
Elang, Daffa, Reno dan Raka, mereka berkumpul di cafe milik Elang setelah pulang bekerja. Sengaja agar mereka pulang tak terlalu malam.
"Gue cape Elang, lo sih enak. Yang punya perusahaan mertua lo," cetus Daffa.
"Ya kali gue pulang larut, kasian Aiyla." Elaknya.
"Halah, bohong lo. Bilang aja mau ***-*** kalo malam."
"Nah lo itu tahu," kekeh Elang, membuat Daffa mendelik dan menyeruput kopinya. Beruntung Elang menggratiskan makanan dan minuman mereka.
"Kevin jarang kumpul, gue chat dia aja jarang di balas." Beritahu Raka, tentang Kevin yang sudah jarang bersama mereka.
"Apa dia, ada masalah?" tanya Reno.
"Menurut gosip, perusahaan bokapnya Kevin terlilit utang di pinjol gitu." Sahut Daffa, yang memang tahu karena dia bekerja di cabang perusahaan Kevin.
"Masa sih? Kok bisa, sampe pinjem pinjol gitu?" tanya Elang, tak habis pikir. Bagaimana bisa sekelas perusahaan Syailendra memiliki hutang di pinjol.
"Menurut gosip juga, om Evan, memiliki simpanan." Bisik Daffa, sudah seperti emak-emak kompleks.
"Jangan fitnah lo," seru Reno. "Masa iya, om Evan punya simpanan. Kurang cantik apa lagi coba tante Leni?"
"Mau cantik atau jelek, yang namanya cowok yang hanya mengandalkan nafsu. Gak akan cukup hanya satu, percaya deh sama gue. Gue yakin, om Evan punya banyak simpanan," pungkas Reno, membuat teman-temannya terdiam dan membenarkan ucapan Reno.
Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing.
"Guys," panggil Daffa.
"Kenapa lo?" tanya Reno.
"Gaji gue belum turun," ujar Daffa, memperlihatkan chat dari grup kantornya.
"Berarti benar, perusahaan om Evan sedang bermasalah." Sahut Raka.
"Kita temui Kevin, gimana?" usul Elang.
"Ayolah, gue juga mau minta kejelasan tentang bayaran gue." Kata Daffa, mereka bersiap dan meninggalkan cafe.
Berpuluh menit kemudian, mereka tiba di kediaman Kevin. Yang tampak ramai, Elang dan yang lainnya saling pandang.
"Kayanya, ada acara deh."
"Sudahlah, ayo masuk." Ajak Elang, mereka memarkirkan motor tak jauh dari depan rumah Kevin.
__ADS_1
Satpam pun langsung mencegat mereka masuk.
"Kalian mau kemana?" tanya pak satpam.
"Kita mau ketemu, Kevin. Kami sahabatnya," jelas Raka.
"Maaf mas-mas, gak bisa kalian gak bisa masuk. Jika gak ada janji," dengan tegas satpam rumah Kevin menolak, memasukan mereka walau si satpam tahu. Bahwa mereka adalah sahabatnya Kevin.
"Pak buka pintunya, atau ...." Elang menatap tajam satpam tersebut, membuat nyalinya seketika menciut.
"Gue dobrak pagar ini, sampai hancur." Bisik Elang.
"Jangan buka Pak," pekik Leni, dari ambang pintu di sampingnya ada Eliza yang tersenyum sinis menatap sahabat Kevin tersebut.
"Jangan buka, saya perintahkan jangan buka pintu untuk mereka. Mereka membawa pengaruh buruk untuk anak saya," jelas Leni, menatap Elang dan yang lainnya.
"Tante, kok ngomong gitu sih!" Daffa tak terima, jika dirinya dan yang lain membawa pengaruh buruk bagi Kevin.
"Saya bicara soal fakta Daf, Elang adalah anak korban perceraian. Maka jelas dia tak dapat didikan dari ayahnya," cetus Leni, membuat Elang mengepalkan tangannya.
