
Kevin duduk termenung di taman belakang, dia menatap nanar foto Evan dengan istri keduanya. Tak bisa dia bayangkan, bagaimana perasaan sang Ibu jika melihat foto tersebut.
Ingatannya kembali hadir, saat dia berusia lima tahun. Dia ingin merayakan ulang tahun di salah satu, tempat makan cepat saji. Namun, Evan berkata bahwa dia sibuk dan tak memiliki uang. Tapi Leni, memberikan apa yang Kevin inginkan.
Ponselnya berdering, membuyarkan lamunan Kevin. Dia menatap nama yang paling ingin dia hindari. Siapa lagi kalau bukan, Eliza.
"Huh, mau apa dia?" gumamnya, terpaksa dia mengangkat panggilan Eliza.
"Ada apa?" tanya Kevin, mungkin terdengar dingin ditelinga Eliza. Dia pun tak peduli.
"Kamu dimana, sayang?" bukannya menjawab, Eliza malah balik bertanya.
"Bukan urusan mu, Eliza. Cepat jawab ada apa?"
"Jangan galak gitu dong, aku cuma kangen aja sama kamu. Pengen ketemu," katanya dengan nada manja, membuat Kevin jijik.
"Di rumah," jawab Kevin pada akhirnya.
"Aku kesana, yah!"
"Tidak usah, biar aku ketempat mu." Sela Kevin, membuat Eliza tersenyum senang di sebrang telepon.
"Baiklah, aku tunggu." Balas Eliza, bersorak gembira dan menatap botol berisi cairan yang akan membuat Kevin menikah dengannya.
****
__ADS_1
"Kevin gak kesini?" tanya Elang, yang baru turun. Mereka kini berkumpul di rumah Harika, beruntung ada gazebo di halaman belakang.
"Nggak, katanya dia ada urusan." Sahut Reno.
"Sudahlah, kita main aja gas." Kata Raka.
"Oke, gue mulai duluan." Seru Daffa.
Mereka bermain truth or dare, hanya untuk seru-seruan karena sudah lama mereka tak melakukan game tersebut. Maunya main game jailangkung, tapi mereka cukup penakut apalagi Daffa.
Aiyla memperhatikan Siska yang sedang melamun.
"Lo, kenapa Sis?" tanya Aiyla, membuat Siska terkejut.
"Gue ... Gue gak papa, Ai. Tapi, entahlah perasaan gue gak enak." Ungkap Siska. "gue, kepikiran Kevin."
"Belum ngasih gue kabar," jawabnya acuh.
"Positif thinking aja Sis, Elang bilang. Kevin lagi beresin rumah ortunya," ujar Aiyla, mencoba menenangkan Siska walau dia pun tak yakin.
Siska pun mengangguk, Aiyla dan Siska mendengar suara riuh dari arah taman belakang.
Kembali ke Kevin, dia sudah sampai di apartemen Eliza. Tanpa curiga dia masuk dan duduk dengan santai, ada yang berbeda dari tampilan Eliza. Walau selama ini, dia selalu melihat Eliza yang memakai pakaian minim. Tapi kali ini, dia mengenakan lingerie berwarna merah merona. Menampilkan setiap lekuk tubuhnya.
"Astaga, apa-apaan dia ini?" batin Kevin, menelan ludah dengan kasar.
__ADS_1
"Santai saja, sayang. Kamu akan melihat aku setiap hari seperti ini, jika sudah menikah," cetus Eliza, tersenyum manis duduk disebelah Kevin yang menjauh dari Eliza.
"El, jangan dekat-dekat. Aku risih!" ucap Kevin dengan tegas, dia berusaha untuk tak membentak Eliza.
"Kenapa? Bukannya, semua lelaki suka yang seperti ini?" bisiknya manja, membuat Kevin meremang.
"Ya Tuhan, lindungi aku dari godaan setan yang terkutuk." Doa Kevin dalam hati.
Eliza mengusap pundak dan dada Kevin, lalu turun ke bawah ke perut kotak-kotaknya.
"Eliza," desis Kevin.
"Kenapa sayang? Kamu maukah?"
"Eliza menjauh," bentak Kevin, dengan menatap tajam Eliza. Dia melepaskan jaket miliknya, dan memberikan pada Eliza.
"Jangan jadi wanita murahan, Eliza." Ucap Kevin dengan dingin. Namun, bukan Eliza namanya jika pantang menyerah.
Eliza meminta Kevin minum, karena semua adalah buatannya. Kevin menghargai usaha Eliza, dia meminum minuman dingin yang tanpa dia tahu sudah dicampur sesuatu.
Eliza menyeringai puas, saat Kevin meminum minumannya. Dan tunggu hasilnya.
"Maafkan aku Kevin, tapi aku tidak mau. Menikah dengan orang miskin!" Hina Eliza.
bersambung...
__ADS_1
Maaf typo