Harika. Sedangkan Yurika sudah pulang, karena lelah dia selalu ingin berbaring di kasur kesayangannya.
"Aku gak akan lama," kata Elang, mencium kening dengan lembut.
"Iya, hati-hati jangan melakukan hal yang aneh," ujar Aiyla, Elang mengangguk sebagai jawaban.
Sementara Reno, Daffa dan Raka memantau dari luar.
"Tuan Kevin, Pak Elang." Sapa Hilmi.
"Dimana dia?" tanya Elang langsung.
Hilmi menelan ludahnya dengan kasar, dia begitu ciut dengan hanya tatapan tajam Elang. Apalagi suaranya yang sangat dingin.
"Tuan Evan, dia ... Dia, tak masuk." Jujur Hilmi.
"Heh, baru segitu sudah lemah. Payah!" Hina Elang.
Elang memasuki ruangan direktur utama, dia menatap nama Evan disana. Lalu menyingkirkannya, mengganti dengan nama dirinya.
"Lo ikhlas gak, Vin?" tanya Elang.
"Ikhlas lah, lagian gue juga udah mulai merintis usaha gue sendiri." Ungkap Kevin, dia mulai membantu Elang membereskan semua barang-barang sang Ayah.
Elang menepuk pundak Kevin, dan berkata. "Jika butuh, apa-apa kasih tau gue. Oke!"
__ADS_1
"Siap, lo tenang aja."
Elang pun meminta Daffa, Reno dan Raka naik. Untuk membantunya membereskan ruangan tersebut.
Evan sendiri di sedang dirumah Angel, karena tak ada yang mengurus. Mengingat Leni, sudah mengajukan perceraian.
"Setuju aja kali, mas." Kata Angel.
"Tidak bisa, aku butuh dia." Tolak Evan.
Angel berhenti mengurus sang suami, dan menatapnya tajam.
"Lalu, aku akan dijadikan cadangan begitu? Kamu akan terus menyembunyikan aku dan anak-anakku? Berapa tahun lagi, Evan?" geram Angel, dia bosan menjadi yang kedua maunya yang pertama.
"Atau sampai anak-anak kita, menikah?" tanya Angel, karena Evan hanya diam saja.
"Awalnya kamu milikku, Evan. Dan kamu melakukan taruhan dan terjebak dengan rencana gila mu sendiri," desis Angel dengan perasaan kesal dan marah.
"Sudahlah, percuma bicara sama kamu. Cape aku, lebih baik kamu pergi ke istri kamu." Angel mengusir Evan, yang hanya diam ditempat. Seperti orang linglung, dengan keadaan sekitar. Dia tak mau menceriakan Leni, karena mungkin sudah memiliki rasa. Leni baik, dia bisa memanfaatkan sang istri.
"Astaga, Tuan Evan tidak bisa dihubungi. Bagaimana ini, mbok?" tanya pelayan, yang baru bekerja satu bulan di kediaman Leni.
"Kamu tenang aja Rin, sabar." Katanya menenangkan.
Setelah orang-orang berbadan besar itu pergi, pak satpam menghampiri dapur. Dan meminta semua orang pergi dari rumah ini.
"Apa kita dipecat?" tanya Cucum.
"Nggak, kita dikasih jatah liburan sama Mas Kevin." Sahut pelayan yang selalu membantu Kevin dan Leni, bernama Fatia."
"Serius?" timpal Riri.
"Iya, ini aku punya tiket kita liburan. Bersama masing-masing keluarga kita, bagaimana?" tanya Fatia, membuat semua orang tersenyum antusias dengan semangat mereka menerima tiket dari Fathia. Yang diam-diam tersenyum, berhasil melakukan rencana Kevin dan Elang.
"Aduh mas Kevin, lope lope sekebon deh pokoknya." Kekeh Cucum, apalagi mereka dikasih liburan selama tiga hari di Jakarta.
"Bagaimana Fatia? Mereka mau?"
"Sudah aman mas, mereka sudah mulai membereskan baju-baju untuk pergi berlibur." Tutur Fatia, Kevin pun mengangguk dia juga meminta Fatia ikut bersama yang lain. Dan mengajak seluruh keluarganya.
"Makasih mas, sampaikan salam ku sama mas Elang." Katanya, Kevin hanya mengangguk saja.
"Maafkan aku Pa, ini semua karena Papa mengkhianati Ibu." Gumam Kevin, menatap foto keluarganya yang di pajang oleh Evan. Kevin membawanya dan akan menaruhnya di laci, tapi dia terkejut dengan foto keluarga Evan dengan yang lainnya.
"Saat aku meminta waktumu, tapi kamu malah bersenang-senang dengan anak yang lain." Lirih Kevin, dengan batin yang perih. Evan hanya bersikap baik jika ada maunya saja. Kevin selalu berpura-pura, memiliki keluarga yang harmonis dan tanpa masalah.
__ADS_1
Bersambung ...
Maaf typo, jangan lupa vote, kembang kopinya ya guys makasih 💙