"Jaga bicara anda, Nyonya. Sebelum saya bertindak jauh," tutur Elang dengan dingin, tak lama Kevin keluar dengan raut wajah tak enak menatap sahabat-sahabatnya.
"Vin, biarin kita masuk." Pinta Daffa.
"Sorry Daf, gue gak bisa izinin kalian semua masuk. Keluarga gue sedang berkumpul," kata Kevin, membuat Daffa kecewa.
"Persahabatan kita sampai disini saja, gue udah gak butuh kalian." Jujur Kevin memejamkan mata sejenak, lalu menatap Elang yang berwajah datar.
"Lebih baik, kalian pergi saja." Usir Kevin, lalu meninggalkan halaman depan. Membuat Leni tersenyum sinis.
"Dengar, kalian sudah diusir jadi ... Lebih baik kalian pergi saja, daripada membuang waktu." Ujar Leni. "Ayo El," ajaknya, dia menutup pintu dengan rapat sebelum masuk. Leni meminta pada satpam untuk mengusir Elang dan memastikan mereka gak kembali.
"Sialan si Kevin," geram Daffa.
"Ayo kita pergi," ajak Raka.
Elang menatap ke arah kamar, dimana Kevin juga melihatnya. Elang melihat, Kevin menggeleng lalu masuk kedalam kamar. Elang tahu, ada yang tak beres pada Kevin.
Kevin termenung didalam kamar, dia sendiri tak akan ada yang membantu dirinya lagi. Seandainya sang ayah mau mendengarkan dirinya, untuk meminta bantuan pada Adskhan. Entah mengapa selalu saja ada, yang menangis hutan ke rumahnya. Padahal keluarga Eliza, sudah membayar sebagian ke bank.
***
"Sayang." Aiyla menyambut Elang, dengan manja dan memeluk sang suami dengan erat.
__ADS_1
"Kangen loh!" rengek Aiyla, membuat Elang tersenyum tipis dan mencium kening Aiyla.
"Aku juga, ayo masuk. Sudah makan?" tanya Elang.
"Belum sengaja, aku nungguin kamu. Habis dari mana dulu?"
"Cafe, berkumpul sama anak-anak." Jawab Elang, Aiyla pun mengangguk sebagai jawaban.
"Aku mandi dulu, setelah itu kita makan di rumah Mama Yurika." Kata Elang.
"Oke," sahut Aiyla.
Awalnya Aiyla ingin bertanya tentang Siska, tak sabar rasanya dia ingin bertemu dengan sahabatnya tersebut. Namun, entah mengapa tadi dia melihat aura Elang, yang terlihat marah dan dingin.
"Pasti ada masalah," gumam Aiyla.
Dengan sabar Aiyla menunggu Elang, sambil menyiapkan makan malam untuk Elang ke dalam piring. Sepuluh menit kemudian, Elang sudah selesai lalu dengan kaos santai juga celana selutut membuatnya semakin tampan.
Aiyla menatap Elang yang sedang menikmati makanan buatannya dengan lahap, ditatap intens oleh Aiyla membuat Elang menoleh dan tersenyum tipis.
"Sudahlah, aku memang tampan." Goda Elang.
"Apaan sih kamu," jawab Aiyla dengan malu-malu dan merona.
"Pasti ada maunya," kekehnya.
"Kok tahu sih."
"Tau lah, bahkan luar dalam sudah tahu." Goda Elang, membuat Aiyla mencebik.
"Kapan aku bertemu, Siska?" tanya Aiyla.
"Aku kan janji, minggu depan sayang. Setelah ketahuan kamu hamil atau tidak?" jelas Elang, Aiyla menggeleng dia tak setuju harus memanfaatkan kebaikan orang lain.
"Engga, lain kali saja. Aku mau ketemu Siska."
"Sayang ...
"Elang, iya atau tidak?" tanya Aiyla.
"Hah ... Baiklah ya sudah, minggu depan kita pergi menemui Siska." Putus Elang, membuat Aiyla tersenyum lebar.
"Makasih sayang," ucap Aiyla sedikit manja.
__ADS_1
Bersambung ...
Maaf typo ya 🙏